Headlines
Loading...
Bunga-Bunga Ramadhan : Ramadhan itu Panas! (bag-2)

Bunga-Bunga Ramadhan : Ramadhan itu Panas! (bag-2)


ARRAHMAH.CO.ID -
Di bulan Ramadhan, seolah semua jenis kuliner keluar menampakkan diri. Jika itu di perkotaan maklum saja, tetapi jika muncul di meja makan sendiri di perdesaan tentu itu hal special. Rendang, opor ayam, sop kepala kakap, sate meranggi, ikan bakar, kari, Tengiri kuah asam, dan lainnya, tiba-tiba saja mudah muncul di meja makan. Apalagi dalam kebiasaan masyarakat urban, perkara mengadakan makanan yang “rada aneh” tentu bukan hal sulit. Mereka tinggal datang ke pasar serba ada, lalu memasaknya di dapur. Atau jika tak mau repot, tinggal mendatangi ke resto atau warung makan yang menyediakannya. Meski di masa pandemi ini tentu itu masih dibatasi sehingga sulit, kecuali dimasak sendiri di dapur sendiri.

Dilihat dari seluk-beluk kuliner, masyarakat nusantara punya selera tinggi dan ragam rasa. Tentu ini karena kekayaan rempah, yang zaman dulu juga disebut Palappa, begitu melimpah. Sehingga kemampuan mengolah “testa rasa” dari rempah ini dianggap sebagai keahlian tersendiri. Di keraton-keraton seperti di Hadiningrat Ngayogyakarta, juru masak adalah ahli yang menempati kedudukan tersendiri dalam dunia pelayanan “abdi dalem” ke keluarga Sulthan era kolonial. Tetapi, anehnya di daerah-daerah dimana kekuasaan kesultanan di kepulauan rempah Maluku, justru masakan-masakan tidak menggunakan rempah seperti pala dan cengkih, dimana dua barang ini berasal. Kemahiran mengolah ragam rempah menjadi olahan pangan super enak ini, jika kembali baca sejarah emperium Majapahit, menjadi satu pelatuk bagi Mahapatih Gajah Mada untuk bersumpah Amukti Palappa: bersumpah tidak mau makan enak-enak, alias berpuasa, sebelum menyatukan nusantara di bawah payung kekuasaan Majapahit.

Lebih fenomenal lagi, hanya di bulan Ramadhan Timun Suri yang warnanya kuning kemuning menggoda bermunculan di pinggir-pinggir jalan atau lapak buah. Padahal secara lughowi “Ramadhan” itu artinya “panas”, "kering" ya gersang, sebagaimana mustaq (berakar kata) dari ramadh. Mungkin karena di bulan ini diwajibkan berpuasa—tidak makan, minum, dan senggama siang hari—maka tubuh terasa panas kepanasan. Nafsu terkekang api kelaparan (neraka lapar) [baca: https://www.arrahmah.co.id/2021/04/bunga-bungan-ramadhan-bag-1.html], dahaga sangat seolah menggorok leher. Badan jadi lemah lunglay, tak bertenaga. Tetapi demikianlah sebenarnya tujuan Shoum ini ialah untuk mendidik diri (nafsu). 

Dalam kitab “Risalah Ash Shiyam”, Ramadhan digambarkan sebagai “keadaan panas”. Puasa di bulan Ramadhan sendiri sebenarnya sudah disyariatkan (diwajibkan) pula ke beberapa kaum sebelumnya, yakni masyarakat Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Al Quran juga menjelaskan demikian (QS:2: 183). Dalam Risalah Ash Shiyam, dulu umat nashrani diwajibkan berpuasa di bulan Ramadhan yang jatuh pada musim panas. Karena beratnya berpuasa di puncak musim panas yang terik, akhirnya puasa digeser ke bulan lainnya. Walhasil, muncul fatwa di kalangan rahib mereka untuk menambahkan 10 hari lagi berpuasa karena kewajiban puasa 30 hari itu dipindah ke bulan lainnya. Ujungnya umat ini berpuasa selama 40 hari penuh. Tentu sangat memberatkan—hingga lama-kelamaan kemudian tradisi berpuasa 40 hari ini hilang, ditinggalkan dan puasa Ramadhan sendiri tak dikenali lagi di generasi sesudahnya. Padahal hanya beberapa hari saja (QS:2:183-184), yakni berpuasa 30 hari sebagaimana Bapak Adam a.s. telah mengawali puasa 30 hari [klik: Bag.1] sebagai pertobatan setelah keluar dari surga.

Ramadhan yang berarti “panas” rupanya memang untuk membakar dan “memanggang” nafsu agar ia tunduk dan kelak mencapai derajat “Muthma’innah”, “Radhiyah” dan “Mardhiyah”. Sehingga layak dan pantas memasuki surga (QS: 89:27-30).

Tetapi kenapa Ramadhan-nya umat Nabi Muhammad SAW, saat ini, tidak terasa “panas” ya; malah nafsu makan makin lahap ketika berbuka puasa?  Pemandangan adhem menggiur sepanjang jalan apalagi saat ngabuburit; timun suri kuning merona, jajanan takjil kolak pisang kolang-kaling, es pacar cina, cincau dingin, es campur 7rupa menjaja. Belum lagi minuman “soft-drink” kekinian seperti buble tea, boba, kopi cincau kapucino, thai-tea, yang jadi minuman gen-Millenial. Apakah ini keutamaan Ramadhan bagi umat Nabi Muhammad SAW? Padahal keutamaan Syahru Ramadhan ialah manakala semua kebaikan diganjar dan dilipatgandakan, semua doa mustajab, didengar dikabulkan, pintu-pintu surga dibuka lebar, semua pintu neraka dikunci, semua malaikat, arasy, kursi, dan mahluk bernyawa memohonkan ampunan bagi umat Nabi SAW (Durratun Nashihin; Al Majlis Al-awwal fi Fadilati Syahr Romadhon/ Majelis Pertama: Keterangan dalam Keutamaan Bulan Suci Ramadhan). (bersambung)[]

*). Alumni PPs Kyai Syarifuddin Wonorejo, Lumajang Jawa Timur.

0 Comments:

Cloud Hosting Indonesia