Dokter NU: Positif Covid-19 Bukanlah Aib
Loading...

ARRAHMAH.CO.ID

Jakarta,

Dokter Heri Munajib dari Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) menegaskan bahwa seseorang yang positif Covid-19 bukanlah sebuah aib. Persepsi sebagai aib ini mengakibatkan terjadinya pengucilan dari orang lain atau menutup-nutupi ketika seseorang meninggal karena Covid-19.

“Masih banyak masyarakat dari berbagai kalangan yang menganggap pasien dan orang yang positif Covid-19 adalah aib. Kemudian itu ditutup-tutupi. Akhirnya banyak yang berstatus orang tanpa gejala (OTG),” kata dokter Heri dihubungi dari Jakarta, Senin (13/7) malam. 

Loading...

Sekadar informasi, dokter Heri beberapa pekan lalu dikabarkan terjangkit Covid-19. Warganet di media sosial pun sontak membicarakan dirinya. Dalam sepekan hingga hari ini, doa untuk kesembuhannya pun mengalir deras.

Setelah agak sehat, dokter bertubuh tambun ini bercerita panjang lebar melalui akun Facebook-nya. Ia mengatakan, menjadi penderita Covid-19 bukanlah suatu aib. Justru penderita yang masuk kategori Orang Tanpa Gejala (OTG) seperti dirinya dan yang lain harus diberikan biar cepat sembuh.

“Bukan malah dikucilkan. Itu salah. Ya, saat ini saya adalah dokter sekaligus penderita Covid-19,” ungkap dokter kelahiran Gresik ini.

Heri bercerita, pada Rabu, 1 Juli 2020, ia seperti biasa menjalani rapid test yang ke-3. Ternyata, sore di hari yang sama dirinya mendapat kabar bahwa hasil rapid test-nya reaktif.

“Karena reaktif, dari Satgas Covid-19 Kelurahan Neurologi diminta untuk melapor ke Bagian. Karena pada Kamis, 2 Juli 2020, harus dilanjutkan proses Swab,” tutur Residen Ilmu Penyakit Syaraf Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini.

Keesokan harinya, Kamis (2/7) ia berangkat dari kediamannya di Gresik ke RS seperti biasa. “Banyak teman juga di sana ada yang sudah swab ke-3. Tapi ini adalah Swab pertamaku. Deg-degan pastilah. Apalagi seharian menunggu hasilnya seperti apa,” kisahnya.

Menurut informasi yang ia terima, pihak rumah sakit akan memberi kabar jika Swab-nya positif. Sebaliknya, jika Swab negatif, biasanya tidak ditelepon. Ia pun seharian berjaga-jaga di samping ponselnya. Pria yang gemar berkelakar ini pun harap-harap cemas menanti hasil Swab yang baru saja ia jalani.

“Istriku seharian penuh berusaha menenangkan hatiku. Bagaimana pun juga, ia paham suaminya biasanya lebih tegar untuk urusan apa saja. Akan tetapi, menghadapi penyakit yang lagi hits ini jelas tidak bisa menyembunyikan kegalauanku,” tulisnya.

Divonis positif

Hingga pukul 9 malam, lanjut dia, belum ada tanda-tanda ponselnya berbunyi tanda menerima panggilan dari laboratorium Patologi Klinik RS Dr Soetomo (RSDS). “Ndilalah jam 00.03 dini hari, Jumat, 3 Juli 2020, ada telp masuk dari laboratorium PK yang mengabarkan Swab-ku positif,” ujarnya.

Mak gedebug rasane ati koyok ditolak cewek atau nek luwih loro maneh koyo jatuh tekan tower Sutet. Rasane ambyar. (Rasanya hati bak ditolak perempuan, atau jika  lebih sakit seperti jatuh dari menara Sutet. Rasanya ambyar). Ya, meski saya dokter dan tahu resiko penyakit ini, tapi aku juga manusia. Rasa takut dan kecewa itu ada,” tuturnya.

Meski demikian, istri dr Heri tetap berusaha menenangkannya. Saat dini hari itu juga, ia tidur terpisah dari tiga anak dan istrinya. “Aku langsung tidur misah dari Trio N dan istriku. Aku pilih kamar pojok lantai 2 yang banyak ventilasi dan berhubungan dengan udara luar,” ungkapnya sedih.

Keesokan harinya, dr Heri bersiap menuju ke RS untuk mengambil hasil Swab dibantu rekan PPDS dilanjut kontrol ke poli Covid-19. “Dicek lab dan thorax, Alhamdulillah hasil normal. Kemudian mendapat obat, langsung pulang ke Gresik,” ujar pria yang melanjutkan Pendidikan Spesialis Neurologi di Unair ini.

Sepanjang perjalanan pulang, dr Heri sambil mendengarkan lantunan sholawatan via earphone di ponselnya, tak terasa air matanya mengalir deras sembari mulutnya komat-kamit membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. “Isine nangis thok (hanya mampu nangis), sambil moco sholawat marang Kanjeng Nabi (sambil baca shalawat kepada Kanjeng Nabi),” ujarnya terbata-bata.

Masih stabil

Hingga berita ini diturunkan, kondisi dr Heri tidak ada gejala yang berarti, suhu tubuh stabil dan saturasi oksigen cek perjam 98-99 sesuai saran Spv Saraf, dari dosen wali, KPS, Ketua Perdossi Surabaya mengharapkan dirinya diisolasi di rumah sakit.

“Istriku paling paham kondisi psikologis yang hancur bin ambyar gak karuan. Makanya, saya memutuskan untuk isolasi mandiri di rumah. Paling tidak, bisa dengar suara Trio N (Nanda, Nafi, Najah). Sebentar guyonan, sebentar kemudian tengkar. Meski tak bisa melihat langsung, namun sudah membuat hatiku marem (senang),” ujarnya.

 

dr Heri Munajib saat menunggu proses swab test. (Foto: dok. pribadi)

 

Hati senang, menurut dia, itu juga bisa menjadi obat karena akan berimbas kepada sistem imun tubuh. Di mana saat ini dalam tubuhnya juga sedang berperang dengan virus Covid-19. Maka dibutuhkan rasa nyaman dan pikiran yang positif serta psikologis yang matoh (mantap).

“Seharian isinya nangis. Apalagi ibuku bilang dari balik pintu, cepet sembuh ya cung, anakmu jek cilik-cilik. Ditelpon Mbah Yai via video call malah nangis sesenggukan. Duh, kenapa jadi secengeng ini,” curhatnya.

“Padahal ya gak biasane koyo ngene (biasanya nggak seperti ini). Jadi dokter setidaknya mengerti perjalanan penyakit ini. Apalagi dengan comorbid kegemukan bin obesitas resiko memberat penyakit dalam diriku jelas ada,” tulis alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang ini.

Ia menambahkan, beberapa kiai, bu nyai, para ning dan gus pun menyapa dirinya via WhatsApp sekadar tanya kabar. Sebagian mereka juga meminta izin untuk mendoakan dan mungkin dijadikan status di medsos meski risikonya tambah heboh.

“Para tetangga mulai yang dekat hingga yang nun jauh di dunia maya menawarkan bantuan, ‘yang saya bisa bantu apa dokter?’ Saya bingung mau minta tolong apa. Karena masih fase menenangkan hati. Setidaknya, bantu saya doa agar diberikan sehat wal afiat sehingga bisa menjalani fase isolasi mandiri. Terpenting, tidak jatuh dalam fase yang lebih berat seperti happy hipoxia,” harapnya.

Di akhir kisah, dr Heri mengaku tidak mengira banyak sekali kolega dan teman virtual yang banyak memberi atensi dan dukungan kepada dirinya. “Ternyata saya lebih nangis lagi karena yang ndungakno (mendoakan) ternyata banyak sekali. Aku ini siapa, wong ga pernah nolong mereka secara langsung. Isin (malu) malah merepotkan banyak orang.”

“Syukur alhamdulillah sampai hari ini tetap tidak ada gejala. Suhu tubuh dipantau juga bagus. Saturasi oksigen perifer juga bagus. Kami sekeluarga menghaturkan banyak terima kasih kepada teman semua. Saya tidak bisa membalas semua jasa njenengan,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, status curhat yang ditulis dr Heri di kediamannya di Gresik, Selasa (7/7) pekan lalu itu telah disukai oleh 2000 lebih warganet, 815 komentar, dan dibagikan 225 kali. 

Pewarta: Musthofa Asrori

Editor: Fathoni Ahmad

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.