Peran Global NU di Bawah Nakhoda KH Said Aqil Siroj
Loading...

ARRAHMAH.CO.ID

Pencapaian seorang manusia tidak terlepas dari rangkaian kehidupan yang telah dilalui. Hal itu dirasakan betul oleh KH Said Aqil Siroj. Kiai yang saat ini masih menakhodai Nahdlatul Ulama sebagai Ketua Umum PBNU sejak 2010 itu menekankan prinsip keberkahan dalam hidup manusia.

Keberkahan secara harfiyah adalah kebaikan yang berlangsung terus-menerus (kontinu). Hal itu direfleksikan Kiai Said bahwa keberkahan yang melingkupi kehidupan dirinya tidak terlepas dari ‘berkat’ yang ia peroleh dan dapatkan ketika mengikuti dan memimpin slametan, tahlilan, dan yasinan.

‘Berkat’ adalah hidangan yang biasa diperoleh seseorang sehabis mengikuti atau memimpin sebuah slametan. Itu didapatkan Kiai Said, baik ketika dirinya masih menjadi santri hingga saat beliau menjadi salah satu Pengasuh di Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Jawa Barat.

Loading...

“Saya sekarang bisa seperti ini karena ‘berkat’,” ujar KH Said Aqil Siroj mengungkapkan keberkahan hidup dari ‘berkat’ yang kerap ia makan. Tentu ‘berkat’ tidak lepas dari kehidupan santri dan masyarakat desa secara umum. Lebih daripada itu, Kiai Said sesungguhnya ingin menekankan kepada masyarakat bahwa tradisi dan budaya lokal harus terus diperkuat dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

‘Berkat’ itu membawa dirinya memimpin organisasi para kiai dan organisasi Islam terbesar di Indonesia yang mempunyai peran signifikan di tingkat global. Kiai Said sadar betul bahwa NU tidak hanya didirikan untuk merespon problem sosial-kemasyarakat dan kebangsaan, baik di tingkat nasional maupun internasional, tetapi juga memperkuat prinsip dan akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Penguatan Aswaja dilakukan oleh para kiai pesantren ketika merespon kebijakan Raja Saud untuk membatasi kebebasan bermazhab dan membongkar serta memindahkan makam Nabi Muhammad. Para kiai berinisiatif melakukan diplomasi dengan Raja Saud dengan membentuk Komite Hijaz sebagai perwakilan delegasi dalam pertemuan Muktamar Dunia Islam di Makkah. Komite ini terbentuk karena aspirasi para kiai pesantren tidak terakomodasi oleh kelompok Islam modernis-konservatif.

Peran global para kiai tersebut semakin dipahami oleh Kiai Said ketika dirinya justru menempuh studi selama 13 tahun di Arab Saudi. Negara yang menjadikan paham Wahabi sebagai mazhab negara. Puritanisme Wahabi dengan segala tradisi dan budayanya menyadarkan Kiai Said bahwa Indonesia sebagai sebuah bangsa lebih mampu berpikiran terbuka dan maju.

Di Makkah, untuk tetap menjaga sanad keilmuan dari para guru, Kiai Said pernah diajak KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sowan kepada Sayyid Alawi al-Maliki. Pertemuan tersebut menunjukkan ada keakraban dua ulama yang dikaguminya itu.

 

Hubungan akrab antara as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dengan Gus Dur karena kakeknya, as-Sayyid Abbas bin Abdul Aziz al-Maliki adalah guru dari kakeknya Gus Dur, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Pendiri NU.

Diceritakan bahwa Gus Dur yang waktu itu masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU ditemani oleh KH Said Aqil Siroj dan Ghofar Rahman. Sebagai ulama terkemuka, as-Sayyid Muhammad al-Maliki selalu dikunjungi oleh tamu dari berbagai negara.

 

Sewaktu Gus Dur datang ke kediamannya, di ruang tamu sudah banyak sekali orang yang mengantre. Begitu Gus Dur datang, ia langsung dipersilakan masuk. Bahkan diajak berbincang di kamar tidur pribadi as-Sayyid Muhammad, bukan di ruang tamu (ini merupakan suatu adat/kebiasaan yang biasanya dilakukan untuk menghormati tamu yang di istimewakan).

Oleh as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, Gus Dur dikasih kenang-kenangan dan sejumlah barang berharga sebagai tanda penghormatan. Dalam pertemuan tersebut, KH Said Aqil Siroj mengatakan, “Begitu hormatnya mereka berdua. Dan mereka bukan orang sembarangan.”

Dalam sebuah kesempatan, Gus Dur pernah memberikan testimoni singkat tentang sosok Kiai Said, “Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi.”

Dari interaksi intens dengan ulama-ulama yang masih mempunyai sanad dengan ulama-ulama Nusantara, Kiai Said tidak terpengaruh dengan ideologi Salafi Wahabi di Arab Saudi, tempatnya belajar hingga berhasil menggapai gelar doktor (S3) di Universitas Ummul Qurra Makkah.

“Saya belajar di Arab selama 13 tahun. Tetapi yang saya bawa bukan budayanya, tapi ilmunya,” kata Kiai Said di berbagai kesempatan. Ia mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia dan sarjana lulusan Timur Tengah agar tetap mempertahankan budaya adiluhung Indonesia. Dengan belajar ke luar negeri, jangan lantas berubah tampilan, apalagi berpikiran eksklusif (tertutup), radikal, dan ekstrem.

Sebab menurut Kiai Said yang pada 3 Juli 2020 tepat berusia 67 tahun (lahir di Cirebon, 3 Juli 1953), mindset tertutup dan radikal dalam beragama menjadikan seseorang selangkah demi selangkah terperosok ke dalam tindakan kejahatan teror. Para teroris dan ekstremis melegitimasi diri dengan balutan agama.

 

Mereka memperkuat agitasi dan propaganda teror dengan dalil-dalil agama yang diselewengkan. Dari kasus tersebut, meneguhkan prinsip akidah Islam yang baik dan benar melalui Aswaja perlu dipegang erat oleh masyarakat Islam di Indonesia.

“NU mempunyai prinsip tawasuth, moderat, tidak ekstrem, tidak radikal, tidak juga liberal,” tegas Kiai Said yang menjelaskan bahwa NU berusaha menerjemahkan umatan wasathan, umat tengah-tengah, moderat seperti yang disebut di dalam Al-Qur’an.

Prinsip moderat NU kini banyak dikampanyekan di level kebijakan negara, baik di tingkat nasional maupun global. Masyarakat dunia memahami bahwa kekacauan yang terjadi berupa kejahatan terorisme, rasisme, dan anarkisme yang terjadi akibat kurang memahami bahwa agama menekankan keseimbangan melalui prinsip umatan wasathan, umat moderat tersebut.

Prinsip itu terus dibawa nakhoda-nakhoda NU hingga kini Kiai Said untuk turut memberikan edukasi dan solusi atas segala konflik yang terjadi di dalam negeri maupun di luar negeri. Indonesia yang memiliki NU diperhitungkan dunia dan kerap dimintai bantuan untuk mendamaikan bangsa-bangsa yang terlibat konflik dan perang. Atau setidaknya, NU terus dan tetap menjaga agar kobaran api peperangan yang terjadi di Timur Tengah maupun bangsa lain tidak menjalar ke dalam negeri Indonesia.

NU juga menjaga ideologi bangsa dan negara dari terpaan dan rongrongan ideologi transnasional, ideologi impor yang dibawa oleh kelompok-kelompok tertentu. Sekali lagi atas atas nama dan simbol-simbol agama, kelompok-kelompok tersebut berupaya mengganti dasar negara Pancasila, mengganggu dan berupaya memecah belah keharmonisan bangsa yang majemuk ini.

Untuk itu, NU di bawah nakhoda Kiai Said mengampanyekan gagasan Islam Nusantara. Islam yang tetap merawat dan memegang teguh ajaran Islam yang baik dan benar seperti yang diajarkan Nabi Muhammad, para sahabat, dan para ulama dengan sanad keilmuan yang baik. Islam yang ramah dan sejuk, serta Islam yang penuh dengan kedamaian di tengah keberagaman.

Islam Nusantara ditegaskan oleh Kiai Said bukan gagasan yang bertujuan untuk menyempitkan ajaran Islam dan melokalisir Islam. Tetapi justru sebaliknya, dengan karakter ramah dan damai yang melekat pada diri umat Islam Indonesia dan bangsa Indonesia pada umumnya, Kiai Said ingin perdamaian dunia tercipta berangkat dari tradisi, budaya, dan nilai-nilai luhur bangsa Nusantara.

Meneruskan perjuangan para pendahulu di NU, Kiai Said juga getol mendorong kedaulatan rakyat Palestina. Karena meskipun sudah diakui PBB, rakyat Palestina kerap mendapat tindakan represif dari militer Israel. Palestina juga menghadapi aktivitas pendudukan atau penjajahan yang dilakukan Israel di berbagai wilayah. Terakhir di wilayah Tepi Barat yang akan dicaplok oleh Israel. NU dengan tegas mendesak Israel untuk membatalkan rencana aneksasi (pencaplokan) tersebut.

 

Fathoni Ahmad, Redaktur

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.