Sejarah Berhala di Sekitar Ka'bah dan Kehancurannya di Bulan Ramadhan
Loading...

ARRAHMAH.CO.ID

Pembangunan Ka’bah bermula dari migrasi Nabi Ibrahim dari Irak yang merupakan tanah kelahirannya. Pernikahannya dengan Sayyidah Sarah tidak dikaruniai seorang anak, sehingga beliau dihadiahi seorang budak bernama Sayyidah Hajar.

 

Dari Sayyidah Hajar lahirlah seorang anak bernama Ismail. Lalu Sayyidah Sarah memohon kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam beserta Sayyidah Hajar untuk berhijrah. Lalu mereka hijrah dan sampailah di sebuah tempat yang sangat gersang, tandus, kering kerontang.

Loading...

 

Setelah beberapa lama tinggal bersama keduanya, lalu Nabi Ibrahim meninggalkan mereka berdua untuk kembali ke Palestina menemui Sayyidah Sarah. Dan terjadilah kisah antara Sayyidah Hajar dan Nabi Ismail kecil sebagaimana diceritakan dalam sejarah Islam.

 

Dalam Tafsir at-Thabari di jelaskan bahwa Allah mengutus Malaikat untuk memberikan kabar kepada Sayyidah Hajar agar tidak khawatir, karena suatu saat Ibrahim akan kembali ke tempat tersebut (setelah peristiwa keluarnya air zam-zam, serta pencarian air oleh Hajar), dan sekembalinya nanti akan membuat sebuah rumah bersama anaknya Ismail, rumah inilah yang kemudian disebut dengan Ka’bah.

 

Setelah Ismail mencapai umur 30 tahun, dan ibunya Sayyidah Hajar mencapai umur 90 tahun, Nabi Ibrahim as datang ke Makkah. Dan misi kedatangannya yaitu melaksanakan perintah Allah untuk membangun Ka’bah. Ia pun menceritakan misinya tersebut kepada Ismail, sehingga keduanya memulai untuk membangun Ka’bah tersebut.

 

Ketika bangunan Ka’bah telah tinggi, Nabi Ismail membawa batu besar dari Jabal Qubais untuk ayahnya, Nabi Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim membangunnya dengan berdiri di atasnya. Batu itulah yang kelak dikenal dengan Maqam Ibrahim. Dalam banyak riwayat, tidak dijelaskan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun Ka’bah ini. Sebagai simbol pembangunan ini selesai, ditandailah dengan peletakan Hajar Aswad, setelah Nabi Ibrahim kembali ke Syam, sedangkan Nabi Ismail terus melanjutkan misi dakwahnya.

 

 

Kapan tempat ini beralih fungsi dari tempat peribadatan menjadi tempat-tempat bagi patung? Dalam kitab al-Ashnam karangan Ibnu Hisyam al-Kalbi dijelaskan bahwa Nabi Ismail melahirkan banyak keturunan, dan Makkah pun dipenuhi dengan keturunannya. Ketika ada sekumpulan orang yang kemudian kita kenal dengan sebuah masyarakat, maka akan terjadi interaksi atau hubungan sosial, kemudian dari banyaknya hubungan itu muncul juga banyak kepentingan, dan melahirkan banyak hal.

 

Dalam kitab tersebut muncul pula banyak peperangan, pertikaian, permusuhan sehingga dari mereka ada yang keluar dari daerah Makkah menuju berbagai tempat, ada pula yang membangun daerah-daerah baru. Dan mereka para penyembah berhala adalah mereka yang keluar dari Makkah dengan membawa batu suci yang diambil dari tanah haram, sebagai penghormatan (ta’dhim) serta sebagai pemujaan untuk tempat suci Makkah. Di mana pun mereka berada, mereka meletakkan batu tersebut dan mereka mengelilinginya (thawaf) untuk mengagungkannya dan sebagai rasa cinta kepada Ka’bah.

 

Di sisi lain, mereka yang berada di Makkah dan beberapa lainnya terus melanjutkan tradisi kakeknya dengan melakukan haji dan umrah sesuai dengan apa yang menjadi perintah.

 

Seiring berjalannya waktu, mereka lebih senang melakukan peribadatan sebagaimana kaum Nabi Nuh yang ingkar, yaitu menyembah patung, dan melupakan warisan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Sedangkan beberapa dari mereka, mengubah tradisi dengan tradisi baru, dan banyak yang tidak melakukan peribadatan sebagainaa Nabi Ibrahim. Atau mereka juga melakukan tawaf, haji, dan umrah tapi sudah banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.

 

Dan masih dijelaskan oleh Ibnu Hisyam dalam kitab al-Ashnam, bahwa orang yang pertama kali mengubah dan mengganti agama Ismail (misi kenabian dengan berbagai peribadatanya) adalah Amr bin Luhay bin Harishah ia yang meletakkan patung pertama kali dan menjadikan sesembahan.

 

Dalam banyak riwayat, Amr bin Luhay membawa berhala ini dari negeri Syam, yang ia dapatkan dari suku al-Amalik. Dan berhala yang ia bawa pada kemudian hari disebut Hubal. Menurut kayakinan suku al-Amalik dan Halbini yang mempengaruhi Amr bin Luhay, berhala-berhala yang berada di Syam tersebut dapat memberikan makan, menurunkan hujan, dan mendatangkan kebaikan lainnya, serta dapat menolak kerusakan.

 

Menurut Ibnu Hajar, Amr bin Luhay pula yang membuat dua patung bernama Nailah dan Asaf yang diagungkan oleh orang-orang yang thawaf pada masa itu.

 

Ada pula yang berpendapat bahwa Amr bin Luhay sakit parah, dan ada yang memberikan petunjuk jika penyakitnya ingin hilang hendaknya pergi ke suatu kolam (pemandian air hangat) di Balqa’ yang berada di Syam, kemudian Amr bin Luhay pergi ke tempat ini dan mandi di pemandian tersebut. Dan penyakitnya benar-benar hilang, yang kebetulan penduduk di tempat tersebut menyembah berhala. Amr bertanya kepada penduduk di tempat ini, “Ini apa?” Inilah yang memberi kita minum, dan ini pula yang dapat menolong kita dari gangguan musuh, kemudian Amr bin Luhay meminta benda-benda tersebut dan membawanya ke Makkah, dan oleh Amr bin Luhay benda-benda (berhala) itu kemudian diletakkan di Ka’bah. (Mu’jamul Alihah al-Arab qabla Islam).

 

Bulan Ramadhan menjadi akhir berhala-berhala di sekitar Ka’bah. Bangunan suci ini dikembalikan lagi sebagai tempat penyembahan kepada Allah.

 

Berhala-berhala yang begitu gagah mengelilingi Ka’bah pada akhirnya harus hancur berkeping-keping setelah Fathu Makkah. Sebanyak 360 berhala dengan berbagai nama dan jenisnya, dengan berbagai tugas dan fungsinya, pada 8 Hijriah bertepatan dengan 25 Ramadhan patung al-Uzza tergeletak di tanah, disusul dengan patung-patung lainnya. Hari itu Nabi Muhammad langsung menuju Masjid Haram dan menyalami Hajar Aswad, kemudian tawaf di Ka’bah yang dipenuhi berhala-berhala, sembari Nabi menghantam berhala demi berhala dengan tongkat untuk membersihkan Ka’bah serta Jazirah Arab dari berhala dan kemusyirikan. Kala itu Nabi bersama brigade-brigade andalada brigade Khalib bin Walid yang dikirim ke al-Uzzah, brigade Amr bin Ash ke Sawa’, dan Sa’ad bin Zaid ke Manah.

 

 

 

 

Halimi Zuhdy, penulis buku “Sejarah Haji dan Manasik”

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.