Isyarat Mimpi Para Ulama tentang Kemerdekaan Indonesia
Loading...

ARRAHMAH.CO.ID

KH Achmad Siddiq (lahir:1926, wafat:1991) merupakan salah satu orang yang pernah mengemban amanah sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tahun 1984-1991. Ia menjadi pemimpin tertinggi NU pasca KH Ali Maksum, sebelum KH Ali Yafie.

 

KH Achmad Siddiq pernah menjadi bintang ketika pagelaran Muktamar NU di Situbondo tahun 1984. Selain KH Abdurrahman Wahid, dan sejumlah kiai lain, KH Achmad Siddiq adalah di antara pelopor utama tentang pemantapan kembali pandangan NU atas penerimaan Pancasila sebagai ideologi dasar negara Indonesia.

Loading...

 

Suatu ketika KH Achmad Siddiq berceramah dalam acara haul Kiai Umar bin Arabi, Lasem. Kiai Achmad Siddiq mengatakan bahwa kemenangan umat Islam tidak harus atas jerih payahnya umat Islam itu sendiri. Terkadang Allah menganugerahi umat Islam sebuah kemenangan melalui jerih payah orang lain.

 

Sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia, kata Kiai Achmad Siddiq, para ulama sudah bermimpi terlebih dahulu. Dalam mimpi para ulama tersebut, mereka mendapatkan isyarat dibacakan ayat:

 

الم (١) غُلِبَتِ الرُّومُ (٢) فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ (٣) فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (٤) بِنَصْرِ اللهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (٥)

 

Artinya: “Alif lâm Mîm. Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.” (QS Ar-Rum: 1-5)

 

Ayat di atas mengisahkan, dahulu terdapat pertarungan besar antara kerajaan Romawi dan Persia. Kekaisaran Persia telah mengalahkan Romawi. Namun suatu saat nanti (dilihat dari waktu ayat ini diturunkan), giliran Romawi mengalahkan Persia. Secara kultur, umat Muslim lebih suka jika Romawi yang menang daripada Persia yang menang. Karena bagaimana pun juga, Romawi masih punya kitab suci. Mereka penganut Nasrani. Berbeda dengan orang-orang Persia yang kala itu sesembahannya berhala, ini jauh lebih buruk. Dalam Tafsir at-Thabari, Ibnu Ibbas mengatakan:

 

كان المسلمون يُحبون أن تغلب الرومُ أهل الكتاب، وكان المشركون يحبون أن يغلب أهل فارس؛ لأنهم أهل أوثان

 

Artinya: “Orang-orang Muslim lebih suka kalau Romawi yang menang karena Romawi adalah ahli kitab. Di sisi lain, orang-orang musyrik lebih suka kalau yang menang adalah Persia karena mereka sama-sama penyembah berhala. (At-Thabari, Jami’ul Bayan, [Muassasah ar-Risalah: 2000], juz 20, hal. 68)

 

Ketika yang menang Persia, Romawi kalah, orang-orang Muslim diejek oleh orang-orang kafir. Kekalahan Romawi yang notabene Nasrani dianggap kelemahan kelompok yang mengklaim mempunyai hubungan dengan langit. Hal ini menjadikan umat Islam sedikit galau. Kata orang-orang kafir:

 

إنكم أهل الكتاب، والنصارى أهل كتاب، ونحن أمِّيُّون، وقد ظهر إخواننا من أهل فارس على إخوانكم من أهل الكتاب، وإنكم إن قاتلتمونا لنظهرنّ عليكم

 

Artinya: “Kalian ini ahli kitab, orang-orang Nasrani juga ahli kitab. Kami (orang-orang kafir) merupakan orang ummi. Saudara-saudara kami dari Persia yang menang, mengalahkan saudara-saudara kalian yang ahli kitab itu. Jika kalian memerangi kami, kami akan tumpas kalian” (ibid, juz 20, hal. 69).

 

Abu Bakar mendapatkan informasi bahwa Persia dalam beberapa tahun lagi (bidl’i sinîn) akan dikalahkan oleh Romawi, Abu Bakar sangat bergembira. Ia kemudian keluar, menemui orang-orang kafir.

 

“Hai, apakah kalian sudah bangga teman-teman kalian (Persia) sudah mengalahkan teman-teman kami (Romawi)? Janganlah kalian berbangga diri terlebih dahulu! Allah tidak akan mengindahkan pandangan mata kalian. Demi Allah, Romawi pasti akan mengalahkan Persia. Saya sudah mendapatkan kabar dari Nabi kami Muhammad .” tegas Abu Bakar.

 

Mendengar kata-kata yang meluncur pedas dari Abu Bakar tersebut, Ubay bin Khalaf lalu tegak berdiri. Ia mengatakan “Wahai Abu Fudhail (Abu Bakar), engkau pasti bicara bohong.”

 

“Wah, kalau kamu lebih bohong, wahai musuh Allah,” timpal Abu Bakar.

 

“Ya sudah,” kata Ubay, “kita taruhan 10 unta saja. Kalau sampai Romawi bisa mengalahkan Persia, aku yang akan membayar 10 unta. Begitu pula sebaliknya kamu. Apabila Persia mengalahkan Romawi, kamu yang membayar 10 unta. Kita tunggu sampai tiga tahun siapa yang menang.”

 

Sehabis taruhan, Abu Bakar lalu menceritakan kejadian tersebut kepada Nabi. Kata Nabi:

 

مَا هَكذَا ذَكَرْتُ، إنَّما البِضْعُ ما بينَ الثَّلاثِ إلى التِّسْعِ، فَزَايِدْهُ فِي الخَطَرِ، ومادّه فِي الأجَلِ

 

Artinya: “Saya tidak menjelaskan demikian (tiga tahun). Yang dimaksud kata al-bidl’u itu antara tiga sampai sembilan. Sekarang tambahi taruhannya namun tambahi pula jatuh temponya!” (ibid, juz 20, hal. 70).

 

Mendapatkan perintah ini, Abu Bakar lalu menemui Ubay kembali.

 

“Hai Ubay, apakah kamu tidak akan menyesal?”

 

“Tidak,” tegas Ubay

 

“Begini, aku ingin taruhan kita dinaikkan, tapi jatuh temponya tidak hanya tiga tahun, tapi lebih dari itu, yaitu sembilan tahun. Kita taruhannya adalah 100 unta.”

 

“Oke, siap.”

 

Faktanya di kemudian hari sebagaimana yang sudah dijanjikan oleh Allah melalui ayat di atas, Romawi bisa mengalahkan Persia di tahun ke-7. Sebagian ulama mengatakan tahun ke-9 sejak ayat itu turun. Dengan kemenangan Romawi, umat Islam yang sebenarnya tidak terlibat dalam konflik, ikut merasakan kemenangan itu karena kemenangan ahli kitab (orang Nasrani) mengalahkan penyembah berhala.

 

Kejadian ini beriringan dengan kemenangan antara kaum Muslim yang berangkat dari Madinah bertempur dengan orang kafir dari Makkah, dimenangkan oleh umat Muslim, sedangkan Romawi mengalahkan Persia. Kejadian ini menjadikan persepsi masyarakat berubah, bahwa kekuatan langit itu ada. Walaupun orang Nasrani yang di kemudian hari banyak menyimpang—dengan adanya ajaran trinitas dan lain sebagainyanamun setidaknya ada nabi-nabi yang mereka akui dan mereka hormati. Ini sedikit lumayan daripada penyembah berhala.

 

Relevansi cerita pada ayat yang dimimpikan oleh para ulama di atas, ada penjelasan:

 

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (٤) بِنَصْرِ اللهِ…

 

Artinya: “Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah” (QS Ar-Rum: 4-5).

 

Ketika orang Romawi yang mempunyai kitab samawi bisa mengalahkan Persia yang tidak mempunyai kitab samawi, umat Islam ikut bergembira ria. Mereka tanpa harus berjibaku mengalahkan Persia, namun Persia bisa kalah dengan sendirinya berlawanan dengan Romawi.

 

Dengan begini, sebelum Indonesia merdeka, para ulama sebenarnya sudah memberikan ta’wil mimpi bahwa Indonesia tidak akan bisa mengalahkan Jepang yang menjajah Indonesia, tapi akan ada kemenangan dengan cara lain. Ternyata di kemudian hari, dengan meletusnya bom di Hiroshima dan Nagasaki oleh sekutu, Jepang menjadi kalah yang berakibat Jepang mundur dari medan jajah di Indonesia. Wallahu a’lam. (Ahmad Mundzir)

 

 

Tulisan ini dikembangkan dari ceramah KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dalam rangka haul KH Achmad Siddiq ke-30 di Pesanstren As-Shiddiqi Putra Talangsari, Jember, 22 Maret 2020

 

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.