Layani Kemanusiaan, Pesantren Motivasi Indonesia Terinspirasi Gus Dur
Loading...

ARRAHMAH.CO.ID

Bekasi,
Pesantren Motivasi Indonesia (PMI), Kampung Cinyosog, Burangkeng, Setu, Bekasi, dipilih sebagai lokasi terselenggaranya Haul Gus Dur ke-10 oleh Gusdurian Bekasi Raya, pada Sabtu (25/1). Dipilihnya PMI sebagai lokasi acara karena di pesantren itu terdapat kesamaan visi dengan beberapa pemikiran Gus Dur. Salah satunya adalah melayani kemanusiaan.

Hal ini dinyatakan pernyataan Pengasuh PMI KH Nurul Huda Haem. Menurutnya, pesantren yang baik adalah yang mampu melayani siapa pun yang datang ke pesantren, mulai guru, santri, hingga tamu. Kemudian dalam konsep pelayanan itulah, Pesantren Motivasi Indonesia berjumpa dengan pemikiran Gus Dur.

“Hanya karena melayani kemanusiaan, Gus Dur rela dicabik-cabik, di-bully, bahkan diancam akan dibunuh, dan direndahkan orang. Spirit pelayanan kemanusiaan beliau menginspirasi Pesantren Motivasi Indonesia untuk mendukung penuh kegiatan Haul Gus Dur,” kata Ayah Enha, sapaan akrab ulama muda Betawi ini.

Baca juga: Hadiri Haul, Nyai Sinta Nuriyah Sumringah Disambut Tradisi Palang Pintu

Loading...

Oleh sebab terinspirasi Gus Dur, PMI juga mengalami hal serupa, seperti perisakan (bullying) dan fitnah dari pihak yang tidak sependapat. Namun, Kiai Enha menganggap hal tersebut sangat biasa dalam sebuah perjuangan. 

“Pesantren ini sering di-bully dan difitnah. Apalagi kalau sudah dikaitkan dengan persoalan politik dan pemikiran keagamaan. Tetapi selama kita berada di jalan kebenaran dari sisi pemahaman kita tentang agama, kita tidak perlu khawatir dengan bullying atau tekanan dari luar,” jelas kiai jebolan Pesantren Ploso, Kediri, Jawa Timur ini.

Kiai Enha kemudian menanggapi pernyataan intelektual muda Nahdlatul Ulama Ulil Abshar Abdalla tentang umat Islam yang diharapkan juga untuk mendoakan atau menghauli tokoh agama nonmuslim yang wafat. Bahkan, PMI diminta juga menjadi lokasi acara doa bersama untuk mendoakan tokoh agama nonmuslim itu.
 

“Saya pikir itu ide menarik untuk kita wujudkan dalam format kebersamaan. Selama ini, yang orang takutkan dan khawatirkan adalah (pemikiran-pemikiran secara normatif) bahwa kita dilarang mendoakan orang lain yg berbeda iman,” kata Kiai Enha.

Namun, lanjutnya, dalam konteks lain doa memiliki arti sebuah harapan, dan pemegang akhir atau yang memiliki jawaban dari doa-doa yang dipanjatkan adalah Tuhan. Sementara Tuhan tidak bisa diintervensi. Jadi, dengan yakin, Kiai Enha yakin bisa melaksanakan gelaran doa bersama untuk tokoh agama nonmuslim.

Menurutnya, doa lintas agama tidak menjadi masalah karena itu menjadi bagian dari permintaan kita kepada Tuhan yang menguasai semesta raya ini untuk merawat dan menjaga memelihara kedamaian di muka bumi.

“Jadi ketika hamba-hamba Allah yang baik itu berhimpun dan berkumpul lalu berdoa bersama untuk kebaikan dunia, itu harus mendapat dukungan. Walau dalam perjalanannya, pasti ada saja yang tidak setuju dan tidak menyukainya,” ujar Kiai Enha.

Ia juga sepakat dengan narasi terbaru Gus Ulil bahwa kelompok-kelompok radikal harus dihadapi tapi bukan untuk dilawan. “Jadi, narasinya bukan melawan. Karena kalau melawan akan menciptakan permusuhan, melainkan menghadapi. Bagaimana menghadapinya itu nanti kan ada dialog dan lain sebagainya,” pungkas Kiai Enha.

Kontributor: Aru Elgete
Editor: Musthofa Asrori

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.