Gus Mus-Sesama Umat Rasulullah Jangan Saling Membenci-IslamRamah.co
Loading...

ARRAHMAH.CO.ID –

, Berlaku
adil memang sulit. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan masyarakat saat ini dalam menyikapi suatu
permasalahan. Belum lama ini, media sosial kita diributkan oleh sekelompok
oknum yang menganggap ada pasal penghinaan Nabi Muhammad SAW yang dialamatkan
kepada seorang pendakwah lantaran suatu ceramahnya.
Keadaan tersebut berbuntut panjang tatkala kasus tersebut sampai ke pihak
kepolisian dan memancing tindakan anarkis masyarakat, apalagi sampai muncul
pamflet-pamflet provokatif yang berujung pada pembolehan melakukan tindakan
pembunuhan kepada mereka yang dianggap menghina Rasulullah.

Padahal jika ditelaah
lebih lanjut, isi ceramah yang dituduhkan menghina Rasulullah bersumber dari
kesalahpamahan penggunaan bahasa antara penceramah dan pendengarnya dalam
menjelaskan sifat-sifat kemanusian Nabi Muhammad SAW. Walaupun mungkin terjadi
perbedaan pendapat dalam isi ceramah tersebut, seharusnya dilakukan tabayyun
antar ulama yang keberatan dengan pendakwah tersebut. Terlalu berlebihan jika isu tersebut dibiarkan seperti bola liar yang dapat
mengganggu kedamaian masyarakat.

Menanggapi polemik yang
kian berlarut, tokoh ulama kharismatik asal Rembang KH Ahmad Mustofa Bisri atau
akrab disapa Gus Mus mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan dalam
bersikap. Apalagi sikap kebencian terhadap seseorang atau kelompok dijadikan
dasar untuk terus mencari-cari kesalahan dengan menghakimi dan memberi
label-label khusus yang sangat bertentangan dengan semangat perdamaian yang
diajarkan Nabi Muhammad SAW. Gus Mus menjelaskan bahwa tidak mungkin suatu
pendakwah yang dalam ceramahnya selalu menceritakan keutamaan dan keagungan
junjungan-Nya terbersit untuk secara sengaja menghina Nabi Muhammad Saw.

Loading...

Hal ini cukup berdasar
kalau ketika memahami secara utuh isi ceramahnya tersebut, namun keadaan
menjadi heboh ketika ada sekelompok oknum yang sengaja memotong video tersebut
dan membubuhi kalimat bombastis tentang penghinaan terhadap Rasulullah tersebut.
Untuk meredam keadaan tersebut sudah dilakukan klarifikasi dan permintaan maaf,
namun ada saja pihak yang ingin terus menerus menyudutkannya. Tentu hal ini bukan atas dasar kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW akan
tetapi berdasarkan kebencian yang terus dirawat menggunakan isu sensitif
mengenai permasalahan agama tersebut. Melalui pernyataan di atas Gus Mus mengingatkan
kita untuk tidak menuruti nafsu setan yang terus membenci dan mengingikan
permusuhan di antara umat Muslim.

“Jangan bodoh. Jangan mau
dibodohi oleh Setan Kebencian. Tidak ada orang Muslim, umat Nabi Muhammad SAW
sengaja menghina Nabinya sendiri,” terang Mustasyar Pengurus Besar Nadhlatul
Ulama (PBNU) tersebut melalui akun instagram pribadinya, @s.kakung.

Ulama kharismatik yang juga pengasuh
Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang itu mengingatkan masyarakat untuk bijak dalam menggunakan
media sosial. Informasi yang berseliweran di media sosial
jangan sampai ditelan mentah-mentah sebagai sebuah kebenaran. Menurut Gus Mus
diperlukan akal sehat dan kejernihan hati 
dalam menyerap berbagai informasi tersebut, agar jangan sampai tindakan kita
yang berdasar informasi yang tak jelas siapa pembawa beritanya akan memberikan
madhorot
yang besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini
tentu sesuai dengan semangat keberagaman kita yang menjadikan tabayyun/klarifikasi
sebagai titik awal agar tidak mudah diadu domba oleh segelintir oknum yang
mempunyai kepentingan jahat. “Jaga akal sehat.
Jangan tunduk pada setan kebencian dan Iblis adu domba,” tegas Gus Mus dalam postingan di instagramnya tersebut.

Dalam postingan
instagramnya ulama yang dikenal sebagai penyair melalui puisi-puisinya yang
bertemakan kritik sosial tersebut menyertakan ilustrasi sebuah hadis yang
berisikan tentang larangan sesama umat Muslim untuk saling membenci, menipu,
bahkan sampai menumpahkan darahnya. Sebaliknya, umat Muslim harus saling
menjaga kehormatan setiap umat Muslim lainnya. Dalam kasus tuduhan penghinaan
Nabi yang dialamatkan kepada pendakwah tersebut, tentu sudah harus menemui
titik terang.

Narasi-narasi provokatif
yang dituduhkan haruslah diperangi bersama. Perbandingan antara pembela
Rasulullah dan pembela ulama adalah salah satu narasi provokatif yang
seakan-akan ingin menegaskan perbedaan itu, padahal keberadaan ulama adalah
pewaris keilmuan dan bisa dipastikan memiliki rasa kecintaan terhadap Rasulullah
SAW yang begitu dalam. Pesan yang bisa kita petik adalah adanya
pengotak-kotakkan narasi tersebut bertujuan untuk memecah belah persatuan umat
Muslim. Dari Gus Mus kita bisa belajar untuk saling memahami dan memaafkan, sebagaimana pesan dalam salah satu hadis:

وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ
عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً . الْمُسْلِمُ أَخُو
الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ . التَّقْوَى هَهُنَا -وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ
مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ
مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى
الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ [رواه مسلم]

“Janganlah kalian saling mendengki, saling
menipu, saling membenci, saling membelakangi, dan janganlah membeli barang yang
sedang ditawar orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.
Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh
menzaliminya, menelantarkannya, mendustainya, dan menghinakannya. Taqwa itu ada di sini (Nabi sembari menunjuk
dada beliau tiga kali). Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia
menghina saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim haram darahnya bagi Muslim
yang lain, demikian juga harta, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

Artikel Ini Telah Dimuat: IslamRamah.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.