Jangan Mati sebelum Miliki Karya
Loading...

ARRAHMAH.CO.ID

Mojokerto,
Seorang novelis perempuan, Khilma Anis hadir dalam acara ‘Meet and Greet’ yang diadakan Ikatan Alumni Pondok Pesantren Roudlotul Nasyi’in Berat Kulon, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur,  Ahad (17/11).
 

Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memeriahkan haul ke-32 KH M Arief Hasan tersebut mendapat sambutan luar biasa dari para santri. Terlihat mereka dari berbagai kota turut hadir memeriahkan acara ini. 

 

Loading...

Ketua panitia Meet and Greet, Achmad Yani Arifin menuturkan bahwa acara yang bertajuk ‘Menumbuhkan Potensi Literasi Santri’ ini sengaja digelar untuk menumbuhkan dan menggugah semangat para santri untuk berliterasi, utamanya bagi santriwati. 

 

“Kebetulan di Mojokerto banyak yang mengidolakan sosok yang lebih akrab dipanggil Ning Khilma. Hal ini berkat novel karyanya yang berjudul Hati Suhita berhasil meraih best seller di pasaran,” katanya.

 

Pada kesempatan tersebut Ning Khilma mengajak para santri untuk ikut serta mengkampanyekan literasi serta mengupas isi novel Hati Suhita. 

 

“Menurut saya, santri saat ini harus sudah memulai untuk menulis, dalam artian mempunyai karya dalam bentuk buku. Semua santri pada dasarnya bisa menulis dengan memainkan media sosial, tinggal dilatih ke jenjang selanjutnya seperti artikel, novel dan lain lain,” jelas Ning Khilma kepada usai acara. 

 

Dirinya menambahkan, pada dasarnya dalam novel Hati Suhita ingin ada pemerataan skill jurnalistik di pesantren, terlebih di daerah pelosok. 

 

“Sebab ilmu jurnalistik adalah ilmu paling dasar untuk menulis yang harus dikuasai oleh para santri. Jadi, kalau santri sudah belajar jurnalistik, maka akan belajar berpikir kritis dan kemudian jika sudah terbiasa, memilih menulis di bidangnya masing-masing. Yang penting adalah diciptakan dahulu dalam iklim jurnalistik yang baik,” jelasnya.

 

Di akhir perbincangan Ning Khilma mengemukakan bahwa dirinya sejak kecil memang sudah hidup dengan wayang. Ada satu ajaran yang harus ditularkan pada para santri, yaitu tokoh wayang Semar. 

 

“Semar pernah berpesan pada anaknya, ojok mati tanpo aran. Dalam artian jangan mati tanpa nama. Kalau dibahasakan secara simbolik, jangan mati tanpa punya karya dan karya itu tidak selalu berbentuk buku, bisa saja kebaikan,” jelasnya. 
 

Karena dalam pandangannya, kebaikan apa saja akan menjadi hal positif yang akan diketahui masyarakat, serta terus mengalir.

 

“Karena karya yang banyak tidak diketahui orang bisa menjadi amal jariyah,” pungkasnya.

 

 

Kontributor: Syaiful Alfuat
Editor: Ibnu Nawawi
 

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.