Beranda Berita Buya Syafi’I Maarif: Fatwa Larangan Salam MUI Berlebihan

Buya Syafi’I Maarif: Fatwa Larangan Salam MUI Berlebihan

13
0
Hosting Unlimited Indonesia

ARRAHMAH.CO.ID –

, Beberapa waktu lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa
Timur mengeluarkan fatwa agar tidak mengucapkan salam semua agama kepada pejabat beragama Islam. Fatwa
tersebut mendapat perhatian luas, baik yang pro dan kontra. Namun jika dilihat
dari kondisi masyarakat Indonesia yang beragam, agaknya fatwa ini terlalu ketat
dan cenderung merobek kain toleransi yang selama ini telah dirajut bersama.
Apalagi inti dari salam sebenarnya adalah mendoakan keselamatan, dan itu
diajarkan oleh semua agama.

Menanggapi polemik perihal fatwa tersebut, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP)
Muhammadiyah tahun 1998-2005 Ahmad Syafi’i Maarif atau yang lebih dikenal
sebagai Buya Syafi’i memberikan pandangan bahwa sikap MUI tersebut sebagai
fatwa yang berlebihan dan cenderung ketat, karena melihat kenyataan Indonesia
memiliki beragam agama dan kepercayaan. Salam diucapkan sebagai bentuk
penghormatan, bukan serta merta mengimani keyakinan agama lain.

“Saya kira
kita tidak perlu ketat-ketat untuk itu. Kita kan sebuah bangsa plural, bhineka
tunggal ika,” ungkap Buya Syafii di sela
peresmian patung Panglima Besar Jenderal Sudirman di Ringroad Barat, Gamping,
Yogyakarta, belum lama ini.

Lebih lanjut Buya Syafi’i menambahkan, selama ini nonmuslim mengucapkan
salam secara Islam pun biasa aja dan tidak berdebat soal  keyakinan ini. Usaha yang harus direngkuh
masyarakat Indonesia sekarang adalah membangun kemanusian antar pemeluk agama
yang inklusif. Salam semua agama yang awalnya untuk membangun kesadaran
kebinekaan kita, harus terus dilaksanakan. Salam semua agama tidak akan
mencampuradukan akidah maupun keyakinan masing-masing pemeluk agama. Sehingga
menurut Buya Syafi’i, semua agama harus berperan dalam menjaga toleransi, tidak
boleh menjadi agama yang ekslusif dan tertutup, karena Indonesia dibangun atas
kesadaran kebebasan dan saling menghormati antar pemeluk agama.

Hosting Unlimited Indonesia

“Warga nonmuslim
juga sering menyebutkan salam pembuka dengan cara agama lain. Karenanya hal itu
tidak diperdebatkan atau bahkan dilarang. Karenanya yang
lebih penting semua pihak bisa menjaga keutuhan dan kebersamaan bangsa.
Masing-masing umat beragama tidak boleh merasa eksklusif,” pungkas
cendekiawan muslim jebolan Chicago University tersebut.

Artikel Ini Telah Dimuat: IslamRamah.co

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.