Beranda Berita Gus Mus: Jangan Membid’ahkan Maulid Nabi

Gus Mus: Jangan Membid’ahkan Maulid Nabi

40
0
Hosting Unlimited Indonesia

ARRAHMAH.CO.ID –

,
Tradisi Islam di Indonesia dikagumi oleh dunia. Pasalnya, Islam yang berkembang
di Indonesia bukanlah Islam yang kaku, tetapi amat lentur dan fleksibel
sehingga wajah Islam di Indonesia berbunga-bunga dan menggembirakan. Ada begitu
banyak tradisi Islam Indonesia yang tidak mungkin ditemukan di wilayah Muslim
lain di dunia, seperti tradisi maulidan, tahlilan, slametan dan sebagainya. Tradisi semacam ini tidak saja menampilkan
wajah Islam yang teduh dan penuh keakraban, tetapi juga menjadi medium bagi
Muslim Indonesia untuk lebih meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt.

Namun demikian,
sayang seribu sayang, tradisi Islam Indonesia yang menyemai di antara
keberagaman di Indonesia itu acapkali mendapatkan tuduhan-tuduhan tak berdasar
dari sebagian kelompok. Tradisi peringatan maulid Nabi misalnya, kerapkali
dianggap bid’ah dan tidak sesuai dengan ajaran Rasul. Begitu juga tradisi-tradisi
lain seperti ziarah kubur sampai acara-acara slametan dianggap tidak sesuai ajaran Islam. Menyikapi kelompok
yang kerap menuduh bad’ah tersebut, KH Musotofa Bishri atau Gus Mus mengatakan
kelompok tersebut tidak mengaji sehingga pikirannya menjadi sempit dan wawasan
keislamannya dangkal.

Menurut
Gus Mus, masyarakat Muslim Nusantara begitu mencintai Nabi sehingga tiap tahun,
bahkan tak perlu menunggu bulan kelahiran Nabi, masyarakat Muslim Nusantara
menggelar perayaan kelahiran Nabi dengan membaca shalawat seperti Barzanji. Begitu
halnya masyarakat Muslim Indonesia juga mencintai ulama-ulama panutan sehingga
saking cintanya tiap tahun menggelar haul, yakni peringatan hari wafat
seseorang, terutama para ulama dan kiai.

“Tahlilan dibilang bid’ah.
Itu dia tidak ingat. Orang desa bisa ingat Allah itu karena tradisi-tradisi
seperti tahlilan. Kalau ini dibid’ahkan lalu orang tidak ada yang tahlilan,
wong ada tahlilan saja masih banyak yang lupa Gusti Allah, bagaimana terus kalau
tidak ada tahlilan?” ungkapnya saat memberikan tausyiah acara temu alumni
pesantren asuhannya yang berlangsung di aula pesantren setempat, Sabtu (2/11).
 

Hosting Unlimited Indonesia

Gus Mus mengibaratkan adanya
kegiatan-kegiatan seperti haul saja masih banyak orang yang lupa akan jasa-jasa
ulama, bagaimana kalua kegiatan itu ditiadakan. Bisa jadi orang makin lupa atas
jasa-jasa para kiai dan ulama. Begitu juga dengan peringatan-peringatan
tahlilan, maulid Nabi, itu semua dilakukan sebagai akhlak bagi seorang Muslim untuk menghargai jasa-jasa orang
terdahulu. “Ada peringatan haul saja masih banyak santri yang lupa terhadap
kiai dan apa yang diajarkan. Lalu bagaimana jika peringatan haul itu sampai
dibid’ahkan?” imbuhnya.  

Atas dasar itu, kiai Pengasuh
Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah ini sampai menaruh
kecurigaan terhadap perilaku orang-orang yang suka membid’ahkan itu. Apa yang
oleh kelompok tertentu, tradisi-tradisi itu dibid’ahkan sesungguhnya
mencerminkan sikap arogansi dan merusak ajaran Nabi. “Sekarang saya curiga sama
orang-orang yang suka membid’ahkan. Ini jangan-jangan mau merusak ajaran
Kanjeng Nabi,” kata putra Kiai Bisri Mustofa ini.

Menurut Gus Mus, tren orang-orang
yang baru belajar Islam mutakhir memiliki sikap dan keinginan belajar agama
secara kuat, namun tidak dilandasi dengan iktikad dan usaha mengaji di pondok
pesentren sehingga ilmu-ilmu agama yang mereka dapatkan tidak bisa diverifikasi
sumbernya. Santri sebagai pewaris ilmu-ilmu dalam khazanah keislaman diminta
untuk lebih semangat untuk menyebarkan Islam Indonesia yang moderat, ramah dan
menghargai perbedaan-perbedaan yang ada.

“Orang-orang yang Islamnya
masih baru, 10-20 tahun itu tidak tahu, makanya marah-marah sewaktu mendengar
istilah Islam Nusantara. Mereka mengira kalau Islam Nusantara itu suatu
kategorisasi, ini ada Islam Arab, ini ada Islam Nusantara. Itu karena mereka
tidak pernah mengaji, tidak tahu apa itu idhafah. Kalau santri itu tidak perlu
menjelaskan mana dalilnya,” pungkasnya.

Artikel Ini Telah Dimuat: IslamRamah.co

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.