Beranda Berita Tak Perlu Resign dari Bank Karena Takut Riba

Tak Perlu Resign dari Bank Karena Takut Riba

58
0
Hosting Unlimited Indonesia

ARRAHMAH.CO.ID –

, Di era ini,
ajakan untuk terlibat dalam kelompok hijrah begitu massif terjadi, terutama di
kalangan masyarakat Muslim urban atau di perkotaan. Tentu saja bila hijrah yang
dimaksud adalah menjadikan seorang diri menjadi lebih baik dan meningkatkan kualitas
ibadah serta akhlakul karimah, maka hijrah
yang dimaksud adalah sesuai dengan nilai-nilai Islam. Namun demikian, banyak individu
maupun kelompok yang memilih hijrah bukan pada esensi hijrah itu sendiri. Sebab,
hijrah yang terjadi justru hanya pada tampilan semata, seperti perubahan baju
maupun pekerjaan.

Yang lebih ironis, setelah
hijrah bukan makin meningkatkan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki
kekurangan dan kekhilafan, melainkan justru memvonis orang-orang yang tidak ikut
hijrah sebagai orang atau kelompok yang salah. Padahal hijrah yang hakiki
adalah hijrah yang menjadikan seorang individu atau kelompok menjadi lebih baik,
tanpa harus merasa lebih baik dari orang lain, apalagi mencaci maki dan
menyalahkan orang lain.

Rais Syuriyah Pengurus
Cabang Istimewa (PCI) Australia dan Selandia Baru Kiai Nadirsyah Hosen mengatakan
hal itu dalam muktamar pemikiran santri nusantara 2019 di Pesantren
Asshiddiqiyah Jakarta, Ahad (29/9). Menurut Gus Nadir, kelompok hijrah tidak
hanya menganggap kelompoknya yang paling benar, tetapi juga mengajak orang lain
meninggalkan pekerjaan yang ditengarai dilarang oleh agama Islam. Padahal,
dugaan itu bukanlah berdasar pada keragaman pendapat ulama, melainkan pendapat
salah satu ulama, dan menafikkan pendapat ulama lain.

Gus Nadir mencontohkan, bahwa acapkali kelompok
hijrah mengajak orang lain meninggalkan pekerjaan di Bank karena dianggap riba, meninggalkan music karena dianggap
haram. Akhirnya, tidak sedikit masyarakat Muslim yang meninggalkan
pekerjaan-pekerjaan tersebut, padahal letak keharamannya pun masih
diperdebatkan di kalangan ulama. Karena itu, Gus Nadir meminta masyarakat tidak
perlu meninggalkan pekerjaan karena takut riba,
haram dan sebagainya.

Hosting Unlimited Indonesia

“Ayat ini (Islam
Kaffah) sering dipakai oleh kelompok hijrah. Mereka kadang mengatakan seseorang
harus masuk Islam secara mendalam harus meninggalkan kerja di bank karena riba,
wajib pakai jilbab, gerakan sunnah. Kadang juga masuk keranah komersial,
seperti tutorial memakai jilbab syar’i, rumah syar’i, dan kelompok
syar’i,” jelasnya.

Gus Nadhir juga mengajaka masyarakat untuk
belajar Islam ke sumber asli, yakni Al-Quran, al-Hadis dan para ulama, dan
bukan hanya kepada terjemahan al-Quran. Tentu saja konsekuensinya harus
memahami Bahasa Arab dan ilmu-ilmu yang mendukung untuk memahami al-Quran. Bila
tidak memiliki kemampuan Bahasa Arab, maka masyarakat Muslim hendaknya
mengikuti para ulama atau para kiai. “Kita kurang bagus
dalam mengadministrasikan strategi damai ala Islam. Ini tugas santri. Mari kita
memahami Al-Qur’an dengan cara pesantren yang sempurna tidak hanya memahami
dari terjemahan Al-Qur’an saja,” pungkasnya.

Artikel Ini Telah Dimuat: IslamRamah.co

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.