Beranda Berita Grand Syaikh Al Azhar: Hak Kebebasan Beragama Harus Dijunjung Tinggi

Grand Syaikh Al Azhar: Hak Kebebasan Beragama Harus Dijunjung Tinggi

15
0
Hosting Unlimited Indonesia

ARRAHMAH.CO.ID –

,
Intisari setiap
agama adalah menciptakan kedamaian bagi pemeluknya, dan
umat manusia secara umum. Setiap
agama yang bersumber dari Nabi-Nabi terdahulu, sebelum agama Islam diturunkan, seperti risalah yang dibawa oleh Nabi Musa
dan Isa yang kemudian
menjadi agama Yahudi dan Nasrani, hakikatnya juga
mengajarkan tentang perdamaian bagi umatnya. Bahkan, kedamaian adalah bagian
dari intisari ajaran agama. Oleh karena itu, segala bentuk permusuhan dan
kekerasan sesunggunya bukanlah ajaran agama.

Pesan tegas itulah
yang mengemuka dalam acara Konferensi Internasional Al-Azhar Untuk Perdamaian yang disampaikan oleh orang nomor satu di  Al-Azhar, Grand Syaikh DR. Ahmad at Thayyib di depan para pemuka agama. Menurutnya, langkah tegas bagi
setiap kelompok kekerasan mengatasnamakan ajaran agama, harus ditindak agar
kekerasan yang terjadi hampir di setiap wilayah konflik tidak terjadi lagi di
masa depan.

“Saya ingin menegaskan
bahwa apa-apa yang disampaikan oleh Islam tentang perdamaian yang demikian juga
ditemui dalam di dalam Nasrani dan Yahudi. Hal itu disebabkan karena akidah
yang saya terima dari Alquran mengajarkan kepada saya bahwa risalah Isa, Musa,
Ibrahim, Nuh dan risalah Muhammad merupakan rangkaian terakhir dari satu mata
rantai agama yang sama yang dimulai dari Adam dan diakhiri oleh Nabi Islam
(Nabi Muhammad SAW),” papar Grand Syaikh.

Tokoh yang
dinobatkan sebagai ulama nomor wahid di dunia oleh The Royal Islamic
Strategic Studies
tersebut berpandangan bahwa risalah kenabian dari awal
turun sampai yang terakhir dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sejatinya tidak pernah
berubah dari segi substansinya, yaitu agama selalu  membawa pesan-pesan ketauhidan dan perdamaian.
Perbedaan yang terletak pada segi syariah amaliyyah (praktis) tidak
boleh dijadikan sebagai alat pemicu konflik, karena jelas praktek kekerasan
sudah menyalahi misi agama sebagai rahmat bagi sekalian alam.

Hosting Unlimited Indonesia

“Risalah-risalah
ini, dari awal sampai akhir, memiliki kesamaan dalam isi dan substansinya dan
tidak ada perbedaan kecuali hanya pada persoalan syariah amaliyyah (praktis)
yang berubah-ubah. Setiap risalah memiliki syariah amaliyyah yang
mengikuti kepada zaman, tempat, serta penganutnya. Dan bahwasanya Alquran
mengakui perbedaan keyakinan, bahasa, dan warna kulit di antara manusia,” jelas
ulama kelahiran Qina, Mesir tersebut.

Menurut pimpinan
tertinggi Universitas Al Azhar Mesir tersebut hak kebebasan beragama harus
dijunjung tinggi oleh pemeluk agama manapun sebagai konsekuensi kehendak Allah
SWT yang bersifat mutlak. Sehingga nilai yang harus diciptakan bersama antar
pemeluk agama adalah nilai toleransi, di mana setiap pemeluk agama sebagai
sesama makhluk ciptaan Allah harus saling menghormati. Segala bentuk konflik
dan kekerasan termasuk dalam kategori menafikan kehendak Allah SWT.

“Kehendak Allah SWT
lah yang menginginkan hamba-Nya diciptakan berbeda-beda, yang tidak akan
berubah dan hilang sampai dunia semua yang berada di atasnya hancur (kiamat). Kenyataan
adanya perbedaan agama inilah yang secara otomatis melahirkan hak kebebasan
beragama,” pungkas Grand Syaikh.

Artikel Ini Telah Dimuat: IslamRamah.co

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.