ISNU Jatim: Jadikan  Sumber Informasi Utama
Loading...

ARRAHMAH.CO.ID

Jombang,

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur KH Zahrul Azhar Asumta As’ad (Gus Hans) mengucapkan selamat hari lahir ke-16

Baginya, adalah wajah lain dari organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama dalam wujud digital. Hal ini karena tulisan dan konten yang dimuat di memuatkan ajaran Islam modern, Aswaja, dan menginspirasi umat Islam.

Loading...

“Selamat ulang tahun . Saya melihat adalah ‘wajah NU’ dalam dunia digital. Konten yang disajikan selalu terukur dan mendasarkan pada nilai-nilai aswaja dengan acuan kode etik jurnalistik yang kental,” katanya kepada , Kamis (11/7).

Pengasuh Pesantren Queen Al-Azhar Darul Ulum,  Rejoso Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur ini menilai, layak menjadi rujukan utama masyarakat Indonesia tidak hanya kaum nahdliyin saja.

memuat konten yang cukup menarik seperti khutbah Jumat, budaya, pendidikan, keislaman, fikih ibadah, bahsul masail, tasawuf dan berbagai kata-kata mutiara dari para tokoh.

“Saya yakin jika masih tetap bisa menjaga kaidah-kaidah di atas. Insyaallah akan menjadi rujukan utama bukan hanya bagi nahdliyin tapi juga seluruh warga Indonesia yang mencintai keutuhan NKRI. Sekali lagi selamat berulang tahun untuk ,” tambah Gus Hans.

Ketua Pengurus Cabang (PC) Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama Kabupaten Jombang KH Jauharuddin Alfatich berharap bisa menularkan ilmunya kepada para santri di pesantren-pesantren. Baik pesantren salaf, modern maupun semi salaf-modern.

Ia juga akan mensosialisasikan ke pesantren-pesantren untuk membaca, menulis di dan menginformasikan kegiatan ke jurnalis-jurnalis .

“Selamat ulang tahun ke-16 , sukses selalu. Semoga ke depan kita bisa bersinergi dalam berbagi ilmu jurnalistik ke santri-santri. Biar insan pesantren melek ilmu Jurnalitik dan bisa antisipasi hoaks,” bebernya.

Dikatakan, di masa depan para santri seharusnya bisa menulis. Baik dalam bentuk tulisan berita maupun opini tentang peran pesantren, kiai, khazanah Islam, dan kajian agama Islam. Dan selama ini, bidang menulis kurang serius digarap oleh pesantren.

“Santri itu punya bahan banyak untuk ditulis, karena mereka mengkaji kitab-kitab besar karya ulama. Seandainya setiap ngaji santri menulis rangkuman, maka sudah tak terhitung tulisan terkumpulkan dari pesantren,” tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Muiz)

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.