Beranda News Teknologi sebagai Tradisi: 16 Tahun

Teknologi sebagai Tradisi: 16 Tahun

8
0

ARRAHMAH.CO.ID

Jakarta,

11 Juli 2003 silam resmi mengudara dengan sejumlah visi tajamnya melihat perkembangan zaman yang bakal terjadi. Secara literasi teks, amaliyah ibadah, dan keadaban laku, keilmuan pesantren yang digawangi oleh ulama-ualam NU hingga saat ini masih menjadi benteng moral generasi bangsa dan benteng kokoh negara.

Namun, arah perkembangan dakwah di-titeni secara jernih oleh generasi awal bahwa transformasi teknologi memberi tantangan untuk mengokohkan misi keagamaan, kebangsaan, dan kemajuan peradaban melalui konten-konten otoritatif berbasis keilmuan pesantren di dunia maya di samping menyajikan kabar-kabar terkini. Di sini H Abdul Mun’im DZ (generasi pertama ) mengambil simpul luhur, “Teknologi sebagai Tradisi”.

NU telah sejak lama mentradisikan berbagai amaliyah keagamaan sebagai media perekat masyarakat, bangsa, dan negara. Ini artinya NU berupaya selalu responsif terhadap perkembangan sosial-masyarakat dengan basis nilai-nilai Islam moderat, ramah, berimbang, proporsional, menjunjung tinggi keadilan, menegakkan kebaikan dengan cara yang baik, dan mencegah kemunkaran dengan cara yang baik pula.

loading...

Mentradisikan teknologi juga dilakukan ketika kecanggihan zaman merambah kehidupan manusia. Orang-orang NU tidak akan pernah kaget soal kecanggihan ini karena selalu menangkapnya sebagai sebuah tantangan kultural manusia.

Dalam hal itu, sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberi pelajaran penting. Karena beliau merupakan tipe manusia yang mampu “mentradisionalisasi modernitas dan memodernisasi tradisionalitas”. Meskipun tantangan besar tidak akan pernah habis di depan mata, pencapaian di usia remaja (11 Juli 2003-11 Juli 2019) membanggakan berkat kerja keras seluruh kru dan teman-teman jaringan media NU.

Secara umum, tantangan-tantangan media online tidak akan pernah habis sebagai sebuah agenda (unfinished agenda). Sebab, teknologi akan terus berkembang dan kabar, wacana, serta isu tidak akan pernah habis di dunia ini.

Melihat tantangan jangka panjang tersebut, sejumlah tokoh nasional mengutarakan harapannya atas ulang tahun ke-16 . Harapan secara umum untuk kepentingan umat, bangsa dan negara itu patut diwujudkan melalui informasi-informasi berkualitas dan terpercaya.

Terkait hal ini, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menekankan inovasi yang harus terus dikembangkan , baik secara internal maupun eksternal agar dakwah lewat tulisannya semakin menarik dan banyak diminati pembaca.

Kiai Said berpesan, perjalanan selama 16 tahun ini agar dijadikan modal dan pengalaman yang berarti supaya ke depan lebih berkualitas, menarik, sehingga pembacanya lebih banyak.

Kemudian Kiai Said mengajak Nahdliyin agar menjadikan sebagai referensi utama dalam dalam mencari informasi, terlebih di saat media sosial dipenuhi dengan informasi bohong (hoaks), ujaran kebencian, dan fitnah.

“Dengan selalu merujuk kepada , insyaallah kita akan tetap utuh, selalu bersatu, solid, di bawah pimpinan Nahdlatul Ulama. Para kiai, para ulama ahlussunnah wal jamaah semuanya mengharapkan kita solid, bersatu, jauh dari fitnah, jauh dari hoaks, jau dari ujaran kebencian, apalagi perang saudara dan pecah belah,” urai Kiai Said.

Ucapan selamat juga datang dari Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand Gus Nadirsyah Hosen. Kiai muda yang kini aktif mengajar di Monash Law School itu menegaskan bahwa tampil sebagai media pencerdas umat di tengah banyaknya media abal-abal.

“Selamat hari lahir (harlah) ke-16 , situs resmi Nahdlatul Ulama, pada hari ini, Kamis, 11 Juli 2019. Di tengah banyak media online abal-abal yang isinya provokatif, telah tampil mencerdaskan umat dengan artikel dan kajian yang otoritatif,” ujarnya di twitter.

Harapan menjadi media yang terus mengembangkan ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin juga datang dari salah seorang Komisioner KPU RI, Hasyim Asy’ari. Dia pun mengungkapkan sajian-sajian tulisan yang paling ia sukai di .

“Selamat Harlah 16 Th maju berkembang menjadi rujukan utama pengembangan Islam Rahmatan lil ‘alamin di Nusantara. Sajian yang paling saya suka adalah bahtsul masa’il diniyyah, dan panduan doa wiridan. Barakah dan manfaat. Alfaatihah,” ungkap Hasyim Asy’ari.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH M. Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) menyebut bahwa usia ke-16 merupakan masa pertumbuhan. Ia berharap di usia ke-17 nanti, makin meledak.

“Juga semakin inovatif dan kreatif dalam menyajikan konten-konten Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” ucap Gus Yusuf.

Rasa bangga dengan perkembangan juga diutarakan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur KH Abd A’la. Guru Besar UIN Sunan Ampel ini menegaskan bahwa keberadaan tidak hanya mencerahkan warga NU, tetapi juga memberikan pencerahan kepada seluruh warga bangsa, terutama generasi milenial.

“ selama ini mampu mengimbangi hoaks-hoaks yang berkembang dengan memberikan pencerahan bukan hanya untuk Nahdliyin, tetapi juga warga negara Indonesia bahkan kaum milenial juga suka,” ungkap Prof A’la. (Fathoni)

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.