Beranda News KH Ma’ruf Amin Ingatkan Rel Gerakan NU

KH Ma’ruf Amin Ingatkan Rel Gerakan NU

7
0

ARRAHMAH.CO.ID

Jakarta,

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin menyatakan bahwa manusia lahir dalam keadaan bersih dan suci, tetapi dalam perjalanannya karena pengaruh orang tua atau lingkungannya membuatnya tidak suci lagi. Untuk membuatnya kembali suci, maka setiap tahun ada idul fitri.

Demikian disampaikan Kiai Ma’ruf Amin saat menghadiri acara halal bi halal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Gedung PBNU, Senin (24/6) malam.

Selain itu, Kiai Ma’ruf berharap nahdliyin kembali kepada prinsip-prinsip ke-NU-an, yakni kembali ke akidah, fikrah, amaliyah, harakah (gerakan), dan jamiyahnya. “NU ini gerakan. Oleh karena itu Nahdlatul Ulama itu kebangkitan. Kalau tidak bergerak, namanya sukutun, bukan nahdlatun,” ucap Kiai Ma’ruf.

loading...

Kiai Ma’ruf juga memaparkan macam-macam harakah yang dilakukan NU, seperti harakah himaiyah atau gerakan melindungi, yakni melindungi warganya agar tidak masuk pada akidah yang menyimpang. Kemudian harakah islahiyah, yakni melakukan perbaikan di berbagai bidang. Selanjutnya harakah khidmatiyah, yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Menurutnya, kini banyak orang yang akidah, fikrah, amaliyah, dan harakahnya NU, tetapi jam’iyahnya (organisasinya) belum NU. Nahdliyin juga diharapkan kembali kepada aturan yang ada di AD/ART dan keputusan-keputusan NU, baik keputusan muktamar maupun Munas NU.

Ia menganalogikan NU seperti kereta api yang memiliki gerbong dan muatan yang banyak. Kereta api berjalan mengikuti rel karena memiliki tujuan, sehingga nahdliyin tidak boleh keluar dari kereta api.

“NU itu kaya kereta api. Jalannya ada relnya. Jadi nahdliyin itu harus bergerak seperti kereta api yang sudah ada relnya,” ucapnya.

Nahdliyin juga perlu kembali kepada semangat ke-NU-annya. Hal itu karena ia melihat akhir-akhir ini semangat ke-NU-an nahdliyin berkurang.

Sementara untuk warga negara Indonesia perlu kembali kepada prinsip-prinisp kenegaraan yang telah disepakati para pendiri bangsa, seperti Pancasila dan UUD 1945. Sebab, sambungnya, sekarang terdapat orang yang tidak mengakui kesepakatan-kesepakatan tersebut.

Untuk itu, menurutnya, ke depan moderasi dalam berpikir dan beragama harus menjadi arus utama di negara ini karena kalau tidak akan terjadi kegaduhan. (Husni Sahal/Fathoni)

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.