Beranda News Arebbe Lontong, Cara Warga di Bondowoso Tutup Idul Fitri

Arebbe Lontong, Cara Warga di Bondowoso Tutup Idul Fitri

8
0
Hosting Unlimited Indonesia

ARRAHMAH.CO.ID

Bondowoso,

Kebiasaan atau tradisi turun temurun yang dilakukan masyarakat Muslim saat hari ketujuh Idul Fitri, yakni lebaran ketupat. Hal serupa juga yang dilakukan Pondok Pesantren Nurul Islam, Desa Poncogati, Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Di pesantren tertua yang berdiri sejak 1768 ini, lebaran ketupat tidak semata melibatkan para santri, juga warga sekitar. Mereka mengantarkan ketupat lontong atau lebih dikenal dengan istilah Arebbe Lontong ke surau atau mushalla tertua di pondok tersebut.

“Tradisi yang sudah turun temurun ini masih dilakukan oleh masyarakat di sini,” kata KH Abdul Mu’is As’ad, Rabu (12/6). 

Hosting Unlimited Indonesia

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam Poncogati tersebut, setiap tanggal 7 Syawal warga beramai-ramai mengantarkan makanan berupa lontong dan ketupat ke masjid maupun mushalla. “Kemudian makanan yang ada disajikan pada saat selesai melaksanakan ngaji maupun dzikir dan shalawatan,” jelasnya.

KH Abdul Mu’is As’ad mengemukakan, kegiatan sudah menjadi tradisi masyarakat daerah ini setiap tanggal 7 Syawal. “Sehingga lontong dan ketupat yang dibawa ke masjid maupun mushalla dimakan secara bersama,” jelasnya. Tetapi sebelum dinikmati warga yang berkumpul, jamaah berdoa terlebih dahulu, lanjutnya.

Makna tradisi tersebut sebagai ikhtiar agar selamat dunia dan akhirat. “Juga bisa melanjutkan beribadah dengan lancar setelah menjalankan puasa selama sebulan kemarin,” ungkapnya.

Menurutnya, kebiasaan mengantar makanan ke masjid maupun surau dalam bahasa Madura disebut arebbe. “Hal itu merupakan bentuk rasa syukur masyarakat lantaran dapat melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan dan meraih kemenangan saat Hari Raya Idul Fitri ini,” urainya.

Selain itu, tradisi juga bertujuan mempererat tali persaudaraan antarsesama warga dengan cara makan bersama dari makanan yang telah disuguhkan oleh masyarakat setempat.

“Kebiasaan ini sudah menjadi tradisi turun temurun yang hingga kini tetap dilestarikan oleh masyarakat. Jadi biasanya, sejak kemarin masyarakat sibuk membuat selongsong ketupat atau lontong untuk dibawa ke masjid maupun surau,” pungkasnya.

Pondok Pesantren Nurul Islam Poncogati merupakan pesantren tertua di Bondowoso. Sebagai pendiri adalah KH Hasbullah yang biasa dipanggil dengan sebutan Bujuk Ajjih. Penerusnya yaitu KH Djakfar Shidoq, kemudian KH Tuan Ikrom. (Ade Nurwahyudi/Ibnu Nawawi)

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.