Beranda News Alissa Wahid Tekanan Pentingnya Pengelolaan Keuangan bagi Penerima Program PKH

Alissa Wahid Tekanan Pentingnya Pengelolaan Keuangan bagi Penerima Program PKH

6
0
Hosting Unlimited Indonesia

ARRAHMAH.CO.ID

Jakarta,

Ada yang menarik dari diskusi di Hotel JS Luwansa yang bertema
dalam bahasa Inggris ‘Linking Social Protection to Sustainable Livelihood: the Way
Forward Indonesia,’
yakni keberadaan Alissa Wahid di antara belasan pembicara.

Hal ini menarik karena Mbak Lisa tak terlalu dikenal luas sebagai
ekonom, tapi lebih mashyur dengan isu demokrasi, HAM, inklusi sosial, pembelaan
terhadap kelompok lemah dan seterusnya. Namun, kali ini Mbak Lisa semeja dengan
sejumlah nama ekonom sekaliber Wakil Direktur SMERU, dan sejumlah pejabat
kementerian terkait urusan kesejahteraan sosil seperti Kemenkeu, Kemensos hingga
Bappenas dalam tema bernuansa ekonomi.

“Mungkin beberapa kolega saya agak kaget melihat saya di forum ini
karena aktivitas saya lebih banyak di isu HAM, Demokrasi dan isu sejenis. Tapi tak
banyak yang mengetahui bahwa saya bersama Kemenag mengembangkan strategi
memperkuat ketahanan keluarga termasuk dari aspek ekonomi,” kata Alissa
mengawali dengan ringan.

Hosting Unlimited Indonesia

Dalam kesempatan ini Alissa yang menjadi pembedah hasil temuan
SMERU pada sesi kedua melemparkan sebuah komentar menarik. “Jadi di NU ada
guyonan begini; jangan-jangan sebagian besar dari orang miskin di Indonesia
adalah orang NU, karena mayoritas warga NU berada di kawasan pedesaan,” kata
Alissa membuka pembicaraan dengan candaan ringan.

Sehingga dalam pandangan Alissa tema diskusi ‘Keterhubungan antara
Program Proteksi Sosial dan Mata Pencaharian yang Berkelanjutan’ bukan barang
asing sama sekali. Apalagi jika ditarik pada kelompok yang sedang dibicarakan
sebagai kelompok miskin atau termiskin dalam piramida masyarakat Indonesia.

Memang sejauh ini belum ada penelitian yang menulis secara spesifik
membandingkan populasi warga NU atau Nahdliyin dengan peta kemiskinan di
Indonesia. Tapi kuat dugaan adanya ‘irisan’ antara kedua peta itu.

Kendati Alissa lebih banyak dikenal luas dalam isu di luar ekonomi,
sejatinya Alissa merupakan seorang pakar dalam perencanaan ekonomi keluarga.
Dalam kapasitasnya sebagai sekertaris Jendral LKK NU ditambah dengan
backgroundnya sebagai psikologi keluarga, ia memahami bagaimana dasar ekonomi
mikro di level keluarga. Apalagi saat ini ia menjabat sebagai pimpinan Tim Ahli
untuk program ketahanan keluarga pada Kementerian Agama.

Dalam kesempatan itu Alissa mempertajam hasil penelitian SMERU
tentang intervensi yang diperlukan untuk pengembangan kehidupan anggota
keluarga penerima PKH. Alissa mengakui bahwa dana tunai dari PKH tersebut
membantu masyarakat miskin terutama di saat-saat genting untuk menjaga
keberlanjutan hidupnya. Namun, sebagaimana ditemukan oleh SMERU, ia
mengkonfirmasi perlunya penguatan literasi finansial di level keluarga,
terutama di antara keluarga penerima PKH. Hal itu lah yang sudah mulai Ia
lakukan bersama LKK NU dan Tim Kemenag yang dipimpinnya dengan menyasar calon
pasangan suami-istri yang hendak menikah.

“Sebagaimana temuan SMERU, saya juga menemukan rendahnya financial
literacy di masyarakat. Bahkan masalah ekonomi dalam keluarga yang salah
satunya bersumber dari rendahnya financial literacy menjadi penyebab kedua
terbesar dari angka perceraian,” katanya.

Sebelumnya, peneliti senior SMERU sekaligus wakil
Direktur untuk Penelitian dan Penjangkauan, Widjajanti Isdijoso, mengungkapkan temuan
studi yang dilakukan di empat kota yakni Indramayu, Pacitan, Solo, dan Bandung
Barat. Temuannya menyebut bahwa anggota keluarga penerima program PKH tidak
homogen. Mereka beragam dalam hal minat, pengetahuan, pendidikan atau
keterampilan dan akses terhadap sumberdaya. Sebagai konsekuensinya, strategi
pengembangan penghidupan keluarga penerima PKH harus  menyesuaikan dengan keberagaman ini  dan menerapkan intervensi yang berbeda-beda menurut
 minat, latar belakang pendidikan, dan keterampilan
mereka, juga karakteristik wilayah dan pola permintaan pasar.  

Pemaparan Alissa Wahid dan Widjajanti Isdijoso dilakukan
dalam acara yang diselenggarakan oleh Bappenas bekerja sama dengan Mahkota
dengan dukungan dari Pemerintah Australia. Dalam acara tersebut hadir
setidaknya 100 peserta dari berbagai kementerian dan lembaga dari dalam dan
luar negeri sejak pukul 13.00 sampai 19.00 WIB. (Ahmad Rozali)

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.