Beranda News Hukum Musafir Bermakmum Kepada Orang yang Bukan Musafir

Hukum Musafir Bermakmum Kepada Orang yang Bukan Musafir

7
0
Hosting Unlimited Indonesia

ARRAHMAH.CO.ID

Shalat berjamaah sangat dianjurkan dalam Islam. Hukumnya sunnah muakkad. Ada banyak dalil dan keterangan dalam hadits Nabi yang menunjukkan keutamaan shalat berjamaah dibandingkan shalat sendirian. Salah satunya adalah hadits yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Artinya, “Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dibandingkan shalat sendirian,” (HR Bukhari dan Muslim).

Shalat berjamaah juga disunnahkan bagi musafir atau orang yang sedang melakukan perjalanan. Apalagi pada masa sekarang, khususnya di Indonesia, mushalla dan masjid sudah ada di mana-mana sehingga memudahkan orang yang dalam perjalanan (musafir) untuk melakukan shalat.

Hosting Unlimited Indonesia

Namun bagaimana hukumnya bila musafir bermakmum kepada orang yang mukim atau orang yang bukan musafir?

Syekh Mushtafa Bugha dalam AlFiqhul Manhaji ‘ala Madzhab Imamil Syafi’i menjelaskan bahwa:

أن لا يقتدي بمقيم، فإن اقتدى به وجب عليه أن يتابعه في الإتمام ولم يجز له القصر

Artinya, “Musafir yang melakukan shalat qashar tidak boleh bermakmum kepada yang mukim, bila bermakmum kepada mukim dia mesti shalat sempurna dan tidak boleh shalat qashar.”

Musafir boleh saja mengikuti shalat berjamaah orang yang mukim atau bermakmum kepada orang yang bukan musafir asalkan shalat yang dikerjakannya bukan shalat qashar.

Dengan kata lain, kalau dia mengerjakan shalat zuhur mesti empat raka’at, tidak boleh diqashar menjadi dua rakaat bila bermakmum kepada yang mukim.

Sebaliknya, bila yang menjadi imam adalah musafir, maka dia boleh melakukan shalat qashar, meski jamaahnya orang mukim. Setelah selesai shalat dua rakaat, maka jamaah yang bukan musafir menyempurnakan shalatnya.

Syekh Musthafa Bugha menjelaskan:

أما العكس فلا مانع من القصر فيه، وهو أن يؤم المسافر مقيمين فله أن يقصر

Artinya, “Adapun sebaliknya, maka tidak masalah melakukan shalat qashar, ketika musafir menjadi imam bagi orang mukim, dibolehkan untuk mengqashar shalatnya.”

Simpulannya, musafir boleh bermakmum kepada orang mukim dengan syarat tidak melakukan shalat qashar dan mesti shalat sempurna. Sebaliknya, musafir dibolehkan melakukan shalat qashar bila menjadi imam bagi orang yang mukim, setelah selesai shalat orang mukim diwajibkan untuk menyempurnakan shalatnya. Wallahu a’lam.

(Ustadz Hengki Ferdiansyah, pegiat kajian hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah)

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.