Beranda News RMINU Pertanyakan Klaim PKS tentang Pengusul Hari Santri

RMINU Pertanyakan Klaim PKS tentang Pengusul Hari Santri

34
0

ARRAHMAH.CO.ID

Jakarta,
Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Ghoffar Rozien menanggapi pernyataan Partai Keadilan Sejahtera yang dimuat pada akun Facebook resminya, yang tiba-tiba menyatakan bahwa pengusul Hari Santri 22 Oktober adalah Hidayat Nur Wahid yang juga Wakil Ketua Majelis Syuro partai tersebut.

“Mari kita tengok ke belakang. Pengusul Hari Santri 22 Oktober adalah Dr. Hidayat Nur Wahid. Wakil Ketua MPR yang juga Wakil Ketua Majelis Syuro PKS. Sebelumnya Presiden Jokowi mengusulkan Hari Santri pada tanggal 1 Muharram. Lalu Dr Hidayat Nur Wahid mengusulkan Hari Santri dirayakan pada tanggal 22 Oktober, ” tulis PKS, Kamis (21/3).

Pernyataan tersebut menurut Gus Rozien sangat patut dipertanyakan dan klaim yang tidak berdasar. Ia pun menegaskan tidak pernah mendengar dan melihat keterlibatan Hidayat Nur Wahid dalam proses pengusulan hari santri tersebut.

Gus Rozien masih ingat saat pertemuan bersejarah pada hari Rabu, 22 April 2015 di Hotel Salak, Bogor, Jawa Barat yang membahas agenda pembahasan kapan pastinya Hari Santri ditetapkan.

Pada waktu itu menurutnya perwakilan ormas Islam yang hadir di antaranya Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekretaris Umum Muhammadiyah Abdul Mu’ti, perwakilan Al Irsyad, DDI, Persis, dan juga sejarawan dan pakar Islam, seperti Azyumardi Azra.

loading...

Setelah berdiskusi panjang sampailah pembahasan tanggal 22 Oktober diusulkan menjadi Hari Santri. Pada tahap ini, menurutnya masih ada yang tidak setuju Hari Santri jatuh pada 22 Oktober walaupun pada akhirnya mayoritas yang hadir dalam pertemuan tersebut menyepakati Hari Santri ditetapkan pada 22 Oktober.

“Sejauh saya ingat tidak ada PKS dan atau wakilnya dalam pertemuan 3 hari tersebut,” tegasnya, Kamis (21/3).

Apalagi khalayak ramai sudah tahu bahwa PKS melalui Fahri Hamzah tidak setuju dengan adanya hari santri. Sampai-sampai Fahri lewat akun Twitter-nya @fahrihamzah, Kamis (27/6/2014), menulis “Jokowi janji 1 Muharam hari santri. Demi dia terpilih, 360 hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!”.

Gus Rozien melanjutkan bahwa 13 ormas yang hadir saat pertemuan tersebut 12 ormas menandatangani usulan Hari Santri tanggal 22 Oktober. Ada satu ormas yang tidak menandatangi kesepakatan itu adalah Muhammadiyah.

Pertemuan yang dilaksanakan tiga hari itu, merupakan perintah langsung Presiden Joko Widodo kepada Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Syaifuddin.

Sebelumnya, pemerintah mengusulkan Hari Santri diperingati pada 1 Muharram atau Tahun Baru Islam. Usulan tersebut tidak disetujui Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Akhirnya, melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015, Presiden Jokowi menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri. (Muhammad Faizin)

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.