Beranda News PPIM: Buletin Jumat di Masjid Patut Diwaspadai

PPIM: Buletin Jumat di Masjid Patut Diwaspadai

20
0
Hosting Unlimited Indonesia

ARRAHMAH.CO.ID

Jakarta,

Sejumlah
penelitian menunjukkan adanya penguatan radikalisme agama di ruang publik,
salah satunya melalui masjid
, di antaranya melalui buletin jumat yang merupakan salah
satu media dakwah yang
banyak digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan dan ajaran Islam di dalam masjid terutama saat
shalat Jum’at.

Namun pesan yang disampaikan dalam buletin ini perlu diwaspadai karena kontennya ‘tidak
bebas nilai’; artinya, bahwa buletin
ini memiliki sejumlah tujuan yang beragam di antaranya adalah memasukkan
paham-paham ideologi
radikal.

Hal itu mengemuka dalam Launching Hasil Asesmen Buletin Jumat di Jawa yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN
Jakarta di Hotel Century Park Senayan, Jakarta Pusat, Senin (18/03)
.
Forum ini menilai bahwa pembubaran gerakan radikal Islam yang dilakukan oleh
pemerintah memiliki dampak yang tinggi secara formal namun tidak
dalam
aspek lainnya. Hal itu dibuktikan
dengan buletin Jumat yang
diterbitkan Hizbut Tahrir Indonesia yang sebelumnya bernama Al
Islam dan saat ini berganti nama menjadi Kaffah, masih tersebar luas
di masjid-masjid dengan
nuansa narasi yang sama.

Hosting Unlimited Indonesia

Koordinator
survei
, Kusmana mengumumkan dari seratus
masjid yang tersebar di lima kota penyangga di Pulau Jawa yakni Kabupaten
Pandeglang, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sukoharjo, dan
Kabupaten Gresik,
37 persen di antaranya
telah menerima dan menyebarkan Buletin Jumat.

“Meskipun
hanya 37
persen namun yang paling masif penyebarannya adalah Buletin Kaffah,” jelas
Tantan Hermansyah selaku Tim Peneliti.

Tim peneliti
membagi dua kategori Buletin, yakni Kaffah dan non-Kaffah. Hal itu didasari
dari
penemuan
sebanyak 44 edisi buletin non-kaffah tidak selalu ada dalam setiap kota, namun
Buletin Kaffah
selalu ditemukan pada setiap kota dan mudah ditemukan di media online.

Konten buletin
Kaffah secara umum membahas tentang hasrat membangun kembali negara
dan masyarakat
melalui dasar-dasar ajaran Islam. Setelah diteliti, dari 70 edisi Buletin
Kaffah
100 persen bermuatan
paham radikal.

Sedangkan
Buletin non-Kaffah yang ditemukan secara fisik terdapat 84,09
persen bermuatan non-radikal dan sisanya 15,91
persen memiliki konten radikal.
“Meskipun jumlahnya kecil juga cukup
menghawatirkan,” ungkap Kusmana.

Hasil rilis rata-rata,
ketersediaan dana dari sejumlah masjid untuk mengadakan buletin tidaklah besar,
tetapi semua masjid yang diakses kecuali masjid-masjid di Pandeglang bersedia
untuk mendanai pengadaan Buletin Jumat.

“Itu artinya
sejumlah masjid masih melihat buletin sebagai media yang efektif untuk
menyampaikan pesan-pesan ajaran Islam, meskipun di tengah kekurangmampuan dalam
berimajinasi bagaimana mereka dapat memproduksi maupun ke mana mencari buletin
Jumat untuk didistribusikan,” papar Kusmana.

Lebih lanjut,
dosen Fakultas Usuluddin UIN Jakarta itu memperingatkan, jika fenomena dari
data-data yang ada tidak diantisipasi maka beberapa pihak
akan memanfaatkannya sebagai peluang yang strategis untuk memasukkan paham-paham
radikal dalam bentuk buletin secara suka rela.

“Saya kira hal
ini harus diantisipasi dengan menyediakan buletin yang ramah untuk disebarkan
ke masyarakat sebelum dimanfaatkan oleh mereka,” terangnya. (Nuri Farikhatin
/Ahmad
Rozali
)

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.