Beranda News Soal Kiamat Sudah Dekat dan Hoaks terhadap Pesantren Pulosari

Soal Kiamat Sudah Dekat dan Hoaks terhadap Pesantren Pulosari

32
0
Hosting Unlimited Indonesia

ARRAHMAH.CO.ID

Oleh KH Reza Ahmad Zahid

Baru saja saya melihat tayangan TV One yang menampilkan berita huru-hara kiamat sudah dekat yang katanya disampaikan oleh Gus Romli, pengasuh Pondok Pesantren Miftahu Falahil Mubtadi’ien, Pulosari, Kasembon, Malang, Jawa Timur. Ketika profil pengasuh dan pesantren Pulosari ditampilkan, secara refleks saya teringat dengan sosok pendiri pesantren, yaitu ayah mertua saya: KH Sholeh Saifuddin, seorang kiai dan mursyid Thariqah Akmaliyyah. 

Seringkali ketika kami duduk santai berdua atau bersama keluarga, beliau bercerita tentang perjuangan syiar Islam di dusun Pulosari, awal mula berdirinya pesantren yang beliau bina dan hingga kisah-kisah beliau ketika mondok di Sumbersari, Bendo, dan pesantren-pesantren lainnya. Dalam cerita beliau, Miftahu Falahil Mubtadi’ien adalah sebuah kalimat yang beliau temukan ketika beliau mengaji (mbalah) kitab syarah Safinatun Najah yang pada akhirnya menjadi nama pesantren yang beliau dirikan, dengan harapan semoga menjadi doa yang serupa dengan maknanya: kunci kesuksesan para pemula pencari ilmu.

Keseharian beliau yang saya tahu setiap hari hanya dihabiskan untuk shalat berjamaah dengan para santri, dan mengaji dengan para santri atau jamaah. Bahkan beliau aktif setiap malam membangunkan para santri untuk diajak qiyamul lail. Sehari-hari bersama keluarga anak dan cucu menjadi keseharian beliau dan bersama santri ngopeni hewan ternak, memberi makan sapi, kambing, ayam dan ikan menjadi hiburan. Begitu polos hidup dan pola pikirnya terhadap dunia hingga beliau tidak berkenan pesantrennya diberi papan nama di pinggir jalan seperti layaknya pesantren yang kita temui.

Hosting Unlimited Indonesia

Pernah saya tanyakan, kenapa Abah tidak memasang papan nama atau papan arah ke pesantren? Beliau menjawab dengan ringan: “Ya biar saja nanti juga akan ditunjukkan oleh Gusti Allah sendiri. Suatu ketika pernah saya tawari program pendanaan dari pemerintah untuk pesantren, dengan keras beliau menolak sambil mengatakan: “Saya tidak mau pondok ini dibangun dari hasil pencairan proposal saya hanya ingin pondok ini dibangun dari pencairan ‘proposal’ dari Allah.” 

Sepeninggal beliau, tongkat estafet pengasuh pesantren serta thariqah dilanjutkan oleh putra beliau, Gus Romli. Tidak jauh beda antara Kiai Sholeh dan Gus Romli, kecuali hanya beda fisik saja: Kiai Sholeh berbadan kurus sedangkan Gus Romli berbadan gemuk. Aktivitas serta keseharian Gus Romli juga tidak jauh beda dengan abahnya, hanya saja Gus Romli pernah mendirikan sebuah jamaah pengajian dan shalawatan yang dinamakan dengan Musa AS. Seperti layaknya majelis pengajian dan shalawatan, Gus Romli mengajak jamaahnya untuk bershalawat, mengaji, memberikan nasihat kepada para santri dan jamaahnya. 

Saat ini Gus Romli sedang dicoba oleh Allah dengan ganasnya berita hoaks yang mendiskripsikan sesuatu yang sangat jauh dari kebenaran dan bertolak belakang dengan latar belakang pendidikannya yang notabene alumni Pesantren Lirboyo dan bahkan sempat berkhidmah di pesantren tersebut. Pertama kali saya membaca sebaran di medsos saya sempat kaget dan tertawa geli sambil berkata, “Ono-ono ae iki (ada-ada saja, red), para penyebar hoaks. Yang paling membuat saya tertawa geli adalah berita bahwa Gus Romli mengubah rukun Islam, suatu hal yang tidak masuk akal. Walaupun toh demikian saya sempatkan untuk bertemu langsung dengan Gus Romli sekaligus sambang dan sowan kepada ibu mertua saya.

Saat saya sowan dan sungkem kepada sang ibu, saya melihat kesedihan dan kegelisahan yang mendalam di wajah beliau, walaupun terkadang berusaha ditutupi dengan senyuman yang terurai karena dihibur oleh anak serta cucu beliau. Hal itu karena sebaran berita hoaks yang berisi fitnah kepada putra sulung beliau, yakni Gus Romli. Pada akhirnya beliau tak tahan menahan air mata sambil mengatakan: “Piye le mas-mu, piye le pondoke? (Gimana nak ini kakakmu, gimana nak ini pondoknya?)”. Sebelum saya menjawab, hati saya sempat membersit: di mana hatimu hai pembuat hoaks! Saya hanya bisa menenangkan beliau dengan ucapan, “Insyaallah masalah akan segera selesai, saat ini Allah sedang memberi ujian dan insyaallah akan segera usai.” 

Di ruang keluarga, di rumah almarhum Kiai Sholeh, di situ saya berbincang dengan Gus Romli. Gimana kabar, Mas Rom? Semoga sehat, kuat, sabar dan tabah, begitu yang saya sampaikan saat mengawali pembicaraan dengan Gus Romli. Menurut Gus Romli, apa yang diberitakan di luar itu sama sekali tidak benar, itu hasil pemelintiran oknum yang tidak suka dengan pesantren Pulosari, bahkan saya tidak pernah mengatakan seperti itu atau bermaksud seperti itu. 

Gus Romli lebih lanjut mengatakan bahwa tarikan dana itu tidak ada, yang ada adalah uang saku santri bagi yang ingin mondok di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan yang sudah menjadi aturan layaknya santri kalau mau mondok harus punya uang saku untuk menghidupi dirinya sendiri selama berada di pondok. Mengubah rukun Islam adalah berita fitnah besar, terjadi huru-hara sehingga para jamaah diwajibkan membeli pedang itu adalah bohong, sedangkan kiamat sudah dekat memang dari dulu kiamat sudah dekat tapi tidak pernah ada statemen untuk mengungsi ke pondok atau menjual aset. Saya hanya memaparkan tanda-tanda kiamat sesuai dengan yang ada di kitab kuning, begitu paparan Gus Romli. Semoga Allah memberi ketabahan dan kesabaran dalam melalui cobaan ini.

Hanya sebagai bahan evaluasi saja, berita hoaks yang memfitnah pesantren Pulosari sangat berpotensi menjadi sebuah alat pengalihan suasana yang dapat merusak suasana menuju pesta demokrasi. Sebenarnya hanya masalah sepele yang tidak memiliki ujung kebenaran, akan tetapi fitnah ini terus-menerus ada yang mem-blow up. Hanya dari diri kita di mana kita memulai untuk tidak menyebar berita hoaks yang meresahkan, agar kita tetap merasakan kedamaian lingkungan kita. Janganlah kita menjadi korban hoaks dengan cara memakan mentah-mentah serta menpercayai kontens berita hoaks. 

Pada sebuah kesempatan, saya pernah menyampaikan sesuatu sebagai langkah-menyikapi berita hoaks. Tabayyun, tasyawur, dan tawashau/taushiyah. Tabayyun merupakan langkah awal yang kita lakukan ketika kita menerima berita hoaks. Sebagai orang yang terpelajar dan memiliki kehati-hatian sebaiknya lebih mengedepankan tabayyun atau mencari kejelasan terlebih dahulu kepada orang yang bersangktukan. Tasyawur adalah tindakan kedua dengan memusyawarahkan hal yang menjadi materi hoaks dan perihal perkembangan materi serta menangkal hoaks secara bersama. Tawashau atau taushiyah seperti yang termaktub dalam ayat terakhir Surat al-‘Ashr menjadi langkah terakhir untuk saling bisa menasihati antara satu dan yang lain agar terhindar dari musibah dan diberi keselamatan.

Salam stop hoaks!

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren al-Mahrusiyah Lirboyo, Kediri, Jawa Timur

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.