Gus Dur Menyambung Ragam Perbedaan di Indonesia - #HaulGusDur

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Oleh : Ubaidillah Achmad Cak Masykur -  Refleksi ini, adalah bentuk upaya menginterpretasikan refleksi rasa ...

Gus Dur Menyambung Ragam Perbedaan di Indonesia - #HaulGusDur
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Oleh : Ubaidillah Achmad

Cak Masykur - Refleksi ini, adalah bentuk upaya menginterpretasikan refleksi rasa rindu penulis kepada Gus Dur. Refleksi ini sekaligus menyambut haul Gus Dur yang diharapkan dari para Gusdurian untuk mengingatkan bangsa Indonesia tentang arti penting keberagamaan, keragaman, dan kebangsaan. Tema yang diusung bersamaan dengan kehadiran Gus Dur ini, akan sangat diperlukan sepanjang kelangsungan kutub bumi ini. 

Mengapa tema yang diusung oleh Gus Dur bersamaan dengan kehadirannya berlangsung lama dan mengisi sejarah pemikiran Islam hingga sekarang? Karena tema yang diusung oleh Gus Dur sangat mendasar dan berisi falsafah kehidupan, kearifan, spiritualitas. Adanya nilai filosofis yang mendasari pandangan dan gerakan Gus Dur inilah yang dapat memberikan kenangan kepada siapa saja yang mau membacanya, berupa: horizon keberagamaan yang ramah, keragaman yang indah, dan kebangsaan yang kuat kepada umat beragama dan warga negara Indonesia.

Secara aplikatif, kenangan horizon Gus Dur ini, banyak menjawab persoalan atau konflik individu dan masyarakat. Gus Dur lebih cepat dari para pemimpin pemerintah, yaitu dalam konteks menjawab kekhawatiran banyak pihak terkait dengan persoalan yang mengarah pada desintegrasi bangsa. Desintegrasi bangsa ini bisa terjadi, jika fundasi kebinikaan tercerabut dari akar kebangsaan dan keragaman masyarakat Indonesia. Adanya prinsip kebinikaan inilah yang di antaranya telah menjadi kekhasan Gus Dur.

Sehubungan dengan prinsip Gus Dur tersebut akan berdampak positif dan arti penting terhadap kelangsungan kebinikaan bangsa Indonesia. Dalam perspektif berdemokrasi, konflik kewarganegaraan seputar persoalan keberagamaan, keragaman, dan kebangsaa merupakan sebuah fenomena yang wajar terjadi.

Namun demikian, jika setiap konflik tidak ada resolusi dengan baik, maka akan membuka peluang masuknya kepentingan tertentu yang merusak sistem pemerintahan dan memperbesar konflik warganegara. Yang diuntungkan dari konflik ini, adalah kepentingan kehendak kuasa dan sistem kapitalisme dunia. Dalam konteks resolusi konflik, Gus Dur telah memberikan model resolusi yang baik untuk menjawab persoalan relasi agama dan negara, relasi kerukunan intern umat Islam, antar umat beragama, kerukunan antar sesama warga negara, baik dari pengikut agama yang terdaftar maupun agama tradisi leluhur warganegara yang belum terdafatar sebagai agama yang diakui negara.

Sebelum kehadiran kiprah Gus Dur di tengah konflik keberagamaan, keragaman, dan kebangsaan, para pemimpin dan yang dipimpin terus mengalami konflik. Sikap penolakan rakyat terhadap keputusan pemerintah dalam perspektif penguasa selalu diangap sebagai bentuk makar. Sebaliknya, dalam siatem kekuasaan, banyak sikap kehendak kuasa yang hanya mengambil keuntungan pribadi dengan atas nama pemerintah dan kemajuan bangsa.

Sehubungan dengan lemahnya perspektif berdemokrasi yang baik, antara penguasa dan yang dikuasai, maka sistem demokrasi di Indonesia menjadi lemah dan tidak berfungsi. Semua sistem pemerintahan Orde Baru mengacu pada keputusan satu orang.

Tentu saja, secara teoritis bangsa ini mengikuti asas trias politika, namun dalam prakteknya yang terjadi, telah mengikuti asas "asal bapak suka". Fenomena ini, tidak terlepas dari kerja Orde Baru yang selama ini, telah gagal menciptakan demokratisasi di tengah keberagamaan, keragaman, dan kebabgsaan. Selain itu, Orde Baru masih menyisakan konflik yang belum terjawab dan masih mesterius penyebab dari konflik ini.


Cakrawala Teks Gus Dur

Teks kajian ini, bernama Gus Dur, yaitu sosok yang memiliki kecerdasan sejak masih kecil, namun mulai terbaca dalam sejarah bangsa Indonesia, sejak setelah berkiprah di PBNU. Kiprah Gus Dur di PBNU dimulai sejak muktamar ke 26 di Semarang, tahun 1979. Dalam muktamar ini, Gus Dur diangkat menjadi wakil katib tanfidziyah PBNU.

Sejak menjadi wakil Katib PBNU, Gus Dur mengajar Islamologi di Yayasan Kristen GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) yang berlokasi di Sukun Kota Malang. Selama mengajar Islamologi, publik mulai memahami sosok Gus Dur yang memiliki kekhasan pandangan, bahwa semua agama sama dan menekankan arti penting toleransi budaya bagi warganegara.

Selama berkiprah di NU, masyarakat NU banyak yang mencintai Gus Dur, karena dua hal: pertama, karena komitmen dan tanggung jawab terhadap amanah serta benar benar menjadi jembatan NU untuk tetap konsisten menjaga tradisi kenabian, kewalian dan para Ulama pendiri NU. Kedua, karena pemikirannya yang cerdas dan kritis yang kuat secara normatif, namun juga memiliki fundasi bangunan pemikiran historis yang kokoh dan kuat. Ketiga, karena cucu hadratusyeikh KH. Hasyim Asy’ari dan putra sulung dari KH. Wahid Hasyim.

Alasan yang ketiga ini, tidak akan penulis bahas dalam tulisan ini,  karena sudah banyak buku tentang jalur kenasaban Gus Dur yang selama hidupnya dikenal sering berkunjung ke Makam Kiai Cebolek atau Syekh Ahmad Al Mutamakkin. Alasan pertama, juga sudah banyak yang mengupasnya dengan rinci dan spesifik.

Sedangkan, alasan yang kedua, dapat dibaca dari langkah langkah melakukan resolusi konflik dan tema pemikiran Gus Dur menjawab persoalan Islam, NU, dan budaya, politik nasional dan Internasional. Sehubungan dengan menjawab persoalan ini, Gus Dur lebih menekankan arti penting pendekatan yang didasarkan pada:

Pertama, prinsip mendasar atau makna dasar dari setiap teks atau fenomena (filosofis) sebelum dikaitkan dengan pandangan atau aliran pemikiran, Kedua, prinsip agama atau tradisi kebenaran yang diperjuangkan oleh para Nabi. Ketiga, prinsip mengelola kepentingan yang berbeda, sehingga meminimalisir konflik dan menghapus hukum rimba. keempat, prinsip mengelola kepentingan sesuai dengan
latar belakang kondisi sosial dan budaya masyarakat. Kelima, prinsip memberikan dampingan sesuai dengan kondisi psikis untuk tujuan membentuk keutamaan hidup dan kebaikan, baik secara vertikal dan horizontal.

Konsep Berfikir Gus Dur

Konsep berfikir Gus Dur seperti di atas, tentu saja membuat terkejut masyarakat santri, karena di lingkungan masyarakat santri masih menggunakan normatifitas pendekatan ilmu fiqih. Sementara pendekatan yang digunakan oleh Gus Dur, adalah dengan menggunakan pendekatan kajian historis terhadap kemunculan ilmu fiqh, yaitu dengan pendekatan hikmah at tasyri' dan maqoshid at tasyri'.

Dengan menggunakan pendekatan historis, Gus Dur selalu berpedoman adanya kesamaan hak kemuliaan seluruh anak cucu Adam. Artinya, keberadaan manusia dalam posisi yang setara. Manusia memiliki martabat dan kebutuhan asasi yang sama. Karena alasan ini, Gus Dur diterima semua pihak, baik pihak umat Islam dan non muslim. Prinsip ini, telah menjadi pedoman Gus Dur memandang agama dan budaya.

Namun demikian, sikap Gus Dur ini bukan berarti tanpa konflik, justru tidak sedikit konflik yang mempersoalkan pandangan Gus Dur, yang terjadi di lingkungan Ulama NU. Karena kecerdasan dan trah Gus Dur sebagai cucu KH. Hasyim Asy'ari, maka semua konflik berakhir dengan Islah yang semakin menguatkan pandangan dan gerakan pemikiran Gus Dur.

Adapun adanya beberapa ciri model pemikiran Gus Dur yang sering menyebabkan terjadi konflik dengan Ulama NU, karena adanya prinsip para Kiai berhenti atau bertumpu pada masalah tauhid dan fiqih secara hitam putih (normatif). Sementara Gus Dur, dalam konteks tertentu, telah menggunakan pendekatan kesejarahan terhadap objek hukum. Prinsip ketuhanan (ketauhidan) pun, Gus Dur lebih menekankan arti penting menjaga relasi suci kosmologi, antara Tuhan, Manusia, dan kesemestaan.

Dengan kata lain, mayoritas Ulama menyamakan antara hukum yang cabang dan hukum yang asal. Kedua tema kajian ini dipahami secara normatif, yang memang sangat formalistik, sehingga membentuk sikap atau pandangan agama yang hitam pitih.

Sementara itu, Gus Dur ingin mengambil sari atau inti kajian ketuhanan (katauhidan) dan inti kajian ilmu fiqh. Kedua inti kajian ini menjadi prinsip Gus Dur sebelum masuk pada interpretasi para penafsir agama yang serat dengan latar belakang kesejarahannya masing masing. Tentu hal ini tidak mudah dilakukan bagi yang lain. Karenanya, bagi yang sudah mampu menerapkan model kajian ini bisa melakukannya sendiri, namun bagi yang belum mampu dapat membaca melalui pandangan dan konsep pemikiran Gus Dur yang sudah beredar luas di kalangan masyarakat Indonesia. Paradigma pemikiran Gus Dur ini, juga dapat menjadi bangunan pemikiran Islam Nusantara.

Gus Dur mengakui ada yang menjadi prinsip keyakinan dan ada yang bisa diintegrasikan dari sekian pemikiran para Ulama dan kearifan lokal. Kesemuanya ini akan kembali pada pilihan setiap individu, yang harus diingat, adalah bagaimana dengan keyakinan masing masing pengikut agama dapat menciptakan suasana hidup yang harmonis dan tetap menjaga kebinikaan. Sebagaimana pengakuan yang sering diungkapkan Gus Dur, diskursus sosial keagamaan tidak akan merubah keyakinannya pada konsep tujuan utama hidup (al ghayyah) dan konsep media untuk mencapai tujuan utama (al wasa-il).

Karenanya, jika tujuan utama berharap mensapatkan ridlau Allah dan mengikuti Akhlak Nabi, maka media yang dilakukan umat Nabi Muhammad juga harus sesuai dengan akhlak Nabi, yaitu bertauhid kepada Allah, menyempurnakan tatanan etika (akhlak), dan memaafkan, dan menciptakan keragaman pada koredor kemanusiaan, keadilan, dan persamaan. Jadi, agama Islam dalam keyakinan Gus Dur merupakan agama yang dapat berkembang secara historis. Artinya, ajaran agama yang memiliki prinsip nilai ketauhidan dan akan berintergrasi dengan keutamaan dan kebaikan hidup.

Selain itu, dalam keyakinan Gus Dur, Islam juga merupakan agama yang secara tegas dapat bersama sama dengan yang lain untuk memperjuangkan kemanusiaan, keadilan dan persamaan antar umat manusia. Dalam konteks perjuangan untuk tujuan universal, Islam menerima prinsip historis yang membuka lebar untuk didialogkan, bahkan sah untuk diperdebatkan kembali.

Karenanya, dalam pengakuan penegasan Nabi Muhammad, yang menggunakan Istilah "li-utammima makarimal akhlak", bermakna konteks kehadirannya yang bertujuan untuk menyempurbakan akhlak. Kata menyempurnakan bermakna pengakuan Nabi terhadap keutamaan dan kebaikan etika yang lain sebelum Nabi Muhammad. Dengan demikian, kehadiran Nabi bertujuan untuk menyempurnakan yang sudah baik. Sedangkan, yang model akhlak yang belum baik, bisa menjadi kawasan perbaikan, pembebasan dan pencerahan.

Gus Dur Versus Islam Formalis

Kisah Gus Dur versus Islam Formalis ini terjadi, tepatnya pasca reformasi bangsa Indonesia. Zaman Orde Baru, Islam Formalis masih terlihat dari para Ulama NU. Pasca Orde Baru, pandangan Islam formalis ini membentuk wajah baru yang lebih radikal dibandingkan formalisme beberapa Ulama NU. Pandangan baru yang lebih radikal ini lebih menunjukkan sikap formalis plus komunalis. Gelombang arus formalis plus komunalis ini, terjadi sejak tahun 2002.

Sejak tahun 2002 ini, telah bermunculan aliran radikal kanan berhadapan dengan aliran radikal kiri. Di antara kedua aliran ini, masih berdiri tegak aliran aswaja yang diusung oleh Nahdlatul Ulama. Di antara aliran ini, yang keras memberikan pandangan negatif kepada Gus Dur, adalah Radikal Kanan. Aliran radikal kanan ini selalu mengulang ulang membid’ahkan dan mengkafirkan komunitas NU dan mengatakan, bahwa Gus Dur sesat, Anggapan ini didaarkan pada adanya pilihan pendekatan Gus Dur terhadap pendekatan historis. Mereka yang anti Gus Dur, juga beranggapan kurang tepat, yang seolah olah Gus Dur, telah mengabaikan pendekatan normatif.

Karena sasaran kritik radikal kanan yang selalu bersamaan pada saat mengkritik NU dan Gus Dur, maka mereka ini menganggap NU dan Gus Dur seperti dua sisi mata uang saling terkait. Selain itu, keberadaan Gus Dur sendiri sudah menjadi potensi kekuatan Nahdlatul Ulama. Misalnya, keberhasilannya mempersiapkan khittah 1926 yang berberhasil diputuskan di Muktamar Situbondo Th. 1984.

Sesuai dengan pendekatan historis Gus Dur di atas, maka  lahir Khittah NU 1926 berisi: pertama, membangun integrasi nilai nilai keagamaan dan kebangsaan, Sesuai dengan maqasyid as syariyyah. Kedua, NU kembali pada civil society, sehingga tidak dimanfaatkan oleh kepentingan sesaat, kehendak kuasa sistem kekuasaan, dan sistem permodalan. Dengan demikian, NU akan jalan lurus sesuai dengan tradisi kenabian, tradisi kewalian, dan tradisi para pendiri NU. Misalnya, membebaskan dan mencerahkan masyarakat tanpa kepentingan. Ketiga, menjadikan akidah Ahlusunnah wal jama’ah (annahdliyah) sebagai landasan keagamaan. Keempat, menjadikan pancasila sebagai asas perjuangan negara. Kelima, pengembangan sosial, meliputi: budaya, politik kebangsaan, pendidikan, dan ekonomi.

Sehubungan dengan relasi Pancasila dan Aswaja tersebut, telah menjadi konflil yang dahsyat antara Gus Dur dan para Kiai. Beberapa Kiai menolak prakarsa pandangan Gus Dur tentang isi khittah tersebut, karena dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Ide penolakan beberapa Kiai ini, yang juga dijadikan dasar Islam formalis dari kelompok radikal kanan. Setelah reformasi, kelompok radikal kanan ini, sekarang tumbuh subur seperti rerumputan di musim penghujan.

Tentu saja, konsep khittah perspektif Gus Dur yang didukung mayoritas Kiai di NU bukan tanpa alasan. Pandangan cerdas Gus Dur ini telah dikuatkan KH. Ahmad Siddiq. Dalam pandangan KH. A. Siddiq, perspektif konsep Gus Dur perlunya mencantumkan pancasila sebagai asas perjuangan negara ini, memiliki dasar yang kuat. Bersamaan dengan pandangan KH. A. Siddiq, beliau telah mengeluarkan buku Khittad 26 dengan rumusan konsep NU tentang Aqidah dan Muamalah relasinya dengan sistem berbangsa dan bernegara.

Selain itu, kelompok Islam Formalis, baik dari kalangan Kiai NU sendiri dan dari kelompok Islam radikal kanan, tidak dapat menolak lebih keras terhadap Gus Dur, karena konsep ini juga sudah sesuai dengan pendekatan legal formal yang merujuk pada konsep piagam madinah yang pernah dibangun oleh Nabi Muhammad. Di dalam piagam madinah sendiri menunjukkan, bahwa sistem kebangsaan seharusnya diputuskan berdasarkan kesepakatan bersama masyarakat yang terlibat dalam sistem kebangsaan. Dalam piagam madinah yang lebih ditekankan, adalah kemanusiaan, keadilan, dan persamaan yang berlaku secara universal.

Jadi, kiprah Gus Dur yang sangat berharga, adalah model pendekatan historis dalam gerakan keberagamaan. Hal ini termaktub dalam pendekatan hikmah terbentuknya sebuah keputusan hukum (hikmah at tasyri') dan maqoshid at tasyri' (tujuan terbentuknya sebuah hukum). Kedua pendekatan ini secara legal formal sudah berlangsung sejak risalah Nabi Muhammad dan Ulama Madzhab.

Karenanya, jika ada beberapa kelompok formalis, yang mengatakan, bahwa pandangan Gus Dur didasarkan pada pendekatan hikmah at tasyri' dan maqoshid at tasyri'. Dan, jika ada yang menganggap kedua pendekatan ini tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka dapat dikatagorikan sebagai anggapan yang gagal paham terhadap prinsip risalah kenabian.
Bukankah pendekatan hikmah at tasyri' dan maqoshid at tasyri', merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk mencapai Ridlau Allah dan konsisten menggunakan cara berfikir yang berorentasi pada pemahaman yang mendalam (fiqh).

Dengan demikian, tidak sulit untuk memahami ajaran Islam yang bersumber dari risalah kenabian, kisah kewalian, dan prinsip salaf as shalikhin. Pertanyaannya, maukah kita melakukannya? Mudah dijawab, namun sulit bukan untuk dilakukan? Mulailah!!!


Rembang, 17/12/2016
Ubaidillah Achmad, Penulis Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng, Khadim Majlis Kongkow As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang

COMMENTS

Nama

.,1,#AyoMondok,12,#BelajarIslam,8,#CintaNKRI,2,#DanaHaji,1,#HariSantri,19,#HariSantri #HariSantri2017,1,#HariSantri2017,1,#HarlahNU,4,#HarlahNU91,2,#HaulKiaiHasanGenggong,2,#IslamIndonesia,1,#IslamNUsantara,4,#KajianRamadhan,1,#SavePalestine,3,#SaveRohingya,3,1 Muharram,3,1 Syawal,1,2016,1,A. Zakky Zulhazmi,1,Abdlul Halim Hasan,1,Abdul Mun'im DZ,1,Abu Bakar Hasan Assegaf,1,Adab Rasulullah,1,Advetorial,2,Afif Sunakim,1,Agama,1,Agama Cinta,1,Agenda,25,Agenda NU,1,Agnez Mo,1,Agus Zainal Arifin,3,Ahlusunnah wal Jama'ah,31,Ahmad Baso,1,Ahmad Mujib Rahmat,1,Ahmet Davutoglu,1,Ahsunnah,1,AJaran Islam,1,Akhir Zaman,1,Akhlakul Karimah,1,Al-Nimr,1,Al-Qaeda,1,Al-Qur'an,4,Al-Qur'an Raksasa,1,Al-Zastrow Ngatawi,1,Alamsyah M. Dja’far,3,Ali bin Abi Thalib,2,Ali Zawawi,1,Alissa Wahid,1,Allah,1,Almanak,1,Alumni Madrasah,1,Amalan,16,Amalan di Bulan Ramadhan,2,Amalan NU,4,Amalan Rasulullah,1,Amaliah,19,Aman Abdurrahman,1,Amirul Ulum,2,Anas Saidi,1,Angka Istimewa dalam Islam,1,Angka Tiga,1,Angker,1,Ansor,3,Ansor Garut,1,Ansor Malang,1,Ansor Surabaya,1,Anti Korupsi,4,Anti Narkoba,1,Anti Radikalisme,3,Anti Terorisme,2,Anti Wahabi,1,Aplikasi Batik,1,Aqidah,2,Arab,1,Arab People,1,Arab Saudi,2,Arief Mundatsir Mandan,1,Arifin Junaidi,1,Arrahmah Channel,5,Arrahmah Featured,11,Arrahmah.com,1,Articles,2,Artikel,26,Asian Youth Robot Olimpiade,1,Asosiasi Pesantren NU,1,Aswaja,24,Asy'ariyah,1,Australia,1,Avicenna Roghid Putra,1,Ayat-ayat Toleransi,1,Ayman Adz Dzawahiri,1,Ayo Mondok,1,AYRO,1,Bahtsul Masail,1,Bangsa Indonesia,1,Banser,14,Banten,1,Batik,1,Batik Indonesia,1,Battle,1,Battle of Uhud,1,Beasiswa,12,Beasiswa Kemenag,3,Beasiswa Madrasah,1,Beasiswa Santri,1,Beasiswa Santri 2016,1,Beasiswa Santri Berprestasi,2,Beasiswa Santri Berprestasi 2016,1,Bekasi,1,Belajar Islam,26,Berita,148,Berita Duka,5,Berita Islam,3,Bid'ah,2,Bid'ah para Sahabat,1,Bima Arya,1,Biseksual,1,Bisnis Haram,1,BNN,1,BNN di Jepara,1,BNPT,2,Bodo Kupat,1,Bogor,1,Bom Kuningan,1,Bom Sarinah,2,Bom Thamrin,2,BPOM,1,Brain,1,Budaya,1,Buku,6,Bulan Rajab,1,Buletin Jumat,5,Burdah,1,Cak Masykur,25,Cak Nun,1,Cak Nur,1,Cangkir9,2,Cep Herry Syarifuddin,1,Cerpen,2,Channel Arrahmah,37,Charlie Hebdo,1,Cheng Ho,1,Choirul Anam,1,Cinta,1,Cinta Bangsa,1,Cinta Tanah Air,1,Counter Radicalism,6,Cybercrime,2,Dajjal,1,Dakwah Islam,4,dan Transgender,1,Darurat Narkoba,3,Dea Anugerah,1,Deklarasi Nahdlatul Ulama,1,Deklarasi Serpong,1,Densus 88,2,Digital Media,2,Direktorat Pendidikan Madrasah,1,Dit PD Pontren Kemenag,1,DKI Jakarta,1,Doa,31,Doa Akhir Tahun,1,Doa Anak Sholeh,1,Doa Awal Tahun,1,Doa Berbuka,1,Doa dan Tirakat,1,Doa Gus Mus,1,Doa Harian,1,Doa Nabi,1,Doa Pernikahan,2,Doa Setelah Shalat,1,Doa Wudhu,1,Dosen UIN Walisongo,1,Download,1,Dr. Amin Haedari,1,DR. KH. M. A. SAHAL MAHFUDH,1,Dr. Nadirsyah Hosen,10,Dubes,1,Dzikir dan Doa,2,Dzikir Setelah Shalat,1,Editor's Choice,10,Effendi Choirie,1,Ekologi,3,Ekonomi,3,Eksekusi Mati Al-Nimr,1,English Edition,1,Esensi Syariah,1,Fadhila Haifa’ Afifah,1,Fadilah,1,Falak,1,Fardhu Wudhu,1,Fatayat NU,2,Fathoni Muhammad,1,Fatwa MUI,1,FDS,11,featured,133,Featured Arrahmah,44,Fikih,2,Fikih dan Muamalah,3,Fikih Ibadah,10,Fiqh,8,Fiqh Ibadah,1,Fiqh Qurban,6,Fiqh Shalat,3,Fiqih Lingkungan,2,Firqaf,1,Firqah,1,Firqoh,1,Fokus Khusus,1,FSN,2,Fulldayschool,4,Fundamentalis akan Habis,1,Gafatar,1,Galeri,4,Gay,1,Geluntung Agel Wafi,1,Gerakan Nasional AyoMondok,1,Gerhana,1,Gerhana Bulan,1,Gerhana Matahari,3,Gerhana Matahari Total,1,GIYE,1,Good Muslim,13,GP Ansor,8,Grand Syaikh Al-Azhar,1,Grants,1,Griya Gus Dur,1,GTK Madrasah,2,Guru Inspiratif,2,Guru Madrasah,2,Guru MAN,1,Guru Mughni,1,Guru PAI,1,Gus Ahmad Muwaffiq,1,Gus Aqib,1,Gus Dur,23,Gus Miek,1,Gus Mus,9,Gus Muwafiq,1,Gus Rizal Mumaziq,1,Gus Sholah,1,Gus Ubaidillah Achmad,1,Gus Yaqut,1,GusDur.net,1,Gusdurian,2,Habib Abu Bakar,1,Habib Lutfi,1,Habib Luthfi bin Yahya,1,Habib Novel,10,Habib Novel Alaydrus,7,Habib Salim Bin Jindan,1,Habib Sholeh Al-Hamid Tanggul,1,Habib Syech,1,Habib Umar bin Hafidz,3,Hadist,1,Hadist Jibril,1,Hadits,1,Hadits 72 Bidadari,1,Hadits Diskriminatif,1,Hafidzoh,1,Haji,7,Haji 2015,1,Haji 2017,1,Haji 2018,1,Hajj,1,Halal bi Halal,3,Halaqah,1,Hamid Ahmad Masduki Baidlawi,1,Har Santri,1,Hari Arafah,2,Hari Batik Nasional,1,Hari Natal,1,Hari Pahlawan,2,Hari Santri,32,Harlah,2,Harlah NU,3,Hasan al-Bashri,1,Haul,4,Haul Gus Dur,9,Haul Kiai Sholeh Darat,2,Haul Sunan Ampel,1,Haul Sunan Bonang,1,Haul Syekh Nawawi Al-Bantani,1,Headlines,20,Hikam Zain,15,Hikmah,83,Hikmah Islam,45,Hipsi,3,Hisab,1,Hizb,1,Hizbut Tahrir,2,Hizbut Tahrir Indonesia,2,Hoax,2,Hong Kong,1,HTI,2,HTIBubar,6,Hubbul Wathan minal Iman,1,Hukum Islam mengenai LGBT,1,Hukum Melangkahi Kuburan,1,Hukum Membunuh,1,Hukum Membunuh dalam Islam,1,Hukum Ucapan Natal,1,Humor,3,HUT TNI,1,Hymne,1,I-Banking,1,Ibadah,4,Ibn Muljam,1,Ibn Yaqzan,1,Ibu Nabi Muhammad,1,Ibunda Nabi Muhammad,1,IDC,1,Ideologi,1,Idhul Adha,1,Idul Adha,14,Idul Fitri,7,IIEE,1,IISRO,1,Ijazah,6,Ijtihad,1,Ikhbar,42,Ilmu Kalam,1,Image,1,Imam al-Syafi’i,1,Imam Ghazali,1,Imam Malik,1,Imam Muslim,1,Imam Nawawi,1,Imlek,1,INC,2,Indonesia Darurat Narkoba,1,Info Haji,2,Inspirasi,11,Inspirasi Pesantren,2,Interfaith,3,Internasional,98,International,3,International Islamic School Robot Olympiad,1,International Peace Day,1,Internet Banking,1,IPNU,1,IPPNU,1,Iqbal Khalidi,3,Iqbal Kholidi,1,Iran,1,ISIS,11,Islah Gusmian,1,Islam,16,Islam dan Perdamaian,1,Islam Di China,3,Islam di Papua,1,Islam Indonesia,3,Islam Nusantara,28,Islam Nusantara Center,1,Islam Papua,1,Islam Radikal,1,Islamic Event,1,Islamic State,1,Isra' Mi'raj,1,Istighosah Kubro,1,Istikharah,1,Ito Surmardi,1,JAD,1,Jakarta,4,Jamiyatun Nasihin,1,Jasad Utuh,1,Jawa Barat,3,Jawa Tengah,7,Jawa Timur,4,Jazirah Arab,1,JIhad,3,Jihad fi Sabilillah,1,Jokowi,5,Jonru,1,Jurnalistik,1,K.H. Ahmad Umar Abdul Manan,1,Kabar Duka,1,Kabar Pesantren,5,Kabar Pesantrens,1,Kajian Islam,18,Kajian Ramadhan,1,Kalam Ulama,4,Kalender,2,Kalender Islam,2,Kalimah Syahadat,1,Kalis Mardiasih,1,Kampung Damai,1,Kampus,1,Kekerasan,1,Kemenag,3,Kementerian Agama,1,Kementerian Agama RI,3,Keraton Sumenep,1,Kesehatan,4,Ketua PBNU,1,Ketum PBNU,1,Ketupat,1,Keutamaan Bulan Rajab,1,Keutamaan Shalat Tarawih,16,Keutamaan Shalawat Nabi,2,Keutamaan Tarawih,1,KH A Ghazalie Masroeri,1,KH Abdurrahman Wahid,5,KH MA Sahal Mahfudh,2,KH Maemon Zubair,1,KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh,1,KH Sahal Mahfudh,3,KH Said Aqil Siraj,1,KH Wahab Hasbullah,1,KH. Abdul Aziz Manshuri,1,KH. Abdul Ghoffar Rozien,1,KH. Abdul Karim,1,KH. Abdul Muhaimin,1,KH. Abdurrahman Wahid,1,KH. Ali M. Abdillah,1,KH. Bisri Mustofa,1,KH. Cep Herry Syarifuddin,3,KH. Hasyim Asy'ari,1,KH. Hasyim Asyari,3,KH. Husein Muhammad,2,KH. Iftah Sidiq,1,KH. Lukman Harits Dimyati,1,KH. Ma'ruf Amin,2,KH. Maimoen Zubair,11,KH. Marzuqi Dahlan,1,KH. Masdar F. Mas'udi,2,KH. Mustofa Bisri,2,KH. Said Aqil Siraj,5,KH. Sholeh Darat,8,KH. Thobary Syadzily,1,KH. Tubagus Muhammad Falak,1,KH. Yahya Cholil Staquf,3,KH. Zainal Mustafa,2,KH. Zakky Mubarok,2,KH.Shalih Darat,1,Khanza Iliyina Syafa,1,Khawarij,1,Khazanah,3,Khazanah Isam,7,Khazanah Islam,379,Khilafah Islamiyah,5,Khofifah Indar Parawansa,1,Khoirul Anam,2,Khulafaur Rasyidin,1,Khutbah,4,Khutbah Idul Fitri,2,Khutbah Jumat,1,Kiai Abdul Hamid,1,Kiai Hasan Genggong,1,Kiat Menulis,1,Kiddle,1,Kilas,1,Kirab Santri,1,Kisah Hikmah,16,Kisah Nabi,1,Kisah Rasulullah,1,Kisah Teladan,1,Kita Tidak takut,1,Kitab Durrotun Nasihin,1,Kitab Jawahirul Bukhori,1,Kitab Kuning,5,Kitab Pegon,1,Kitab Suci,1,Kokam,1,Kolom,96,Komedi Religi,1,Kominfo,1,Konferwil NU Jabar,1,Konflik Sunni-Syiah,1,Kongkow Sufi,3,Konsultasi Agama,1,Konsultasi Islam,1,Kontra Radikal-Terorisme,1,KPAI,1,KPK,1,Kreatif Indonesia,1,Kriminal,1,Krisis Jerusalem,2,Krisis Rohingya,7,KUPI,1,Kurban,7,Kyai Maimoen Zubair,1,Kyai Masdar,1,Kyai Pahlawanku,1,Kyai Pesantren,1,Lailatul Qadr,1,Lambang NU,1,Lapan-A2,1,Laporan,1,Lazisnu,1,Le Petit Prince,1,Lebaran,1,Lebaran Ketupat,1,Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama,2,Lesbian,1,Letter of Acceptance,1,LFNU,1,LGBT,2,Liberalisme,1,Life of Mohammed,3,Life of Muhammad,2,Liga Santri,2,Liga Santri Nusantara,3,Lingkungan,1,LIPI,1,Litbang Kemenag,1,Literasi,7,Literasi Digital,3,LoA,1,Logo Muktamar NU ke-33,1,Logo NU,1,Love Peace,1,LPDP,1,LSN,5,LSN 2017,3,LTN NU,3,Lukman Hakim Saifuddin,3,Lunar System,1,M. Kholid Syeirazi,1,M. Nur Kholis Setiawan,1,M. Rikza Chamami,13,M. Rikza Khamami,1,Ma'arif NU,2,Madrasah,24,Madrasah Diniyah,5,Madrasah Lebih Baik,2,Madrasah TBS,1,Mahasiswa,2,Mahbub Ma'afi,2,Mainstream Media,1,Majelis Dzikir,1,Majelis Shalawat,1,Makalah,3,Makam Gus Dur,1,Makam Nabi,1,Makam Nabi Muhammad SAW,1,Makam Rasulullah,1,Makam Sunan Bonang,1,Makkah,1,Maklumat,3,Makna Bismillah,1,Makna Logo Muktamar NU ke-33,1,Malik bin Anas,1,Mama Falak,1,MAN IC,1,Manhaj Salafi Imam Syafi’i,1,Manhaji,1,Manusia Robot Bali,1,Mars,1,Masjid,1,Masjid Zhenjiao,1,Masjidid Haram,1,Masjidil Haram,1,Maturidiyyah,1,Maulid,4,Maulid Burdah,1,Maulid dalam Islam,1,Maulid Nabi,7,Maulid Nabi Muhammad SAW,3,Mbah Maimoen Zubair,2,Mbah Moen Sarang,2,Mbah Mun,1,Mbah Sahal,1,Mbah Sholeh Darat,1,MCA,1,Media,2,Media Sosial,1,Media Watch,1,Mehmet Gormez,1,Melangkahi Kuburan,1,Meme,1,Meme Islami,1,Menag,2,Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia,1,Mengenal Jejak Mengenal Watak,1,Menristek,1,Menulis,1,Merayakan Maulid,1,Milad,1,Minal Aidin Wal Faizin,1,Minhajul 'Abidin,5,Moment,1,MTs Surya Buana Malang,1,MTsN 2 Pamulang,1,MTT,1,Mualaf,2,Mudik Lebaran,1,Muhammad,2,Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab,2,Muhammad Nasir,1,Muhammad Niam,1,Muhammad PBUH,1,Muhammad SAW,3,Muhammad Tijany,1,Muharram,2,MUI,1,Mujaheeden,1,Mujahidin Palestina,1,Mukiyah,1,Mukjizat,2,Muktamar NU,1,Muktamar NU ke 33,2,Munas-Konbes NU,20,Munawir Aziz,1,Muntaha Azhari,1,Museum Keraton Sumenep,1,Muslim Hong Kong,1,Muslim Kagetan,1,Muslim Papua,1,Muslimat NU,2,Nabi dan Rasul,1,Nabi Ibrahim,1,Nabi Muhammad,2,Nabi Muhammad SAW,6,Nadirsyah Hosen,6,Nadlatul Ulama,2,Nahdatul Ulama,18,Nahdlatul Ulama,157,Nahdlatul Ulamata,1,Name of Allah,1,Narkoba,3,Nasehat,8,Nasihat,1,Nasional,412,Nasionalisme,1,Natal,1,Natal 2015,1,Natal dan Maulid,1,Netizen Jurnalistik,1,New,1,News,677,News Ikhbar,2,News IPPNU,1,News Pictures,17,Ngaji Live,1,Ngaji Puasa,27,Ngaji Ramadan,8,Ngaji Ramadhan,20,Ngaji Video,1,Niat Puasa,1,Nishfu Sya'ban,1,NKRI,1,NKRI Harga Mati,3,NU,7,NU ANZ,1,NU Batang,1,NU Bogor,13,NU Care,2,NU Care LazisNU,2,NU Garis Lurus,1,NU Jabar,2,NU Jatim,1,NU Klaten,1,NU Semarang,1,NUCare,4,NUPeduli,1,Nur Kholik Ridwan,1,Nur Rofiah,1,Olimpiade Kedokteran,1,Opini,283,Opinion,1,Opnion,1,Orbituari,2,Pagar Nusa,13,PAI,2,Palestina,2,Palestine,1,Palestine Mujaheeden,1,Papua,1,Parenting,1,PBNU,8,PBSB,3,PBSB 2016,1,Peace,1,Peduli Bencana,2,Pelajar NU,1,Pendaftaran PBSB 2016,1,Pendididkan Islam,18,Pendidika Islam,1,Pendidika Islam,1,Pendidikan,171,Pendidikan Agama,1,Pendidikan Islam,158,Pendidikan Karakter,2,Pendidikan Madrasah,5,Pendidikan Politik,3,Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam,1,Pendidikn Karakter,1,Pendis Kemenag,2,Penggrebekan di Jepara,1,Pengobatan Islami,1,Penjajahan,1,Pentas PAI,1,Penulis,1,Perang,1,Perang Badar,1,Perang Uhud,1,Perguruan Tinggi NU,1,Perkemahan Rohis,1,Perppu Ormas,2,Perpres,1,Perpu Ormas,1,Perwimanas,2,Pesan Kiai,1,Pesantren,70,Pesantren Assalafiyah Cirebon. Assalafiyah,1,Pesantren Ibnu Mas'ud,1,Pesantren Lirboyo,2,Pesantren Mahasiswa,1,Pesantren Salaf,1,Photo,1,Pilihan Editor,105,Pilkada,1,Pilkada 2017,1,Pilkada DKI,1,Pilkada Jatim,1,Ploso,1,PMII,3,Polemik Sejarah Tere Liye,1,Politik,13,Ponorogo,1,Ponpes Al-Anwar,1,Pontianak,1,PPMN III,1,Pra Munas,4,Pramuka,1,Prof. Dr. Ahmad Tayyeb,1,Prof. Dr. Quraish Shihab,3,Profil,3,PTKI,1,Puasa Arafah,1,Puasa Ramadhan,1,Puisi,12,Pustaka,10,Pustaka Pesantren,8,Qawli,1,Qunut Nazilah,1,Quote,1,Qurban,5,Radicalism,1,Radikalisme,10,Rajab,1,Ramadan,2,Ramadhab,1,Ramadhan,72,Ramadhan 2015,12,Ramadhan 2016,2,Ramadhan di Hong Kong,1,Ramadhan Video,25,Rasis,1,Rasullah,1,Rasulullah SAW,6,Recommended,2,Refleksi Akhir Tahun,1,Release,2,Release PBNU,1,Religion,2,Remaja Islam,1,Resolusi Jihad,2,Resolusi Jihad NU,1,Rezeki Halal,1,Rijal Mumazziq Z,1,Risalah NU,1,RMI NU,4,Robikin Emhas,1,Robot,1,Rohingya,11,Rokok,2,Rubbubiyah,1,Ruchman Basori,2,Rukun Islam,1,Sahabat,1,Sahabat Nabi,2,Sahih Muslim,1,Said Budairy,1,Saifuddin Zuhri,1,Saifullah Ma'shum,1,Sajak,2,Salafi,2,Salam,1,Sanad Keilmuan,1,Santri,6,Santri Goes To Papua,3,Santri Menulis,1,Santri Urban,1,Sarkub Papua,1,Sastra Islam,11,Satelit,1,Satelit Indonesia,1,Save Rohingya,6,Sayembara Logo Muktamar NU ke-33,1,Science,5,Sedekah,3,Sejarah,5,Sejarah Al-Qur'an,1,Sejarah Indonesia,2,Sejarah Islam,1,Sejarah NU,2,Sekolah Lima Hari,1,Seni dan Sastra Islam,12,Seri Belajar Islam,8,Seri KH. Said Aqil Siraj,1,Seri Tokoh,1,SGTP,1,Shahih Muslim,1,Shaikh Nimr Baqir al-Nimr,1,Shalat,18,Shalat Gerhana,3,Shalat Idul Adha,1,Shalat Istiqa,1,Shalat Jum'at,6,Shalat Sunah,1,Shalat Sunnah,3,Shalat Tarawih,15,Shalawa Nabi,1,Shalawat,2,Shalawat Nabi,4,Shalawat Nabi Muhammad SAW,2,Shalawat Nariyah,3,Sholat Tarawih,1,Sholawat,1,Sholeh Darat,1,Short Course,1,Sifat Mulia Rasulullah SAW,1,Silsilah Nabi Muhammad SAW,1,Silsilah Rasulullah,1,Sindikasi Damai,15,Sindikasi Media,1,Singaparna,1,Sinopsis,1,Sirah Nabawiyah,2,Sirah Nabi,2,Siswa Berprestasi,1,Slamet Basyid,1,solar system,1,Solidaritas,1,Sponsored,2,Suara NU,1,Sudut Pandang,1,Sudut Taman Ramadhan,7,Sufistik,1,Sumanto Al Qurtuby,9,Sumenep,1,Sunnah,2,Sunnah Rasulullah,1,Sunnah Shalat,1,SUNNI,1,Sunni-Shia,1,Sunni-Syiah,1,Suraji,6,Surat Edaran Gubernur Jateng,1,Surat Terbuka,3,Suriah,2,Syafa'at Rasulullah,1,Syafaat Nabi,1,Syahid,1,Syahrozad Zalfa Nadia,1,Syaikhona Kholil Bangkalan,1,Syarat Wajib Zakat,1,Syariah,2,Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani,1,Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany,1,Syekh Abdul Qadir Al-Jailani,1,Syekh Dr. Muhammad Fadhil,1,SYIAH,3,Tafsir,1,Tafsir Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani,1,Tahlilan,2,Tahun Baru 2016,1,Tahun Baru Islam,2,Tahun Baru Masehi,1,Tanah Suci,1,Tarawih,21,Tasawuf,3,Tawan,1,Tawariq,1,Tayyip Erdogan,1,Tebuireng,6,Tekno,20,Teladan,1,Teladan Nabi,3,Teologi Teror,1,Teraweeh,1,Tere Liye,1,Teror,1,Teror 2016,1,Teror Jakarta,1,Teror Sarinah,1,Teror Thamrin,1,Teroris,4,Terorism,10,Terorisme,25,Tionghoa,1,Tips and Trick,2,Tokoh,86,Tokoh Betawi,1,Tokoh Bogor,1,Tokoh Dunia,3,Tokoh Indonesia,19,Tokoh Islam,114,Tokoh Kemerdekaan,2,Tokoh Muda Islam,25,Tokoh NU,17,Tokoh NU Bogor,1,Tokoh NU Jabar,1,Tokoh Perempuan,1,Tokoh PMII,1,Tokoh Rembang,1,Tokoh Syiah,1,Tolak FDS,12,Toleransi,5,Tradisi,2,Tragedi Crane di Masjidil Haram,1,Trend Sosial,2,Tuah Pesantren,1,Tulisan Arab,1,Tuntunan Islam,1,Turats,1,Turki,1,TurnBackHoax,4,Tutorial,1,TV9,1,Ubaidillah Achmad,23,Ubaidillah Ahmad,1,Ucapan Minal Aidin Wal Faizin,1,Ucapat Selamat Natal,1,Udhiyah,1,Uhud,1,Ulama,11,Ulama Bogor,1,Ulama Indonesia,1,Ulama NU,3,Ulama Nusantara,1,Ulama Perempuan,1,Ulama Salaf,1,Uluhiyah,1,UNU,2,Ustad Ahmad Ikrom,1,Ustadz,1,Ustadz Ahmad Ali MD,2,Ustadz Ali MD,1,Ustadz Fathuri,24,Ustadz Fatoni Muhammad,1,Ustadz Lc,1,Ustadz Ma'ruf Khozin,3,Ustadz Menjawab,5,Ustadz Yusuf Mukhtar Sidayu,1,Ustadz Yusuf Suharto,1,Uswah,3,Uswatuna,3,UU Ormas,1,Video,5,Vinanda Febriani,7,VoA-Islam,1,Wahabi,4,Wahabism,2,Wahabisme,2,Wahid Foundation,6,Wali Pasemone,1,Wali Songo,2,Walisongo,5,Waliyullah,1,Wardi Taufik,1,Wawasan,79,Wawasan Islam,54,Wawasan Kebangsaan,12,Wawasan Nusantara,43,Website Islam Indonesia,1,Website Islam Nusantara,1,Wirid dan Doa,2,Wirid dan Doa Setelah Shalat,1,Women and Jihad,1,Women Fighter,1,World Peace,1,Wudhu,3,Yahya Staquf,1,Yasin,1,Yayasan Saifuddin Zuhri,1,Yenny Wahid,3,Yogyakarta,8,Z-Featured,3,Zainal Mustafa,1,Zakat,4,Zakat Fitrah,2,Zakir Naik,1,Zakky Zulhazmi,2,ZIarah,4,Ziarah Kubur,2,Zikir,1,Zuhairi Misrawi,1,Zulkilfi Hasan,1,خطبة كسوف الشمس,1,
ltr
item
Arrahmah.co.id - Portal Dunia Islam: Gus Dur Menyambung Ragam Perbedaan di Indonesia - #HaulGusDur
Gus Dur Menyambung Ragam Perbedaan di Indonesia - #HaulGusDur
https://4.bp.blogspot.com/-sI-tsiaKlyg/WFeCAjJ6PQI/AAAAAAAADYk/hP8ZOJwN21cC59Hf697BOSZN6gPSrqnlQCLcB/s640/KH.%2BAbdurrahman%2BWahid%2B-%2BGus%2BDur.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-sI-tsiaKlyg/WFeCAjJ6PQI/AAAAAAAADYk/hP8ZOJwN21cC59Hf697BOSZN6gPSrqnlQCLcB/s72-c/KH.%2BAbdurrahman%2BWahid%2B-%2BGus%2BDur.jpg
Arrahmah.co.id - Portal Dunia Islam
https://www.arrahmah.co.id/2018/12/gus-dur-menyambung-ragam-perbedaan-di.html
https://www.arrahmah.co.id/
https://www.arrahmah.co.id/
https://www.arrahmah.co.id/2018/12/gus-dur-menyambung-ragam-perbedaan-di.html
true
766049156261097024
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content