Beranda Tokoh Islam Gus Mus Gus Mus: Meniru Nabi Bukan Hanya Meniru Pakaiannya

Gus Mus: Meniru Nabi Bukan Hanya Meniru Pakaiannya

263
0

ARRAHMAH.CO.ID –

, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk berusaha semaksimal mungkin mencontoh perilaku dan sifat-sifat Nabi Muhammad Saw sebagai spirit dalam beragama. Nabi dikenal sebagai pribadi yang ber-akhlakul karimah, maka umat Islam hendaknya juga mencerminkan perilaku yang berbudi pekerti luhur. Meskipun demikian, tidak semua perilaku dan sifat-sifat Nabi bisa ditiru, karena Nabi merupakan insan kamil dan suri tauladan yang luar biasa yang memiliki kebaikan dan akhlak di atas rata-rata manusia lain.

Apabila umat Islam hendak meniru Nabi, jangan sampai hanya meniru soal pakaian Nabi semata, namun juga meniru sifat-sifat mulia Nabi seperti tutur kata yang lembut dan perbuatan yang tak tercela. Nabi dikenal sebagai pribadi yang ramah terhadap orang lain, maka umat Islam hendaknya tidak besikap angkuh dan arogan. Nabi mempersatukan ummat manusia, maka sebagai Muslim hendaknya tidak membuat gaduh dan memprovokasi kebencian.

Pesan itu yang disampaikan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus dalam salah satu ceramahnya yang diunggah di Youtube. Menurut Gus Mus, umat Islam tidak mungkin bisa meniru sama persis dengan perilaku dan sifat-sifat Nabi Muhammad Saw. Karena itu, hendaknya kita memilih hal apa yang bisa ditiru dari Nabi dengan berusaha semaksimal mungkin dilakukan secara istiqamah. Umat Islam bisa meniru ibadah, perjuangan dakwah, bahkan kepemimpinan Nabi.

“Yang namanya meniru kanjeng Nabi itu tidak mungkin bisa persis meniru semua seperti Nabi. Kalau sama persis nanti dikira ada nabi kembar. Ada yang meniru cara peribadatannya; ada yang meniru model perjuangannya; ada yang meniru cara dakwahnya. Meniru apa saja. Kanjeng Nabi itu hebat dalam bidang apa saja, termasuk saat menjadi panglima,” jelas Kiai yang juga dikenal sebagai budayawan itu.

loading...

Menurut Gus Mus, jika ada seorang Muslim yang berbaju seolah-olah mencerminkan keshalehan Nabi, meniru pakaian Nabi, namun tidak memiliki sifat rahmah dan kasih sayang terhadap orang lain, maka orang itu tidak pantas menyandang tokoh ummat. Sebaliknya, apabila seorang Muslim memiliki sifat kasih sayang terhadap orang lain, bertutur kata yang baik, dan memiliki tatakrama yang mulia, meskipun tidak menggunakan pakaian seperti Nabi, maka orang tersebut layak menjadi pedoman ummat.

“Jadi meskipun orang itu pakai serban sebesar ban truk, jenggotnya panjang hingga pusar, tapi tidak punya belas kasih kepada ummat, maka saya tidak sudi memanggilnya kiai. Sebaliknya, meskipun orang itu tidak berpenampilan kiai, tapi punya belas kasih kepada ummat, maka dia itu kiai,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah itu.

Artikel Ini Telah Dimuat: IslamRamah.co

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.