Kenapa syarat zakat ada yang harus “haul” ada yang tidak?

Haul secara bahasa berarti tahun. Diartikan juga kekuatan, kemampuan, kekuasaan. Atau dimaknai dengan perubahan dan penggantian (Kamus Al-‘Ishry, hal. 806-807)

Tahun disebut dengan haul karena perubahannya, dan terjadi karena peredaran matahari. Ia terbit dan tenggelam.

Kaitannya haul dengan zakat, ulama sepakat bahwa haul menjadi syarat wajibnya zakat. Syarat ini berlaku untuk beberapa jenis harta. Yaitu binatang ternak, barang berharga (emas dan perak), dan tijarah atau perdagangan. Hal ini didasarkan hadist, “Tidak ada zakat pada harta hingga mencapai haulnya.” (Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah, juz 18, hal. 252)

Mengapa kepada harta-harta tersebut ada syarat haul? Sebab harta itu berkembang seiring berjalannya waktu. Misalnya binatang ternak, ia berkembang terus dan beranak pinak. Demikian pula harta perdagangan, ia berkembang dalam bentuk untung. Apalagi emas dan perak juga pasti naik terus harganya seiring waktu.

Demikian pula gaji, ada potensi naik, karena sesuai undang-undang demikian. Karena itu, masuk dalam kerangka zakat yang disyaratkan denga haul.

Oleh karena itu, maka harta-harta itu disyaratkan adanya haul, dengan dihitung mulai awal kepemilikan hingga mencapai satu nishab. Lalu berulang lagi perhitungannya hingga mencapai nishab berikutnya.

Akan berbeda dengan hasil pertanian. Ia berhenti perkembangannya saat dipanen, tidak akan bertambah lagi. Karena itu, Al-Qur’an kemudian menyebutkan, “Tunaikanlah haknya saat dipanen,” (Al-An’am, ayat 141). Zakatnya dikeluarkan saat dipanen langsung.

Hal yang sama berlaku bagi ma’dan atau harta tambang. Maka ia dikeluarkan saat ditemukan. Kecuali harta tambang itu dalam bentuk emas atau perak, maka ia akan dihitung sesuai haulnya.(Al-Mausuah Al-Fiqhiyyah, juz 18, hal. 253)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.