ARRAHMAH.CO.ID –

Dalam sejarah islam, khususnya aliran Syi’ah, tanggal 10 Muharram, menjadi hari yang sangat penting dan agung. Karena pada tanggal itu Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu kesayangan Nabi, berikut keluarga dan orang-orang yang ikut bersamanya terbunuh dan dibantai secara kejam di sebuah daerah bernama Karbala. Irak.

Ia terbunuh sesudah mengalami isolasi dan pertempuran selama 3 hari di tempat itu, oleh pasukan yang dikirim Yazid bin Mu’awiyah. Pada setiap tahun sejak saat itu, para pengikut Imam Ali bin Abi Thalib, menjadikan hari itu sebagai hari perkabungan internasional.

Sebuah kisah tentang ini menyebutkan: Suatu hari Husein diundang warga Irak untuk datang ke Kufah, Irak. Mereka berjanji akan memberikan dukungan bagi kekuasaanya, menggantikan kakaknya Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Beberapa orang sahabat menyarankan agar Husein tidak berangkat ke sana. Ini berdasarkan pengalaman bahwa tidak semua orang Kufah jujur.

Abd Allah bin Zubair mengatakan kepada Husein :

أين تذهب؟! تذهب إلى قوم قتلوا أباك وطعنوا أخاك. لا تذهب فأبى الحسين إلا أن يخرج.

“Akan kemanakah, kau Husein?. Apakah kau akan pergi menemui kaum yang telah membunuh ayahmu dan menikam kakakmu; Hasan?. Urungkan keinginanmu untuk pergi ke sana”.

Ibn Abbas juga menyampaikan nasehat agar Husein mengurungkan kepergiannya ke Irak. Ia mengatakan :

يابن عم، إني أتخوف عليك في هذا الوجه الهلاك، إن أهل العراق قوم غُدر فلا تغترَنَّ بهم، أقم في هذا البلد .فقال الحسين بن علي: يابن عم، والله إني لأعلم أنك ناصح شفيق، ولكني قد أزمعت المسير. فقال له: فإن كنت ولا بد سائرًا فلا تسر بأولادك ونسائك، فوالله إني لخائف أن تُقتَلَ كما قُتِلَ عثمانُ ونساؤه وولده ينظرون إليه.

“Husein, putra pamanku, sungguh aku sangat mengkhawatirkanmu. Warga Irak adalah kaum yang sering tidak setia. Kamu jangan terjebak pada bujuk-rayu mereka. Tinggal saja di sini”.

Husein menjawab,“Putra pamanku, Demi Allah, aku mengerti engkau telah memberikan nasehat yang baik. Terima kasih. Tetapi aku telah bertekad untuk berangkat ke sana.”

Ibnu Abbas mengatakan lagi,“Jika engkau harus berangkat, aku berharap tidak membawa anak-anak, perempuan-perempuan dan keluargamu. Demi Allah, aku khawatir engkau akan dibunuh, sebagaimana Utsman. Dan kematian itu disaksikan oleh kaum perempuan, keluarga dan anak laki-lakinya.”

Tetapi Husein mengabaikan saran itu. Ia bergeming. Ia percaya pada janji warga Kufah yang akan memberinya janji sumpah setia (baiat) kepadanya. Husein mengatakan, “Saya sudah melakukan istikharah dan Allah memberi petunjuk yang baik. Aku akan berangkat ke sana.”

Husein akhirnya berangkat ke sana diiringi keluarganya dan sejumlah pengikutnya yang diperkirakan terdiri dari 72 anggota keluarga dan kurang dari 100 orang pengikutnya. Sampai di Karbala, beberapa kilometer dari Kufah, tentara Yazid bin Muawiyah, dalam jumlah besar, lebih dari 3000 tentara, dibawah panglimanya; Ubaidillah Ibn Ziyad, segera menghadangnya.

Ibn Ziyad memerintahkan Umar bin Saad memimpin pasukan. Saat bertemu Husein Umar mengajukan tawaran agar Husein tunduk kepada Yazid bin Mu’awiyah. Husein menolak. Ia tidak mau mengakui kekuasaan Yazid yang tidak sah. Dia dan ayahnya telah merampas kekuasaan Ali bin Abi Thalib, ayahnya. Maka perang tak sebanding berlangsung sengit.

Husein, para pengikut dan keluarganya, kecuali sejumlah perempuan dan putranya, Ali Zainal Abidin Al Sajjad, dibantai. Kepala Husein dipisahkan dari tubuhnya, lalu ditaruh di sebuah wadah semacam mangkok besar. Sesudah itu kepala Husein dibawa ke Damaskus, dan diserahkan kepada Yazid. Konon, saat melihat potongan kepala tersebut, Yazid, berduka dan menangis.
Informasi lain menyebutkan, Yazid justeru senang dan merasa puas. Beberapa waktu kemudian Yazid menyerahkannya kepada Zainab yang diusirnya agar membawa kepala itu ke Mesir. Menurut satu versi, perempuan ini lalu mengubur kepala Husein itu di Kairo. Mesir. Kuburan itu berada di tempat yang kini dikenal dengan Masjid Husein. Sementara tubuhnya dikubur di Karbala, Irak. Ini menurut sebuah versi.

Peristiwa Karbala dikenang sepanjang masa oleh muslim Syi’ah sebagai sebuah tragedi kemanusiaan terbesar. Sampai hari ini kaum Syi’ah di seluruh dunia, memperingatinya sebagai hari duka nestapa. Hari besar 10 Muharram ini merupakan ritus keagamaan terpopuler dan paling besar dalam tradisi kaum Syiah. Jutaan manusia berkumpul di pusat terbunuhnya Imam al-Husein, Karbala, Irak.

Berbagai acara ritual mengenang kematian al-Husain bin Ali bin Abi Thalib digelar di seluruh penjuru Irak dan Iran, dengan beragam cara. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang sengaja memukul-mukul dada dan melukai tubuh mereka sendiri sampai berdarah-darah, sambil meraung-raung, berteriak-teriak menyebut nama cucu Nabi itu. Cara ini dilakukan guna ikut mengalami penderitaan al-Husein itu yang tak terkirakan.

Para pengikut Ali (Syi’ah Ali) di berbagai negara, memperingati hari Asyura selama 10 hari, sejak tanggal 1 hingga tanggal 10 Muharram. Selama itu, bendera hitam setengah tiang dikibarkan. Selain peringatan tanggal 10 muharram itu, mereka juga menyelenggarakan upacara perkabungan selama 40 hari.

Di Kairo, Mesir terdapat masjid Husein di bilangan yang populer disebut dengan namanya : Husein. Ia berdampingan dengan masjid (Jami’) Al Azhar. Sebagian kaum Syi’ah meyakini bahwa sebagian tubuh Husein dikubur di sana. Sampai hari ini kuburan itu diziarahi banyak orang laki-laki dan perempuan.

Di tempat itu mereka berdoa dan menangisi Sayyid Husein. “Waa Husaynaaah….. Waa Husaynaaah” (Duhai Husein…. Duhai Husein….Oh Husein). Suara-suara duka itu memang memilukan dan menyayat-nyayat hati. Mereka mencintai cucu Rasulullah saw, dan menyesali kematiannya yang tragis itu.

Artikel Ini Telah Dimuat: ISLAMI.CO Dengan Judul – Sejarah dan Tragedi Kelam 10 Asyura di Karbala

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.