Makna Nasionalisme Kirab Satu Negeri

0 229

ARRAHMAH.CO.ID

Oleh: M Rikza Chamami

Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) menggelar Kirab Satu Negeri bertajuk Bela Agama Bangsa Negeri pada 16 September-26 Oktober 2018. Kirab ini menjadi sebuah ekspresi GP Ansor dalam melakukan gerakan cinta agama dan cinta Indonesia.

Gerakan cinta agama selalu dilakukan oleh GP Ansor dengan menebar agama ramah penuh cinta kasih. Sebuah kesadaran tentang keragaman agama di Indonesia, maka agama dijadikan sebagai alat pemersatu negeri. Agama Islam yang dijadikan pedoman spiritual GP Ansor lahir dari ajaran Ahlussunnah wal jamaah yang dijadikan marja’ diniyyah (landasan agama) Nahdlatul Ulama (NU).

Semangat cinta Indonesia selalu dihadirkan oleh GP Ansor karena ini merupakan amanat umat beragama. Persatuan dan kesatuan Indonesia tidak akan lepas dari ideologi organisasi pemuda NU. Apalagi di saat Indonesia sedang dihadapkan dengan masuknya ideologi transnasional yang berpotensi merusak akar persatuan dan kesatuan bangsa. GP Ansor hadir menjadi garda depan kekuatan civil society untuk meneriakkan “NKRI harga mati” dan “Pancasila jaya”.

Kenapa harus dengan kirab? Dan kenapa GP Ansor harus menjadi garda depan persatuan bangsa? Kirab itu menjadi simbol perjalanan panjang, sama dengan semangat Rasulullah Saw berjalan panjang dari Makkah menuju Madinah pada tahun 622 Masehi—yang kemudian diabadikan oleh Sayyidina Umar bin Khattab sebagai penanda penanggalan Islam, yang disebut tahun Hijriyah.

Maka Kirab Satu Negeri ini dilakukan di bulan Muharram tahun 1440 Hijriyah—sebagai sebuah makna filosofis GP Ansor membuka kembali pintu hijrah qalbiyyah (perjalanan hati) menuju hijrah wathaniyyah (perjalanan kebangsaan). GP Ansor memiliki semangat menghijrahkan kembali Indonesia dengan berjalan ke seluruh pelosok negeri dari Sabang hingga Merauke dengan mengibarkan bendera merah putih.

Semua kader GP Ansor tidak pernah lelah mengibarkan merah putih demi menjaga marwah agama Islam dan kesatuan Indonesia. Maka ini menjadi jawaban nyata bahwa GP Ansor tegak berdiri dengan penuh ikhlas siap menjadi garda depan pemersatu bangsa.

GP Ansor tidak akan malu dicaci dan dimaki oleh warga bangsa yang memfitnah organisasi anak kandung ulama Nusantara ini. Karena sudah jelas, yang suka memfitnah GP Ansor adalah mereka yang punya agenda mengubah negara Pancasila dengan ideologi khilafah.

Maka jargon “Seng waras ojo ngalah, yang sembuh jangan mengalah” itu yang dijadikan pedoman berjuang menyatukan dan menyatakan kesatuan NKRI. Indonesia ke depan akan hancur, jika pemuda Indonesia dibuat mabuk khilafah, phobia Pancasila dan memperkosa kebenaran agama demi kekuasaan politik.

Jatidiri nasionalisme yang terkandung dari Kirab Satu Negeri ini membuat tesa baru bahwa GP Ansor telah melaksanakan amanah “darah dan nyawa telah kuberikan” dan “iman di dada patriot perkasa”. Darah muda GP Ansor menjadi penyemangat dan pelecut dalam mempertahankan ideologi spiritual dan identitas kebangsaan. Iman yang ada dalam jantung agama menjadi energi menyambungkan segala berbedaan di Indonesia.

Mengakui bahwa bangsa Indonesia memiliki lebih 700 suku, lebih 1100 bahasa lokal, 34 Provinsi dan 516 kabupaten/kota adalah kewajiban. Maka dari perbedaan itu, lahir anugerah yang harus disatukan. Jangan sampai dari perbedaan itu kemudian muncul usaha jahat, membuat Indonesia berperang.

Peluang untuk menjadikan Indonesia negara kuat dan bersatu padu akan terwujud bila pemuda-pemuda Indonesia mengenang kembali sumpah pemuda. Maka Kirab Satu Negeri nanti akan diakhiri di tanggal menuju Hari Sumpah Pemuda.

Jadi Kirab Satu Negeri ini menyatukan semangat beragama karena mengawali kirab di bulan Muharram. Dan menyatakan semangat berkebangsaan sebab mengakhiri kirab di detik-detik Hari Sumpah Pemuda. Inilah bangunan nasionalisme yang dibangun oleh GP Ansor. Bahwa pesan menjaga nasionalisme ini sudah harga mati sebagaimana pesan KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU.

Dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ditegaskan: “Betapa banyak keluarga-keluarga besar, semula hidup dalam keadaan makmur, rumah-rumah penuh dengan penghuni, sampai satu ketika kalajengking perpecahan merayapi mereka, biasanya menjalar meracuni hati mereka dan setan pun melakukan perannya. Mereka kocar kacir tak karuan. Dan rumah mereka runtuh berantakan.”

Isi pesan Mbah Hasyim ini sangat luar biasa dan GP Ansor menerjemahkan pesan itu sebagai sugesti nasionalisme. Bahkan Mbah Hasyim menegaskan kembali: Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan sepanjan zaman. Bahkan pangkal kehancuran dan kemacetan, sumber keruntuhan dan kebinasaan dan penyebab kehinaan dan kenistaan.

Oleh sebab itulah, GP Ansor selalu memiliki tiga komitmen mendasar: bangkitlah bangkit putra pertiwi; tiada gentar dada ke muka; dan bela agama bangsa negeri. Bahwa GP Ansor berikhtiyar untuk bangun bergerak menjadi putra Indonesia yang khairunnas anfa’ufum linnah, bermanfaat bagi bangsa dan negara. GP Ansor selalu berusaha untuk menjadi pembela agama dari ekstrimis dan teroris, serta ikhlas menjadi benteng agama ramah dan menjaga nasionalisme.

Penulis adalah Wakil Sekretaris PW GP Ansor Jawa Tengah; Dosen UIN Walisongo.

 

Artikel Ini Telah Dimuat: NU Online, Dengan Judul – Makna Nasionalisme Kirab Satu Negeri

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...