Pancasila Lahir dari Habitus Kesantunan

PKPPN IAIN Surakarta dan PSP UNS Adakan Public Lecture Pancasila Semesta Santun

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

ARRAHMAH.CO.ID – Pada tanggal 06 September 2018 Pusat Kajian dan Pengembangan Pesantren Nusantara IAIN Surakarta bekerjasama dengan Pusat Studi Pancasila (PSP) UNS Solo mengadakan diskusi publik yang berjudul Pancasila Semesta Santun.

Acara yang disupport oleh Wahid Foundation ini diselenggarakan untuk membangkitkan kembali semangat Pancasaila sebagai ideologi Bangsa yang akhir-akhir ini semakin menurun dan melemah.

Diskusi publik ini menghadirkan beberapa tokoh dii antaranya Prof. Dr. Hermanu, salah satu pakar sejarah sekaligus ketua Pusat Studi Pancasila UNS, Sumartono Hadinoto selaku ketua Perkumpulan Masyarakat Solo (PMS) dan Ahmad Hafidh Dosen IAIN Surakarta.

Dr. Munadi selaku Wakil Rektor 2 IAIN Surakarta dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk menanamkan kembali semangat ideologi Pancasila bagi kalangan muda milenial ditengah gempuran budaya-budaya dan ideologi dari luar.

Prof. Hermanu banyak menjelaskan tentang aspek kesejarahan Pancasila yang merupakan hasil dari proses panjang refleksi para founding fathers dalam menyusun ideologi bangsa. Ideologi ini disarikan dari karakter dasar masyarakat Indonesia yang salah satunya adalah tepo seliro, saling menghargai satu dengan yang lain.

Sementara itu, Sumartono banyak mengungkapkan pengalaman pribadinya selama mengikuti berbagai organisasi yang bergelut dalam bidang kegiatan sosial kemasyarakatan, salah satunya adalah PMI (Palang Merah Indonesia). Dalam organisasi ini, menurutnya, semangat saling tolong-menolong tidak dibatasi oleh sekat-sekat suku, agama, atau etnis tertentu. Jika ada orang yang membutuhkan pertolongan maka sudah seharusnya masyarakat memberikan pertolongan tanpa pandang bulu. Sikap gotong royong ini merupakan semangat dari Pancasila yang melahirkan sikap empati terhadap sesama.

Ahmad Hafidh, dalam uraiannya memaparkan data mengejutkan dengan merujuk survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang diadakan tahun 2018, bahwa pendukung Pancasila sebagai ideologi bangsa terus menurun. Selama 13 tahun terakhir, pendukung Pancasila menurun mencapai 10% yakni 85,2 % pada tahun 2005 menjadi hanya 75,3% pada tahun 2018. Berbarengan dengan hal tersebut, pendukung ideologi NKRI Bersyariah semakin naik.

Menurut Hafidh, jika kondisi ini tidak ditangani secara serius, kepercayaan masyarakat terhadap Pancasila akan semakin menurun bisa sampai 50% ke bawah.

Untuk mengatasi persoalan ini, harus ada tindakan yang massif dan terstruktur di antaranya adalah membangun kepercayaan masyarakat dalam hal penguatan ekonomi, mengkounter ideologi-ideologi dari luar seperti paham transnasional serta melakukan sosialisasi secara massif kepada masyarakat tentang pentingnya Pancasila.

Hafidh mengungkapkan bahwa dalam sejarahnya, Pancasila merupakan hasil dari tradisi kesantunan para founding fathers yang mana mereka memiliki usulan masing-masing tentang konten Pancasila pada saat awal dibentuknya. Namun, dengan semangat kebersamaan dan saling menghargai, mereka menyatukan visi yang kemudian melahirkan Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...