“Membalas Nikmat Tuhan” Catatan Khutbah Jum’at Aktivis Perdamaian

0 320

 

Komplek Makam Imam Abu Hanifah, Baghdad Irak, yang merupakan Ulama yang Masyhur di dunia sampai saat ini

Jakarta (3/8/2018). Khutbah kali ini membahas tentang nikmat dari Tuhan. Khotib memulai khutbahnya dengan mengatakan bahwa Tuhan memberi banyak nikmat kepada kita, terlalu banyak jumlahnya hingga kita tak akan mampu membalasnya. Lalu bagaimana dengan seabrek ibadah yang kita lakukan untuk Tuhan? Semua itu tak akan cukup untuk membalas nikmat dari Tuhan, tak akan.

 

Mengutip QS Al Kahfi 46 yang berbunyi “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia,,,”, Khotib menjelaskan bahwa harta dan anak adalah salah satu bentuk nikmat yang diberikan Tuhan. Meski begitu, keduanya hanyalah perhiasan dunia; bagus jika ada, tak akan mati jika tak memilikinya.

 

Karenanya, tak perlu terlalu berlebihan untuk mengejarnya, tak perlu pula terlalu heboh saat sudah mendapatkannya. Hanya titipan, bisa diambil lagi kapan-kapan.

 

Meski begitu, nikmat yang titipan ini harus tetap dijaga dengan baik. Sebab titipan adalah amanah; Tuhan tidak menitipkan nikmat secara sembarang. Tak jarang, Tuhan menitipkan nikmat ini usai Ia menyaksikan usaha keras dan semangat pantang menyerah dari hamba-Nya.

 

Kita memang tak bisa memaksa Tuhan untuk memberi kita nikmat, namun setidaknya kita bisa meyakinkan Tuhan bahwa kita sudah layak.

 

Menjaga nikmat dari Tuhan tak sama dengan menjaga rahasia (yang harus disembunyikan), tetapi justru dengan membagikannya kepada yang berhak. Untuk menjaga harta, kita diminta untuk lebih sering menggunakannya beramal, bukan belanja habis-habisan di Mall. Beramal membuat harta kita bermanfaat, kita pun tak akan melarat.

 

Sementara cara menjaga anak ialah dengan mendidiknya agar menjadi orang yang berguna. Tak jadi orang terkenal tak apa, yang penting berguna dan ada manfaatnya.

 

Kita memang tak akan bisa membalas nikmat Tuhan, yang bisa kita lakukan adalah memastikan agar semua nikmat yang dititipkan tersebut memberi kemanfaatan, untuk kita dan orang-orang sekitar kita.

 

Sebab lanjutan dari ayat di atas adalah “tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”.

Hakeem- (sumber: Kang Anam Gusdurian)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...