Dengan Slogan “Islam Nusantara for Peace and Tolerance”, Said Aqil Siroj (SAS) Institute Resmi Diluncurkan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

ARRAHMAH.CO.ID – Pemikiran KH. Said Aqil Siroj yang cinta damai, mengetengahkan prinsip saling menghormati, dan terbuka bekerja sama antarkelompok masyarakat menginspirasi dibentuknya Said Aqil Siroj (SAS) Institute. Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif SAS Institute, M. Imdadun Rahmat. 

Dilansir NU Online menurut Imdad hal ini menjadi pilar penting bagi eksistensi dan kemajuan bangsa Indonesia yang majemuk.

“Kesediaan untuk berkoeksistensi, untuk bersama membina kerukunan dan kerja sama lintas identitas sangat menentukan masa depan bangsa kita,” kata Imdad pada peluncuran Said Aqil Siroj (SAS) di Hotel Arya Duta, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (1/8).

Hal itu sangat dibutuhkan Indonesia sebagai negara dan bangsa yang besar. Sudah semestinya, untuk menjawab persoalan dan tantangan yang dihadapi juga diperlukan ikhtiar yang besar pula. Diantara ikhtiar itu dengan melahirkan banyak lembaga civil society seperti SAS Institute yang bekerja untuk menggalang kesadaran toleransi demi kepentingan Indonesia yang beragam.

“Lembaga ini nirlaba, civil society yang peduli kepada pengembangan wawasan kebangsaan, nilai-nilai nasionalisme, antara lain sikap hidup terbuka, toleransi, menghargai perbedaan dan keberagamaan, berkembangnya budaya dialog, spirit perdamaian, keadilan, dan pemberdayaan masyarakat,” ucapnya.

Adapun inisiator yang membentuk SAS Institute ini terdiri atas para pemuda dari berbagai elemen yang disatukan atas perhatian yang sama, yakni untuk menghadapi berbagai persoalan dan tantangan kebangsaan yang ada di Indonesia seperti melemahnya rasa nasionalisme, rasa persaudaraan dan persatuan yang berakibat pada menguatnya pengkotak-kotakan masyarakat berdasarkan identitas. Baik Identitas agama, ras, suku dan ideologi.

Oleh karena itu, ia mendorong agar kerukunan terus digalakkan melalui dialog antaragama dan identitas dengan menjunjung kebudayaan yang ada di Nusantara dan tidak antimodernitas. Hal ini penting untuk menumbuhkan sikap saling memahami, sekaligus menghilangkan sikap kebencian, permusuhan antarkelompok, antaragama, dan identitas.

“Inilah Islam yang berdialog baik dengan tradisi maupun modernitas. Islam yang selalu memandang positif lokalitas kedaerahan sekaligus menjunjung tinggi kesepakatan keindonesiaan. Islam ramah budaya, ramah nasionalisme, ramah demokrasi, ramah HAM, ramah bagi semesta,” jelasnya.

Menurut Imdad, spirit tersebut kemudian menjadi tagline atau slogan SAS Institute, yaitu “Islam Nusantara for Peace and tolerance”.

Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Mantan Wakil Presiden Tri Sutrisno, Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, sejumlah Ketua PBNU, Ahmad Mubarok, Wakil Ketua MPR RI H Abdul Muhaimin Iskandar, dan sejumlah tokoh agama. (NU Online/Iqbal)

80%
Awesome
  • Artikel Ini Menarik? Beri Rating

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...