Terorisme dan Politik

0 282

ARRAHMAH.CO.ID  – Dalam penerbangan dari Jakarta ke Iraq kemaren, beta menonton film Pacific Rim: Uprising. Salah satu quote yang diucapkan oleh Jake Pentecost adalah: You need to know your enemy’s objective in order to know if you’ve defeated them or not. Prinsip ini sangat penting dalam memahami gerakan dan/atau organisasi-organisasi teroris global, maupun di Indonesia.

Dalam tahun ini saja, Indonesia sudah mengalami beberapa rangkaian serangan teror dengan korban belasan orang termasuk wanita dan anak-anak dan juga anggota kepolisian RI. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok-kelompok teroris di Indonesia itu masih ada dan tetap menjadi ancaman bagi pertahanan dan keamanan negara.

Sebagaimana beta pernah menulis sebelumnya, teror adalah taktik yang dipergunakan dalam perang dimana kekuatan antara kedua pihak yang berperang itu tidak simetris secara militer. Kekuata kelompok-kelompok teroris yang ada di Indonesia itu secara militer tidak sebanding dengan kekuatan hankam Indonesia. Oleh karena itu maka mereka memakai teror dalam perang asimetris ini. Bagi mereka, ini adalah perang.

Akan tetapi, teror itu bukanlah tujuan yang ingin dicapai dari perang dimaksud. Teror hanyalah salah satu taktik yang dipergunakan untuk mencapai tujuan utama dari perang yang sedang dijalankan oleh organisasi-organisasi teroris dimaksud. Bagi mereka, tujuan utama adalah menguasai Indonesia secara utuh dalam semua lini, baik itu ideologi, politik, ekonomi, sosial dan hankam.

Banyak organisasi-organisasi yang dulunya mempergunakan seluruh sumber daya dan dananya untuk melancarkan teror, tetapi kemudian secara gradual meninggalkannya saat mereka bermetamorfosa menjadi kekuatan politik saat kekuatan mereka secara politik menjadi simetris dengan sasaran mereka. HAMAS dan Hezbollah adalah dua contoh organisasi yang secara gradual mulai meninggalkan taktik-taktik terorisme saat mereka punya legitimasi politik, mengontrol ekonomi dan menguasai angkatan bersenjata.

Hal di atas menunjukkan bahwa terorisme itu bukan hanya masalah pertahanan dan keamanan saja, tetapi juga merupakan masalah politik

Pasca rangkaian serangan teror terkini di Indonesia, hampir 200 teroris dan/atau terduga teroris yang ditangkap oleh aparat keamanan Indonesia. Prestasi ini tentu sangat positif dalam mengganggu kemampuan organisasi dan kelompok teroris di Indonesia dalam melaksanakan taktik perang asimetrisnya.

Akan tetapi, pemerintah Indonesia harus lebih jeli dalam memetakan perang politik yang sedang dilakukan oleh organisasi dan kelompok teroris dimaksud. Perang politik dimaksud adalah pertempuran dalam menguasai semua lini yang menjadi perekat berdirinya identitas nasional Indonesia yang berbhineka, yaitu Pancasila dan UUD 1945.

Dalam perang ini, kepentingan dan tujuan dari organisasi teroris sangat pasti akan bersentuhan dengan organisasi atau kelompok poitik yang tidak memakai taktik militer asimetris, tetapi memiliki hasrat dan tujuan yang sama, yaitu ingin menguasai Indonesia dengan mengganti falsafah negara ini.

Kesamaan kepentingan ini akan sangat mudah menyatukan organisasi teroris dengan orang, kelompok, bahkan partai politik yang melihat Pancasila dan UUD 1945 sebagai musuh bersama. Dalam kondisi ini, kelompok teroris seperti JAD, JAT, MIT, Lashkar Jundullah dan 18 organisasi teroris yang diidentifikasi oleh aparat pemerintah akan memiliki kepentingan yang sama dan berkolaborasi dengan kelompok seperti HTI.

Dengan demikian maka, walaupun apresiasi yang sangat besar dan dukungan yang luar biasa sudah diberikan oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia kepada TNI dan POLRI dalam tugas mereka melawan teroris, kita harus menuntut dan sekaligus membantu Pemerintah Indonesia dibawah pimpinan Presiden Joko Widodo untuk melawan gerakan dan kelompok teroris yang sedang melakukan perang dalam dunia Ipoleksosbud.

Jangan beri ruang bagi organisasi, kelompok atau orang yang secara jelas ingin mengganti Pancasila dan UUD 1945 yang merupakan perekat identitas NKRI, walaupun mereka tidak sedang memakai teror dalam mencapai tujuannya.

Mereka ini sama bahayanya dengan kelompok-kelompok teroris yang sudah membunuh orang termasuk wanita dan anak-anak yang tidak berdosa.

Kalau kita hanya berfokus pada serangan teror saja dan lengah pada serangan non-teror di semua lini, maka saat mereka sudah menguasai lini-lini ini, mengganti Pancasila dan UUD 1945 itu dengan gampang bisa dilakukan dengan hanya mengetuk palu di meja sidang saja!

Tetaplah waspada dan salam dari Iraq

#IndonesiaTanahAirBeta

Oleh: Alto Luger
Editor: Ibn Yaqzan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...