Lupakan Islam Nusantara

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Oleh: Abdullah Wong

Mari kita perhatikan lima ayat berikut:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلإِ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ مِن بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُواْ لِنَبِيٍّ لَّهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكاً نُّقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلاَّ تُقَاتِلُواْ قَالُواْ وَمَا لَنَا أَلاَّ نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَارِنَا وَأَبْنَآئِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْاْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

لَّقَدْ سَمِعَ اللّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاء سَنَكْتُبُ مَا قَالُواْ وَقَتْلَهُمُ الأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ الْحَرِيقِ

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّواْ أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُواْ رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدَّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَى وَلاَ تُظْلَمُونَ فَتِيلاً

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَاناً فَتُقُبِّلَ مِن أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ قُلِ اللّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاء لاَ يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُواْ لِلّهِ شُرَكَاء خَلَقُواْ كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Lima ayat di atas tak punya hubungan dengan wacana Islam Nusantara. Kelima ayat di atas juga bukan hujjah untuk Islam Nusantara. Konon, Islam Nusantara hanya merupakan tipologi, bukan mazhab bukan pula aliran, maka ia tak butuh dalil. Pertanyaanya, kenapa Islam harus ditambahkan embel-embel Nusantara? Kenapa tidak mandiri saja: Islam!

Mari kita kembali mandiri dalam menyebut Islam. Untuk itu kita lupakan saja Islam + Nusantara. Dengan begitu kita pun harus lupakan deretan embel-embel lain yang selama ini sering melekat dan mengiringi diksi Islam. Selain Islam Nusantara kita mendengar Islam Berkemajuan, Islam Modern, Islam Tradisional, Islam Moderat, Islam Kaffah, Islam Rahmatan lil Alamin, Islam Militan, Islam Garis Keras, Islam Pluralis, Islam Progresif, Islam Transformatif, Islam Inklusif, Islam Aktual, hingga Islam Liberal dan masih banyak deretan embel-embel lain yang menyertai.

Pertanyaanya, kenapa diksi Islam perlu menggunakan embel-embel?
Mungkin, upaya menyertakan adjective atau predikat lain terhadap diksi Islam lantaran makna Islam begitu general dan universal. Maka Islam “seperti butuh” predikat tertentu demi menjelaskan daya jangkaunya yang mampu menyusup di semua aspek kehidupan. Karena tak bisa disangkal betapa daya jangkau Islam itu mampu menembus berbagai ranah seperti geografis, sosiologis, antropologis, sains, psikologis, hingga filosofis. Seakan, embel-embel yang menyertai diksi Islam itu hanya bagian-bagian kecil dalam upaya memotret kemenyeluruhan Islam. Tapi rupanya menyertakan embel-embel apapun punya resiko besar. Lantaran upaya itu dapat memberi kesan menodai kemurnian Islam. Maka sekali lagi seharusnya Islam adalah Islam. Islam! Itu saja. Islam. Titik!

Islam adalah Islam. Benar, Islam adalah Islam. Tapi kenapa ketika Islam ditulis dengan Al-Islam sekalipun, meski sama-sama memiliki akar pemaknaan yang sama yakni pasrah atau berserah, sebagaimana yang terjadi di jaman para sahabat Nabi, secara aplikatif makna Islam tetap akan menuai pemahaman, pengalaman dan cita rasa yang beragam? Kenapa Imam Hanafi yang sangat memahami Islam, punya sejumlah pandangan yang berbeda dengan Imam Syafi’i yang juga jelas-jelas memahami Islam? Begitu juga Imam-imam yang lain. Padahal mereka bukan hanya muslim, tapi juga pribadi yang sangat otoritatif dalam memahami Islam. Tapi, Imam
Hanafi hingga Imam Hambali, bahkan Imam Ja’far yang menjadi dedengkot sebelum mereka semua, tak pernah menyebut Islam Kuffah, Islam Irak, Islam Iran, Islam Basrah, Islam Madinah, apalagi Islam Nusantara! Maka, kembali lah kepada Islam tanpa embel-embel apapun. Titik!

Kita maklum, manusia sebagai homo simbolicum terbiasa menggunakan simbol-simbol dalam mengartikulasikan gagasan dan pemikiran. Salah satu simbol itu bernama bahasa. Dari sini kiranya wajar jika kita juga menyusur “cara” keberagamaan kita lewat bahasa. Apalagi, Al-Quran yang Allah Singkapkan kepada Sang Nabi, adalah peristiwa dimana Allah Yang Maha Tak Terbatas, Berkenan Menggunakan bahasa manusia yang terbatas; yakni Bahasa Arab. Jika saya katakan Bahasa Arab terbatas, tentu membuat pekak telinga orang yang menganggap Bahasa Arab sebagai segalanya. Padahal selagi masih menggunakan huruf dan kata-kata ekspresi apapun selalu terbatas.

Saya yakin betapa Al-Quran untuk setiap ayatnya mengandung 70 ribu makna. Bahkan untuk setiap huruf dalam setiap kata, menyimpan makna-makna tertentu yang tak terbayangkan. Tapi, itu bukan berangkat dari bahasa Arab. Ada Bahasa “lain” yang tak bisa diungkap dengan kata-kata. “Bahasa” yang demikian itu hanya “dirasa” sebagaimana yang pernah disingkapkan kepada Nabi.

Kita bertanya, peristiwa pewahyuan yang jelas-jelas berlangsung secara Kasyfi (penyingkapan) yang jauh di luar nalar-aqliyah, kenapa kemudian kita berupaya sekeras-kerasnya hendak menyingkap kedalaman Al-Quran, atau berusaha keras menemukan Maqosidulayat dengan perangkat-perangkat nalar kita yang terbatas? Bukankah dalam Surat Al-Waqiah disebutkan, “Tidak ada yang dapat menyentuh atau memahami Al-Quran kecuali orang yang disucikan (mutahharun)?” Diksi yang digunakan dalam ayat tersebut adalah orang yang disucikan (mutahharun), bukan orang yang bersuci (mutahhirun), apalagi sok suci. Maka, disucikan di sini bermakna kita ini pasif, tak berdaya, tak mampu apa-apa. Dalam pandangan basyariyyah, mustahil kita yang najis dapat menyucikan diri kita sendiri. Hanya yang Maha Suci yang dapat menyucikan kita.

Bagi santri yang belajar Bahasa Arab secara tuntas, membaca lima ayat di atas tentu tak butuh terjemahan. Sementara pihak lain yang tak paham Bahasa Arab, harus tunduk pada makna yang diperoleh dari hasil terjemahan. Padahal, terjemahan apapun itu sudah merupakan tafsir. Karena telah berupaya mengalihkan dalam Bahasa lain. Kita lupa, bahwa kita hidup dalam rumah besar yang bernama rumah tafsir. Apapun yang menghampiri kita, pasti akan berhadapan dengan tafsir kita sendiri. Dengan demikian, ayat per ayat yang menghampiri kita, maknanya akan dirasakan oleh kita tergantung pada kapasitas tafsir yang kita punya. baik yang mampu menerjemahkan sendiri atau yang berangkat dari terjemahan orang lain, respon pertama adalah kesan. Kesan ini dalam perkembangannya mungkin saja akan dipertanyakan oleh diri sendiri. Apakah kesan dirinya adalah waham yang berdasarkan nafsu dan pengerahan akal, atau kesan berupa kesadaran menyerah bahwa Pemilik Otoritas makna hanyalah Tuhan, sehingga dirinya menyerah tak tahu apa yang dimaksud.

Sehingga, baik yang mampu menerjemahkan sendiri atau yang berangkat dari terjemahan orang lain, respon pertama adalah kesan. Kesan ini dalam perkembangannya mungkin saja akan dipertanyakan oleh diri sendiri. Apakah kesan dirinya adalah waham yang berdasarkan nafsu dan pengerahan akal, atau kesan berupa kesadaran menyerah bahwa Pemilik Otoritas makna hanyalah Tuhan, sehingga dirinya menyerah tak tahu apa yang dimaksud.

Untuk kasus lima ayat di atas, saya sendiri tak mampu menerjemahkan apalagi menafsir. Saat membaca lima ayat di atas saya hanya menemukan kesan bahwa lima ayat terebut bukan dari surat yang sama dalam Al-Quran melainkan dari surat-surat yang berbeda yakni: (1) Surat Al-Baqoroh ayat 246; (2) Surat Ali Imran ayat 181; (3) Surat An-Nisa ayat 77; (4) surat Al-Maidah ayat 27; dan (5) Surat Ar-Ra’d ayat 16.

Kesan berikut saat membaca kelima ayat di atas, saya cuma menemukan bahwa tiap-tiap ayat tersebut sama-sama memiliki 10 huruf Qof. Karena mas
ing-masing memiliki 10 Qof, jika semua ayat itu dibaca, maka dipastikan saya melafalkan 50 huruf Qof. Memang ada apa dengan huruf Qof? Saya tidak bisa jawab. Karena hal ini sudah masuk urusan tafsir.

Kasus lain adalah doa. Seorang santri asal Rembang misalnya, yang lama berjibaku di pesantren, kemudian berkesempatan kuliah di negeri Arab yang berbahasa Arab. Ketika ia pulang kampung dan berdoa, kira-kira doa apa yang akan ia baca? Tentu saja doa-doa yang ada dalam Al-Quran atau doa-doa yang pernah diajarkan Nabi yang ia ketahui dari guru-guru dan kitab-kitab yang ia baca. Apakah si santri itu akan menggunakan Bahasa Arab? Tentu saja iya. Ia bukan hanya mahir Bahasa Arab, tapi ia pun tahu dalam riwayat bahwa Nabi berdoa dengan Bahasa Arab.

Tapi, bagaimana dengan makna dari doa-doa yang ia baca? Meskipun santri Rembang itu sudah menguasai 1000-an nazam dalam Kitab Al-Fiyah, bahkan khatam Mantiq, Juman hingga Bayan, ketika Bahasa Arab ia lafalkan dalam doa-doanya, hati si santri Rembang itu tetap akan mencari bahasa lokalnya atawa bahasa ibunya.

Kenapa si santri yang fasih berdoa dalam Bahasa Arab-nya masih harus menggunakan cita rasa bahasa ibunya dan tidak menggunakan cita rasa dari epistemic-nya Bahasa Arab saja? Ketika santri melangsungkan itu, sebenarnya atas mau siapa? Dorongan apa yang membuat si santri harus menggunakan bahasa primordialnya?

Saya tidak bisa jawab pertanyaan di atas. Tapi ayat 4 dalam surat Ibrahim ini bisa menjelaskan:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Tidak lah kami utus dari seorang rasulpun, kecuali dengan lisan kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Tentu saja santri yang mengalami hal seperti itu bukan hanya berasal dari Rembang, Jawa Tengah. Mungkin saja berasal dari Papua, Aceh, Medan, Bandung, Banten, Tegal, Madura, Amerika, Prancis, hingga Cape Town. Masing-masing dari mereka, punya epistemic sendiri berdasarkan udara, air, pepohonan, pantai, atau pegunungan yang menjadi kediaman tubuh mereka. Maka, santri yang berasal dari Sumedang tetap akan berdoa dengan Bahasa Arabnya yang fasih, tapi batinnya tetap bergelayut dalam lokalitas kesundaannya. Begitu juga santri Minahasa. Ia tak akan main-main untuk berdoa dengan bahasa lain selain Bahasa AlQuran dengan segala pertimbangan tauhidnya, namun sejarah bahasa ibu dalam jiwanya tak bisa ia tanggalkan. Bila demikian yang berlangsung, apakah sikap santri-santri itu keliru?

Dalam perkembangannya, bahasa ibunya kemudian menyublim dalam keseharian seiring kesadaran Islam yang menyusup dalam keyakinannya. Sehingga santri dari Klaten misalnya, memohon ampun kepada Allah dengan bergumam, “Ya Allah Gusti, dalem nyuwun agunging pangapunten, Duh Gusti. Mugi Gusti kerso dalem dados umatipun Kanjeng Nabi.” Salah kah santri Klaten itu karena tidak menggunakan bahasa Arab sebagaimana yang pernah digunakan Sang Nabi? Apakah Allah begitu bodoh karena hanya bisa memahami Bahasa Arab bukan bahasa-bahasa manusia yang lain? Bagaimana dengan ayat 4 dalam surat Ibrahim di atas?

Berangkat dari ekspresi berdoa, mungkin kita dapat mempertimbangkan pula dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita bisa lihat sejumlah istilah tata negara kita yang banyak menggunakan idiom Bahasa Arab. Majlis Permusyawaratan Rakyat, itu semua berasal Bahasa Arab. Majlis, Musyawaroh, Ra’iyyah. Dewan juga dari Bahasa Arab.

Sepintas yang terlihat adalah di satu sisi Nusantara begitu banyak dipengaruhi Bahasa Arab, dan di sisi lain, Islam yang sumber-sumbernya menggunakan bahasa Arab dalam praktiknya kadang menggunakan bahasa lokal. Sebut saja kata puasa. Selama ini, kita begitu akrab menggunakan diksi puasa ketimbang “shiyam”. Padahal puasa yang berasal dari uphawasa adalah bukan Bahasa Arab. Begitu juga saat usai seluruh ibadah shiyam di Bulan Ramadhan, umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri. Kita menyebutnya lebaran. Kemudian kita Mudik ke kampung, bersalam-salaman, sungkeman dan bermaaf-maafan, kemudian saling berbagi bahkan mengadakan halal bihalal. Apakah semua tradisi itu salah sebagai ekspresi lokalitas yang menyublim bersama spirit Islam? Apakah Islam kemudian ternoda?

Jika benar semua tradisi yang sebenarnya menjadi perwujudan nilai-nilai Islam itu dianggap merusak dan menodai kemurnian Islam, maka lepaskan semua atribut lokalitas kita saat ini juga. Lupakan tanah air ini yang pernah menjadi tumpah darah kita. Lupakan bahasa Sunda, Jawa, Bugis, Aceh, Minang, Papua, dan bahasa mana pun yang bukan bahasa Al-Quran. Ratakan semua makam para wali yang sering diziarahi di bumi ini, karena tidak sesuai dengan Islam sebagaimana di negeri Arab. Ratakan pula seluruh pesantren di negeri ini, karena Nabi tidak pernah mendirikan pesantren sepanjang hayatnya. Lepaskan juga semua jeans, atau sarung dan baju surjanmu, karena semua itu tak pernah dipakai oleh Nabi sama sekali. Hapus juga semua sistem ekonomi, politik, budaya yang bukan Islam. Karena semua praktik itu sama sekali bukanlah Islam alias kafir. Hapus tradisi lebaran dan bermaaf-maafan di negeri ini, bila perlu bunuh saja siapa saja yang masih berkunjung dan sungkeman saat lebaran. Karena perilaku itu tidak ada dasar dalil sama sekali. Akhirnya, jika sungguh untuk menjadi Islam adalah harus sama persis sebagaimana yang terjadi di jaman Nabi, maka gurunkan negeri ini segera.

Semoga perang besar di negeri ini segera terjadi. Perang antara pihak yang meyakini bahwa Islam harus sama persis sebagaimana Nabi, melawan pihak yang meyakini bahwa ke-Islaman Nabi dapat melebur dimana saja ia berada termasuk di Nusantara. Semoga kita sama-sama hancur atas nama keyakinan diri sendiri. Semoga Allah Mengabulkan.

Umah suwung

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...