Prof. Azyumardi Azra: Cegah Radikalisme di Masjid, Penceramah Harus Disertifikasi

0 220

ARRAHMAH.CO.ID – Sejumlah Masjid di Indonesia terindikasi terpapar paham radikal, cendekiawan muslim Azyumardi Azra mendukung Kementerian Agama mewajibkan sertifikasi Ustadz. Hal ini menurutnya perlu dilakukan untuk mencegah sebaran radikalisme di masjid-masjid.

“Ke depan, ustadz harus menjalankan sertifikasi dari Kemenag, MUI, NU atau Muhammadiyah,” katanya di Graha VIMB Niaga, Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (10/7/2018).

Menurutnya, upaya sertifikasi ulama tersebut bukan untuk mengelompokkan apalagi memojokkan ulama tertentu. Namun, hal itu dilakukan agar masjid dapat terhindar dari kelompok-kelompok yang membawa paham radikal.

“Sebenarnya bukan masjidnya (yang radikal) tapi penceramahnya. Ustaz atau khatib yang dihadirkan itu yang radikal, misal menyebar paham yang tidak intoleran, paham anti-NKRI, anti-Pancasila. Makanya ustaznya yang ditertibkan,” katanya.

Staf Khusus Wakil Presiden ini menilai, ide Kemenag untuk menyertifikasi para ulama sangat baik. Namun, dia berharap ide tersebut dapat terlaksana dan terlebih dahulu disempurnakan.

Upaya sertifikasi ini juga dapat membantu umat Islam yang ingin mendapatkan penceramah yang baik. Apalagi, masjid menjadi sebuah sarana yang paling gampang digunakan kelompok-kelompok berpaham radikal.

“Karena cukup efektif dan strategis, masjid selalu dikunjungi jemaah semisal dalam salat Jumat, kotbah Jumat, jadi cukup strategis. Khatib Jumat harus dilihat betul rekam jejaknya, jangan undang khatib yang populer saja,” tutupnya.

Baru-baru ini Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) merilis hasil penelitian yang menunjukkan sejumlah masjid terpapar radikalisme.

P3M melakukan penelitian di 100 masjid di lingkungan masjid pemerintahan, lembaga negara, dan BUMN. Penelitian dilakukan pada 29 September sampai 21 Oktober 2017.

Peneliti senior P3M mengungkap indikasi radikal ini didapat setelah hasil penelitian 100 masjid terkumpul dari sejumlah materi yang disampaikan khatib shalat Jum’at.

“Dari 100 masjid sebanyak 41 masjid itu terindikasi radikal,” sebutnya saat jumpa pers di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya.

Indikator konten radikal ini dilihat dari tema khutbah Jumat yang disoroti seperti ujaran kebencian, sikap negatif terhadap agama lain, sikap positif terhadap khilafah, dan sikap negatif terhadap pemimpin perempuan dan non muslim. Dari temuan ini, Agus mengatakan pihaknya kemudian membuat peringkat dan dari 41 masjid, ada tujuh masjid yang level radikalnya paling rendah.

Selengkapnya: P3M: 41 Masjid ‘Plat Merah’ Terindikasi Radikal

 

(suara.com/Iqbal)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...