Diplomasi Kemanusiaan Nahdlatul Ulama Diantara Israel dan Palestina

Kyai NU Ke Israel Arrahmah.co.id - Media Islam Rahmatan Lil Alamin
0 443
ARRAHMAH.CO.ID – Tanggal 10 Juni 2018 kemaren, Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya diundang dan hadir dalam acara Forum Global yang digelar oleh American Jewish Committee (AJC) yang tahun ini dilakukan di Yerusalem.

AJC sendiri adalah salah satu organisasi advokasi Yahudi tertua yang didirikan pada tahun 1906 dan berkantor pusat di Amerika Serikat. Organisasi ini mengklaim bahwa memiliki akses dan jaringan ke pejabat pemerintah, diplomat dan pemimpin-pemimpin negara dan dengan menanfaatkan jaringan ini, mereka mampu untuk mempengaruhi kebijakan dan opini yang berhubungan dengan isu-isu penting seperti melawan anti-semitisme dan ekstrimisme, menjaga posisi Israel di dalam hubungan internasional serta menjaga hak-hak dan kebebasan semua orang.

Dalam kunjungannya ke Israel, Gus Yahya didaulat menjadi salah satu pembicara di hari pertama berlangsungnya kegiatan Forum Global dimaksud. Beliau tampil di hadapan sekitar 2,400 orang dalam diskusi yang dimoderasi oleh Rabi David Rosen (AJC International Director of Interreligious Affairs). Dalam transkrip yang sudah dimuat di situs NU Online, Gus Yahya berbicara tentang hubungan antara Islam dan Yahudi yang fluktuatif, tentang bagaimana memerangi ekstrimisme dengan pendekatan humanis, tentang disengagement dari konflik yang berlarut sehingga solusi bisa tercapai, dan tentang bagaimana pentingnya Rahmah yaitu kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama sebagai solusi dalam penyelesaian konflik.

Kunjungan Gus Yahya ke Yerusalem ini mendapat tanggapan bermacam-macam karena dianggap sebagai sikap yang kontroversi, bahkan tidak sedikit yang mencela bahkan mendapatkan umpatan-umpatan bernada kebencian, baik dari masyarakat biasa, maupun dari tokoh-tokoh politik. Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri MUI Muhyiddin Junaidi misalnya menegaskan bahwa kunjungan tersebut sangat melukai perasaan umat Islam di Indonesia dan bahkan ada sanksi moral dan administratif diterapkan kepada Gus Yahya.

Politisi Partai Gerinda, Fadli Zon juga turut merespon dalam cuitan di akun twitternya bahwa kunjungan ini memalukan bangsa Indonesia dan tidak sensitive terhadap perjuangan Palestina. Kecaman juga datang dari Palestina sendiri. Lewat rilis yang dikirim, HAMAS mengecam keras kunjungan yang menurut mereka “…tidak terhormat, yang tidak hanya menghina rakyat Palestina dan pengorbanan mereka, tetapi juga rakyat Indonesia dan sejarah panjang dalam mendukung perjuangan Palestina”.

Diplomasi Multi-Target

Dari berbagai narasi negative di atas, apakah memang tidak ada keuntungan atau nilai positif dari kunjungan Gus Yahya dalam memenuhi undangan AJC di Yerusalem kemaren? Jawabannya adalah ada!

Yang pertama adalah bahwa Gus Yahya yang merupakan tokoh NU dan sekaligus Katib Aam PBNU ingin menunjukkan ke publik dalam negeri maupun global bahwa NU adalah organisasi Islam yang independen, imparsial dan bukan merupakan proxy dari pemerintah Indonesia. Mendudukkan posisi NU seperti ini adalah sangat penting karena oleh sebagian kalangan dari kelompok intoleran dan radikal dan anti pemerintah termasuk organisasi yang ingin membentuk kekhilafahan di Indonesia, NU digambarkan sebagai organisasi Islam yang tunduk kepada perintah pemerintah pimpinan Presiden Joko Widodo. Dengan kunjungan ini yang secara optik berseberangan dengan kebijakan luar negeri pemerintah Jokowi, NU telah menunjukkan bahwa mereka adalah organisasi yang independent dan bebas nilai

Yang kedua, dengan kunjungan ini, Gus Yahya dan NU sudah menunjukkan kepada public dalam negeri dan global bahwa konflik Israel – Palestina yang sudah berlangsung puluhan tahun ini bukan perang agama, bukan pula perang antara Islam melawan Yahudi atau Islam melawan Kristen. Bagi public global, Gus Yahya secara tidak langsung juga sudah meluruskan bahwa posisi pemerintah Indonesia yang
konsisten untuk membela Palestina itu bukan karena persamaan identitas Islam, akan tetapi karena Indonesia konsisten untuk mewujudkan perdamaian berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan social. Meluruskan persepsi tentang landasan kebijakan luar negeri Indonesia terhadap Palestina ini sangat penting dilakukan karena sangat menentukan bagaimana posisi tawar Indonesia dalam komunikasi-komunikasi diplomasinya dengan negara-negara yang bukan negara Islam, maupun organisasi-organisasi lobby internasional yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap kebijakan pemerintah Israel, dan salah satunya adalah AJC.

Bagi publik dalam negeri, kunjungan Gus Yahya ini juga merupakan langkah taktis untuk memitigasi pembelokkan sikap mendukung Palestina yang selama ini sering disandera oleh kelompok-kelompok intoleran dan radikal berbasis ideologis yang memanfaatkan isu Palestina demi mencapai tujuan pragmatis mereka. Gus Yahya dengan tegas sudah menjaga agar perjuangan membela Palestina itu bebas dari pembajakan oleh kelompok intoleran dan radikal, termasuk oleh politisi oportunis. 

Yang ketiga adalah bahwa Gus Yahya melakukan demistifikasi konflik Israel dan Palestina yang selama ini masih dianggap sebagian besar orang termasuk di Indonesia, sebagai konflik agama. Proses de-mistifikasi ini penting karena secara langsung akan berdampak juga pada persepsi akan posisi dan kredibilitas perjuangan dari kelompok-kelompok perlawanan, terutama kelompok bersenjata di Palestina.
Selama ini, tidak dipungkiri bahwa perlawanan bersenjata kelompok-kelompok bersenjata di Palestina seperti HAMAS dan afiliasinya masih dibingkai dalam kerangka perang suci atau Jihad yang identic dengan teror dan kekerasan. Ini adalah persepsi yang dimiliki oleh warga Israel maupun oleh pemerintah negara-negara maju yang masih mengklasifikasikan HAMAS sebagai organisasi teroris. Kondisi ini sangat tidak membantu perjuangan non-kekerasan yang cukup intens dilakukan oleh komunitas lintas agama di Palesina dan disamping itu juga tidak merepresentasikan kondisi masyarakat mayoritas di Palestina yang sebenarnya ingin damai.

 

Dari analisis di atas, bisa disimpulkan bahwa kunjungan Gus Yahya dimaksud bukanlah kunjungan biasa. Ini adalah kunjungan dengan resiko tinggi akan tetapi memiliki multi-sasaran yang terukur dan secara matang sudah disiapkan dan berhasil dicapai dalam kunjungan dimaksud. Memang proses mediasi dalam konflik dan perang itu tidak gampang, akan tetapi langkah-langkah kecil seperti apa yang dilakukan oleh Gus Yahya ini akan berdampak positif bagi proses menuju perdamaian antara Israel dan Palestina.

Sebagaimana pepatah mengatakan: keep your friend close, but keep your enemy closer

Salam dari Iraq dan Eid Mubarak buat sahabat semua.

Salam dari Iraq

#IndonesiaTanahAirBeta

 

Oleh: Alto Luger

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...