Mengenang Mas Dawam Rahardjo: Pengabdi Dari Solo Ini Berpulang

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

ARRAHMAH.CO.ID – “Kalau mau ketemu pak Idham Chalid, paling pagi itu diatas jam 9. Selepas shalat subuh, pak Idham itu wiridan sampai jam 9”, ungkap mas MDR atau M.Dawam Rahardjo.

Saat itu kami mengenang Idham Chalid, salah seorang tokoh penting politik Islam di era orde lama dan orde baru pendiri sekolah Darul Ma’arif Cipete, Jakarta Selatan.

Pembahasan mengenai Idham Chalid muncul ketika Saya berkesempatan diskusi dengan Mas Dawam di ruangannya, Kantor LSAF jl.Rambutan III No.41 Pejaten, Jakarta Selatan.

Sebelum itu, kami berdiskusi panjang lebar tentang Gus Dur atau K.H.Abdurrahman Wahid.

“Gus Dur itu saya yang bawa ke Jakarta, Saya langsung yang minta izin ke Pak Ud akan membawa Gus Dur ke Jakarta. Saya perhatikan Gus Dur ini cerdas dan potensial, sayang jika tidak berkiprah di level Nasional. Dulu kami sama-sama mendirikan P3M”, ujar Mas Dawam mengenang masa mudanya memberdayakan ekonomi pesantren.

Belakangan cerita ini saya konfirmasi ke Gus Solah (K.H.Salahuddin Wahid) ketika saya sowan ke beliau pada tahun 2014.

Meskipun saya baru bersentuhan dengan Mas Dawam bukan pada era keemasan pemikiran beliau. Tapi saya merasa sangat beruntung bisa belajar dengan beliau ketika saya beraktifitas di LSAF.

Di tahun-tahun itu, mas Mohammad Shofan adalah orang yang paling iseng dan sabar berinteraksi dengan Mas Dawam. Sewaktu-waktu, ketika tidak ada Ibu (istrinya mas Dawam), Mas Shofan adalah orang yang menyalakan rokok dan membuatkan kopi ketika Mas Dawam minta rokok dan kopi; dua hal yang harusnya dihindari Mas Dawam.

Pandangan Mas Dawam yang sudah terbatas kerapkali bertanya “kamu siapa?” Ketika bertemu saya. Baru setelah saya jawab “acun,mas” beliau menjawab oohh.. . Sambil melanjutkan langkah ke ruangannya.

Namun, Keterbatasan pandangan Mas Dawam tadi tidak lantas membuatnya manja dan selalu ingin ditemani. Menurut putrinya, mbak Aliva Yasmin , “bapak tidak mau ditemani kalo berangkat ke Yogya”.

Karena keterbatasan pandangan itulah, kerapkali Mas Dawam harus menunggu sekitar 1 jam di tempat pengambilan bagasi di bandara Yogya.

Mas Dawam akan menunggu seluruh tas di tempat pengambilan bagasi hingga habis sehingga hanya tersisa satu tas miliknya.

Mas Dawam tidak ingin merepotkan orang lain, beliau lebih memilih menunggu lama di tempat pengambilan bagasi di bandara.

Ya Allah…

Lahul Fatihah…

Loading...