Jaringan Ulama Nusantara di Masjidil Haram Abad 17 menuju 18

ARRAHMAH.CO.ID - Syekh Said Ramadan al-Buthy, ulama Suriah yang syahid akibat bom saat mengajar di Masjid Damaskus, pernah menyampaikan ...


Jaringan Ulama Nusantara di Masjidil Haram Abad 17 menuju 18


ARRAHMAH.CO.ID - Syekh Said Ramadan al-Buthy, ulama Suriah yang syahid akibat bom saat mengajar di Masjid Damaskus, pernah menyampaikan prediksi bahwa mercusuar Islam bagi dunia untuk 10 hingga 20 tahun mendatang bukan di Timur Tengah, melainkan Indonesia. Kok bisa? Sebab, selain kondisi Timur Tengah yang saat ini sangat tidak stabil dan tidak kondusif bagi kemajuan peradaban Islam, beliau melihat bahwa sejak dulu, umat Islam Indonesia memiliki karakteristik yang khas dan reputasinya dalam melahirkan ulama kelas dunia. Ya, sebelum pemerintah Arab Saudi membuat kebijakan membatasi peranan ulama non-pribumi, ulama-ulama asal Nusantara telah memainkan peranan penting dalam keilmuan Islam di Haramain (Makkah dan Madinah) pada kurun abad ke XVII hingga awal abad XX.

Azyumardi Azra, dalam “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVII: Akar Pembaharuan Islam Indonesia” menyebutkan bahwa hubungan antara Nusantara dengan Haramain memiliki corak spesial karena pada abad ke XVII dan XVIII banyak ulama Nusantara yang ke Haramain guna menuntut ilmu lalu pulang dan menyebarkan ilmunya di Nusantara. Mereka berguru pada ulama-ulama internasional di sana, dan kemudian menyebarkan ilmunya di Nusantara, meski sebagian kembali ke Haramain dan wafat di sana. Jaringan ulama internasional yang telah dibina oleh para ulama Nusantara ini dipererat dengan solidaritas sebagai bangsa jajahan karena kolonialisme pada era tersebut banyak menimpa negeri-negeri muslim.

Seiring dengan dibukanya Terusan Suez, 1870, jumlah pelajar dan jamaah haji asal Nusantara semakin meningkat pula. Banyak di antara mereka yang memilih mukim di Haramain untuk belajar selama bertahun-tahun. Kehidupan di tanah rantau yang keras ini semakin memperat ikatan emosional dan solidaritas bangsa Melayu sehingga mereka mendirikan kampung Jawa di Makkah. Bahkan, di dalam kitab-kitab klasik, apabila disebut “Jawiy” maka itu yang dimaksud adalah wilayah Nusantara yang meliputi Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara Barat. Keberadaan kampung Jawa di kota suci ini juga ditopang dengan reputasi beberapa ulama Nusantara yang menjadi pengajar di Masjidil Haram. Hampir dipastikan, setiap periode, terdapat minimal satu ulama Nusantara yang menjadi guru besar di Haramain.

Jaringan ulama Nusantara yang ada di Haramain ini, sebenarnya bisa ditelusuri lebih lanjut sejak abad ke-17 dan ke-18, pada saat para pelajar Nusantara yang kelak menjadi ulama terkemuka belajar di kawasan Timur Tengah, seperti Syekh Abdurrauf As-Sinkili, Syekh Saifurrijal al-Azhari, Syekh Yusuf al-Maqassariy, Syekh Arsyad al-Banjary, Syekh Abdul Wahab al-Bugisy, Syekh Ahmad Mutamakkin, Syekh Ahmad Arrifai, Syekh Abdusshamad al-Falimbani, dan sebagainya. Generasi mereka dilanjutkan oleh generasi berikutnya, yang saling bertautan satu dengan yang lainnya.

Koneksi akademis dan spiritual satu ulama dengan ulama lainnya, sezaman maupun antar beberapa generasi, membentuk hubungan guru dengan guru yang terbentuk secara vertikal, maupun guru dengan murid yang bisa pula disebut relasi horizontal. Bentuk hubungan ini tidak berjalan secara organisatoris dalam struktur hierarkis, meskipun jika dipandang dari dunia akademis modern, tetap saja berlangsung dengan ketat. Mobilitas para guru dan murid yang relatif tinggi memungkinkan pertumbuhan jaringan ulama sehingga mengatasi batas-batas wilayah, perbedaan asal etnis, dan kecenderungan keagamaan dalam hal madzhab dan sebagainya.

Amirul Ulum, dalam “Ulama-Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh Di Negeri Hijaz” menyebutkan tak kurang dari 30 ulama Nusantara yang berpengaruh pada akhir abad ke XIX hingga awal abad XX. Mereka berasal dari Bogor, Padang, Yogya, Rembang, Banjarmasin, Bawean, Pacitan, Banyumas, Yogyakarta, dan sebagainya. Mereka mengukir keharuman di bidang keilmuan masing-masing.

Melalui keberadaan para ulama Nusantara (Indonesia) di Haramain ini, kita dapat menemukan titik tumpu koneksi ulama Nusantara dengan ulama Timur Tengah sebagai bagian dari proses transmisi ajaran Islam, dan dinamika yang terjadi dalam proses transmisi ini. Misalnya, seorang murid Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, yaitu Syekh Mahmud al-Masri, menghimpun biografi ulama Nusantara abad 14 Hijri sekaligus guru-guru Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, melalui kitab Tasynif al-Asma' bi Ijazah as-Syuyukh wa al-Sama'. Di dalam kitab ini terdapat sekira 30 ulama Nusantara yang peenah berkiprah di Masjidil Haram, di mana sebagian dari mereka sangat asing dan tidak populer di Indonesia. Untunglah, dengan karya itu, Syekh Mahmud al-Masri berhasil mendokumentasikan nama-nama ulama kita yang berperan penting dalam transmisi keilmuan di Haramain.

Hanya saja dalam makalah ini, penulis tidak mengupas keseluruhan ulama Nusantara yang berkiprah di Haramain, namun hanya beberapa saja, yang penulis anggap memiliki jejak gemilang, reputasi jempolan dan jejaring murid yang berkiprah di bidang keilmuannya masing-masing.

1. Syekh Nawawi Al-Bantani

Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani kerap disebut sebagai “Imam Nawawi Kedua”. Gelar ini diberikan oleh Syekh Wan Ahmad bin Muhammad Zain Al-Fathani. Ulama yang juga berjuluk “Sayyid Ulama Hijaz” ini lahir dengan nama Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi. Ulama besar ini hidup dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat. Ulama yang lahir di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Propinsi Banten (Sekarang di Kampung Pesisir, desa Pedaleman Kecamatan Tanara depan Mesjid Jami’ Syekh Nawawi Bantani) pada tahun 1230 H atau 1815 M ini bernasab kepada keturunan Maulana Hasanuddin putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Keturunan ke-12 dari Sultan Banten. Nasab dia melalui jalur ini sampai kepada Baginda Nabi Muhammad saw.

Setiap kali mengajar di Masjidil Haram, ia selalu dikelilingi sekitar 200-an orang. Pernah pula diundang ke Universitas Al-Azhar, Mesir, untuk memberi ceramah atau fatwa-fatwa pada beberapa perkara khusus. Ia juga merupakan ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, yang meliputi bidang-bidang  fiqih ,  tauhid ,  tasawuf ,  tafsir , dan  hadis . Di antara kitab karyanya yang masih dikaji di pesantren adalah Nihayatuz Zain, Nashaihul ‘Ibad, Tafsir Marah Labid, Uqudul Lujain, dan sebagainya. Total jumlah karyanya mencapai tidak kurang dari 115 kitab.

Banyak murid-muridnya yang di belakang hari menjadi ulama, misalnya K.H.  Hasyim Asyari  (Pendiri  Nahdlatul Ulama ),  KH. Khalil Bangkalan , KH.  Asnawi Kudus , KH. Tb.  Bakrie Purwakarta , KH.  Arsyad Thawil , dan lain-lainnya. Dia juga memiliki pengaruh terhadap ulama yang memimpin aksi pemberontakan Cilegon, Banten, 1888.

 Melalui kedalaman ilmunya, berbagai karyanya, dan jaringan para muridnya, Syekh Nawawi memainkan peranan penting sebagai salah satu ulama terkemuka di pengujung abad ke-19 di Nusantara dan Haramain. Martin Van Bruinessen, dalam Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, mencatat apabila karya-karya Syekh Nawawi merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum di pesantren, khususnya jaringan para muridnya, maupun jaringan murid dari muridnya Syekh Nawawi.

2. Syekh Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi

Nama lengkapnya Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tarmasi. Populer disebut Syekh Mahfudz Tremas. Dialah ulama Jawa paling berpengaruh pada zamannya. Syekh Muhammad Mahfuz Termas lahir di Termas, Pacitan, Jawa Timur, pada 12 Jumadil Ula 1285 H/31 Agustus 1868 M, dan bermukim di Makkah sampai beliau wafat pada 1 Rajab 1338 H/ 20 Mei 1920 M.
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa karangan Syekh Mahfudz mencapai lebih 20 karangan. Mengingat karyanya itu, tidak berlebihan kiranya jika Syekh Yasin Al-Padani, ulama Makkah asal Padang, Sumatra Barat, yang berpengaruh pada tahun 1970-an, menjuluki Syekh Mahfudz At-Tarmasi: al-alamah, al-muhadits, al- musnid, al- faqih, al-ushuli dan al- muqri.

Yang menarik, kitab-kitab karangan Syekh Mahfudz tidak hanya dipergunakan oleh hampir semua pondok pesantren di Indonesia, tapi konon banyak pula yang dipakai sebagai literatur wajib pada beberapa perguruan tinggi di Timur Tengah, seperti di Maroko, Arab Saudi, Iraq dan negara-negara lainnya. Bahkan sampai sekarang di antara kitab-kitabnya masih ada yang dipakai dalam pengajian di Masjidil Haram.

3. Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi

Satu-satunya orang non-Arab yang menjadi imam besar Masjidil Haram di Makkah adalah seorang Minang bernama Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, di akhir abad 19 dan awal abad 20 an. Selain itu, ia juga menjadi Mufti Mazhab Syafi’i yang disegani. Reputasinya sebagai seorang ahli fikih membuat banyak banyak orang memilih berguru kepadanya.
Nama lengkapnya adalah Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi, lahir di Koto Gadang, IV Koto, Agam, Sumatera Barat, pada hari Senin 6 Dzulhijjah 1276 H (1860 Masehi) dan wafat di Makkah hari Senin 8 Jumadil Awal 1334 H (1916 M).

Awal berada di Makkah, ia berguru dengan beberapa ulama terkemuka di sana seperti Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makkiy. Banyak sekali murid Syekh Khatib yang diajarkan fiqih Syafi’i. Kelak di kemudian hari mereka menjadi ulama-ulama besar di Indonesia, seperti Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) ayahanda dari Buya Hamka; Syekh Muhammad Jamil Jambek, Bukittinggi; Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, Candung, Bukittinggi, Syekh Muhammad Jamil Jaho Padang Panjang, Syekh Abbas Qadhi Ladang Lawas Bukittinggi, Syekh Abbas Abdullah Padang Japang Suliki, Syekh Khatib Ali Padang, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Mustafa Husein, Purba Baru, Mandailing, dan Syekh Hasan Maksum, Medan, hingga KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan.

Meskipun tinggal di Makkah, namun ia tak melupakan kampung halamannya. Kepakarannya dalam  mawarits  (hukum waris) telah membawa pembaharuan adat Minang yang bertentangan dengan Islam.  Martin van Bruinessen , dalam “Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat” mengatakan, karena sikap reformis inilah akhirnya al-Minangkabawi semakin terkenal.

 Salah satu kritik Syekh Ahmad Khatib yang cukup keras termaktub di dalam kitabnya Irsyadul Hajara fi Raddhi 'alan Nashara. Di dalam kitab ini, ia menolak doktrin trinitas Kristen yang dipandangnya sebagai konsep Tuhan yang ambigu. Syekh Khatib juga melontarkan kritik terhadap praktek tarekat yang dianggap menyimpang. Selain itu, beliau sempat berpolemik dengan Syekh M Hasyim Asy'ari mengenai Sarekat Islam, menurut pertimbangan manfaat dan madaratnya. Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari menulis Kaff al-Awam, pada 1912, sedangkan sanggahannya dilontarkan oleh Syekh Khatib melalui Tanbih al-Anam yang ditulis dua tahun berselang. Ulama besar ini wafat di  Mekkah  hari Senin 8  Jumadil Awal  1334 H (1916 M) dengan meninggalkan puluhan karya tulis.

4. Syekh Muhammad Mukhtar Al-Bughuri

Lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 14 Sya’ban 1278 (14 Februari 1862). Nama lengkapnya Muhammad Mukhtar bin Atharid Al-Bughuri Al-Batawi Al-Jawi. Pendidikan agamanya didapat langsung dari orang tuanya. Semasa muda, ia telah mampu menghafal Al-Qur’an. Tahun 1299 hijrah ke Betawi (Jakarta) untuk menimba ilmu kepada Sayyid Utsman, Mufti Batavia. Tidak puas juga, ia kemudian menuju ke Makkah. Selama di Makkah, Mukhtar Al-Bughuri belajar kepada ulama termasyhur, Syekh Ahmad Al-Fathani. Ia juga diberi kesempatan untuk mengajar di Masjidil-Haram selama 28 tahun.

 Setiap kesempatan mengajar, ia selalu dikelilingi sekitar 400-an muridnya. Semasa hidupnya telah menulis berpuluh-puluh karya, antara lain kitab Aqaid Ahl As-Sunnah wal-Jamaah, sebuah kitab teologis yang ditulis menggunakan bahasa Sunda yang uniknya diterbitkan oleh penerbit legendaris, Mustafa Bab al-Halabi, Kairo, pada bulan Jumadil Ula tahun 1341 H yang bertepatan dengan Desember 1922.

Selain menjadi guru bagi pendiri Muhammadiyah dan NU, Syekh Mukhtar juga merupakan guru dari Syekh Mahmud al-Banjari (cicit Syekh Arsyad al-Banjari), Syekh Abdullah Fahim (Mufti Pulau Penang), Syekh Mahmud Zuhdi (Mufti Selangor), Sayyid Muhsin al-Musawa al-Falimbani (pendiri Madrasah Darul Ulum Makkah), dan KH. Ahmad Dimyathi bin Abdullah Attarmasi, yang merupakan adik Syekh Mahfidz Attarmasi. Syekh Mukhtar Al-Bughri wafat di Makkah pada 17 Shafar 1349 (13 Juli 1930).

Madrasah Darul Ulum

Selain Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Mahfidz At-Tarmasi, Syekh Khatib Minangkabawi, dan Syekh Mukhtar al-Bughuri, masih ada beberapa nama ulama Indonesia lainnya yang menorehkan tinta emas dalam wilayah spiritual-intelektual di wilayah Haramain. Di antara nama-nama ulama berpengaruh itu tergabung dalam sebuah lembaga bernama Darul Ulum.

Berdirinya Madrasah Darul Ulum ini juga “patriotik”. Pada awalnya para pelajar asal Nusantara menuntut ilmu di Madrasah Shaulatiyah, yang berdiri pada 1875 atas prakarsa seorang ulama keturunan India. Beberapa jebolan madrasah ini menjadi ulama besar seperti KH. M. Hasyim Asy’ari dan Syekh Musthofa Husein Purba, pendiri Madrasah Musthafawiyah, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Karena kebanyakan para pelajar menggunakan bahasa Melayu untuk berkomunikasi, meski dalam pengajaran tetap menggunakan bahasa Arab, namun manakala ada seorang pengajar yang menghina bahasa Melayu, menyobek koran berbahasa Melayu dan melecehkan bangsa Indonesia sebagai orang-orang bodoh yang kesulitan melepaskan diri dari penjajahan, sontak para pelajar tersinggung.

Bukan hanya para pelajar yang geger, beberapa ulama Nusantara yang mengajar di Madrasah Shaulatiyah merasa tersinggung dan segera bermusyawarah. Di antaranya, Syekh Sayyid Muhsin al-Musawa (asal Palembang, wafat 1935), Syekh Zubair bin Ahmad al-Filfulani (asal Penang), Syekh Muhaimin bin Abdul Aziz al-Lasemi (asal Lasem, menantu KH. M. Hasyim Asy’ari), dan Syekh Ahmad Masyhuri. Hasilnya, mereka sepakat mendirikan madrasah diniyah sendiri yang diberi nama Madrasah Darul Ulum pada 16 Syawal 1353/ 1934.

Syekh Sayyid Muhsin al-Musawa didaulat sebagai rektor pertamanya. “Menurut rektor pertama ini, pendirian madrasah ini semata-mata meningkatkan ketakwaan kepada Allah, bukan dalam bertujuan persaingan.” demikian tulis Amirul Ulum dalam “Ulama-Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh di Negeri Hijaz” (2015: 119-21).

Setelah Sayyid Muhsin wafat setahun setelah pendirian lembaga ini, jabatannya dilanjutkan oleh seorang ulama muda ahli hadis keturunan Minangkabau, Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, hingga madrasah ini ditutup pemerintah Arab Saudi tanpa alasan jelas. Para pelajar di Darul Ulum bukan hanya berasal dari Nusantara saja, melainkan dari beberapa kawasan lain. Orang Arab juga banyak yang belajar di sini.

Di antara ulama yang menjadi tokoh kunci Madrasah Darul Ulum ini adalah Syekh Yasin bin Isa al-Fadani dan Syekh Muhammad Zainuddin al-Baweyani. Berikut ini paparan singkat mengenai dua ulama Nusantara tersebut.

1. Syekh Yasin bin Isa al-Fadani.

Syekh Yasin dijuluki Musnid Ad-Dunya (pemilik sanad terbanyak di dunia). Gelar itu diberikan kepadanya karena dipandang sebagai orang yang paling banyak memiliki matarantai intelektual bukan hanya di Makkah dan Timur Tengah tapi juga di dunia. Tak kurang dari 700 ulama menjadi gurunya dan dari jalur intelektual ini ia tergolong sebagai ulama yang mutafannin (multitalenta).

Ahli hadis ini lahir di Makkah pada Selasa, 27 Sya’ban 1335H/ 17 Juni 1917 M. Beliau adalah putra dari pasangan Syekh Muhammad Isa bin Udiq al-Fadani dan Maimunah binti Abdullah al-Fadani. Sejak kecil Syekh Yasin sudah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Bahkan menginjak usia remaja Syekh Yasin mampu mengungguli rekan-rekannya dalam hal penguasaan ilmu hadits, fiqih, manthiq, falak, bahkan para gurunya pun sangat mengaguminya.

Sejak muda, dirinya telah menunjukkan spesialisasinya di bidang hadis. Di antara guru-gurunya adalah Al-Muhaddits as-Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, As-Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi al-Hasani, Al-‘Allamah Khalifah bin Hamd an-Nabhani al-Makki, Asy-Syekh Hasan bin Muhammad bin Abbas bin Ali al-Masysyath al-Maliki, dan sebagainya.

Semenjak geger patriotik di Madrasah Shaulatiyah, Syekh Yasin akhirnya berpindah ke Madrasah Darul Ulum dan sejak 1356 H/1938 M ia mulai mengajar di almamaternya itu.

 Pertengahan tahun 1359 H/1941 M karirnya menanjak sebagai direktur madarasah tersebut. Selain di Madrasah Darul Ulum, Syekh Yasin juga mengajar di Masjidil Haram tepatnya di antara Bab Ibrahim dan Bab al-Wada’, begitu pula di rumahnya dan di kantor sekolahnya.
Rekomendasi untuk mengajar di Masjidil Haram ia peroleh secara resmi tanggal 10 Jumadil Akhir 1369 H/29 Maret 1950 M dari Dewan Ulama Masjidil Haram.

Halaqah beliau mendapat sambutan hangat terutama dari kalangan masyarakat Asia Tenggara dan Indonesia. Di samping itu setiap bulan Ramadhan, ayah dua orang anak ini mengkhatamkan dan mengijazahakan salah satu kitab dari Kutub as-Sittah. Hal ini berlangsung selama 15 tahun.

Para murid-muridnya datang dari pelbagai penjuru dunia. Syekh Ali Jum’ah, mufti Mesir, bahkan mendapatkan sanad hadis melalui Syekh Yasin. Demikian pula dengan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dan beberapa ulama lainnya. Di Indonesia, KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh, KH. Maimun Zubair, Muallim KH. Syafi’i Hadzami, dan beberapa ulama lain adalah di antara murid Syekh Yasin. Agar ikatan emosionalnya dengan Nusantara tidak pupus, Syekh Yasin seringkali mengadakan kunjungan ke beberapa pesantren-pesantren besar di tanah air.

Selain dikenal sebagai sosok sederhana yang sering berpenampilan santai hingga mengecoh mereka yang belum mengenalnya, yang menarik dari sosok Syekh Yasin adalah, sekalipun beliau adalah seorang ulama tradisional namun ia memiliki pandangan progresif terkait dengan pendidikan bagi kaum perempuan.

Setelah sekian lama menanamkan cita-citanya untuk membangun madrasah putri, pada tahun 1362 H/1943 M, Syekh Yasin mendirikan lembaga pendidikan untuk kaum wanita yang dinamainya dengan Madrasah Ibtidaiyyah lil Banat. Lembaga pendidikan ini merupakan yang pertama di Arab Saudi yang didirikan khusus untuk kaum hawa. Setelah sekolah ibtidaiyah telah banyak dan membutuhkan tenaga pengajar, Syekh Yasin memandang perlu mendirikan lembaga pencetak guru wanita. Maka pada bulan Rabi’ul Akhir tahun 1377 H beliau mendirikan Ma’had lil Mu’allimat.

Meskipun masih bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Melayu, namun saat berkarya, Syekh Yasin memilih Bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi. Tak kurang dari 100 karya berbagai cabang keilmuan telah ia hasilkan. Sehingga, tak kurang dari al-Habib Saqqaf bin Muhammad Assegaf, ulama Hadramaut, menjulukinya sebagai “Imam Suyuthi abad ini”.

Setelah sekian lama membaktikan dirinya dalam pengembangan ilmu agama, Syekh yasin bin Isa al Fadani al-Makki berpulang ke hadhiratNya pada hari Jum’at tanggal 27 Dzulhijjah tahun 1410 H/ 20 Juli 1990 M dalam usia 75 tahun.

2. Syekh Muhammad Zainuddin al-Baweyani (1915-2005)

Selain Syekh Yasin, terdapat nama Syekh Zainuddin al-Baweyani. Ulama keturunan Bawean yang menghabiskan usianya di Makkah ini terkenal sebagai pribadi yang rendah hati dan dikaruniai suara merdu. Gurunya, Syekh Amin al-Kurdi, pernah memintanya melantunkan qasidah pujian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Selain beberapa kali berdakwah di tanah air, Syekh Zainuddin memiliki reputasi sebagai mubaligh untuk kawasan Yaman dan beberapa negara Timur Tengah lain.

Di masa muda, ia berguru kepada beberapa ulama Haramain, di antaranya, Syekh Amin al-Kurdi, Syekh Umar Hamdan al-Mahrusi, Syekh Muhammad Baqir al-Jugjawi (asal Yogyakarta), dan Sayid Muhsin al-Musawa (asal Palembang), dan tentu saja kepada Syekh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani yang juga sahabat dekatnya. Karena memiliki reputasi bagus sebagai guru yang memiliki sanad keilmuan dengan beberapa ulama, maka dalam soal ini ia juga menjadi jujugan beberapa ulama yang ingin meriwayatkan ilmu dari beliau. Bahkan, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, salah seorang ahli hadis terkemuka di masa kini, menjelang kewafatannya pada 2004 masih menyempatkan diri mengambil riwayat keilmuan dari Syekh Zainuddin.

Pribadi yang lebih suka tampil bersahaja ini memiliki beberapa karya tulis, di antaranya al-Fawaidu-z-Zainiyyah ala Manzhumati-r-Rahbiyyah yang mengulas hukum waris, Faidul Mannan fi Wajibati Hamil-l-Qur’an, al-‘Ulumu-l-Wahbiyyah fi Manzilati-l-Qurbiyyah dan beberapa karya lainnya.

Syekh Zainuddin yang sering menerima kunjungan jamaah haji dan para santri asal Indonesia ini wafat pada tahun 2005.

Wallahu A’lam Bisshawab.

Referensi:
1. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVII: Akar Pembaharuan Islam Indonesia (Jakarta: Kencana, 2012).

2. Amirul Ulum, Ulama-Ulama Aswaja Nusantara yang Berpengaruh Di Negeri Hijaz (Yogyakarta: Pustaka Musi, 2015)

3. Ahmad Ginandjar Sya’ban, Mahakarya Islam Nusantara: Kitab, Naskah, Manuskrip dan Korespondensi Ulama Nusantara (Jakarta: Pustaka Compas, 2017).

3. Abdurrahman Mas’ud, Intelektual Pesantren: Perhelatan Agama dan Tradisi (Yogyakarta: LKiS, 2004).

4. Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1995)

Oleh: Rijal Mumazziq Zionis, Ketua PC LTN Surabaya

COMMENTS

Nama

.,1,#AyoMondok,12,#BelajarIslam,8,#CintaNKRI,2,#DanaHaji,1,#HariSantri,19,#HariSantri #HariSantri2017,1,#HariSantri2017,1,#HarlahNU,4,#HarlahNU91,2,#HaulKiaiHasanGenggong,2,#IslamIndonesia,1,#IslamNUsantara,4,#KajianRamadhan,1,#SavePalestine,3,#SaveRohingya,3,1 Muharram,3,1 Syawal,1,2016,1,A. Zakky Zulhazmi,1,Abdlul Halim Hasan,1,Abdul Mun'im DZ,1,Abu Bakar Hasan Assegaf,1,Adab Rasulullah,1,Advetorial,2,Afif Sunakim,1,Agama,1,Agama Cinta,1,Agenda,25,Agenda NU,1,Agnez Mo,1,Agus Zainal Arifin,3,Ahlusunnah wal Jama'ah,31,Ahmad Baso,1,Ahmad Mujib Rahmat,1,Ahmet Davutoglu,1,Ahsunnah,1,AJaran Islam,1,Akhir Zaman,1,Akhlakul Karimah,1,Al-Nimr,1,Al-Qaeda,1,Al-Qur'an,4,Al-Qur'an Raksasa,1,Al-Zastrow Ngatawi,1,Alamsyah M. Dja’far,3,Ali bin Abi Thalib,2,Ali Zawawi,1,Alissa Wahid,1,Allah,1,Almanak,1,Alumni Madrasah,1,Amalan,16,Amalan di Bulan Ramadhan,2,Amalan NU,4,Amalan Rasulullah,1,Amaliah,19,Aman Abdurrahman,1,Amirul Ulum,2,Anas Saidi,1,Angka Istimewa dalam Islam,1,Angka Tiga,1,Angker,1,Ansor,3,Ansor Garut,1,Ansor Malang,1,Ansor Surabaya,1,Anti Korupsi,4,Anti Narkoba,1,Anti Radikalisme,3,Anti Terorisme,2,Anti Wahabi,1,Aplikasi Batik,1,Aqidah,2,Arab,1,Arab People,1,Arab Saudi,2,Arief Mundatsir Mandan,1,Arifin Junaidi,1,Arrahmah Channel,5,Arrahmah Featured,11,Arrahmah.com,1,Articles,2,Artikel,26,Asian Youth Robot Olimpiade,1,Asosiasi Pesantren NU,1,Aswaja,24,Asy'ariyah,1,Australia,1,Avicenna Roghid Putra,1,Ayat-ayat Toleransi,1,Ayman Adz Dzawahiri,1,Ayo Mondok,1,AYRO,1,Bahtsul Masail,1,Bangsa Indonesia,1,Banser,14,Banten,1,Batik,1,Batik Indonesia,1,Battle,1,Battle of Uhud,1,Beasiswa,12,Beasiswa Kemenag,3,Beasiswa Madrasah,1,Beasiswa Santri,1,Beasiswa Santri 2016,1,Beasiswa Santri Berprestasi,2,Beasiswa Santri Berprestasi 2016,1,Bekasi,1,Belajar Islam,26,Berita,148,Berita Duka,5,Berita Islam,3,Bid'ah,2,Bid'ah para Sahabat,1,Bima Arya,1,Biseksual,1,Bisnis Haram,1,BNN,1,BNN di Jepara,1,BNPT,2,Bodo Kupat,1,Bogor,1,Bom Kuningan,1,Bom Sarinah,2,Bom Thamrin,2,BPOM,1,Brain,1,Budaya,1,Buku,6,Bulan Rajab,1,Buletin Jumat,5,Burdah,1,Cak Masykur,25,Cak Nun,1,Cak Nur,1,Cangkir9,2,Cep Herry Syarifuddin,1,Cerpen,2,Channel Arrahmah,37,Charlie Hebdo,1,Cheng Ho,1,Choirul Anam,1,Cinta,1,Cinta Bangsa,1,Cinta Tanah Air,1,Counter Radicalism,6,Cybercrime,2,Dajjal,1,Dakwah Islam,4,dan Transgender,1,Darurat Narkoba,3,Dea Anugerah,1,Deklarasi Nahdlatul Ulama,1,Deklarasi Serpong,1,Densus 88,2,Digital Media,2,Direktorat Pendidikan Madrasah,1,Dit PD Pontren Kemenag,1,DKI Jakarta,1,Doa,31,Doa Akhir Tahun,1,Doa Anak Sholeh,1,Doa Awal Tahun,1,Doa Berbuka,1,Doa dan Tirakat,1,Doa Gus Mus,1,Doa Harian,1,Doa Nabi,1,Doa Pernikahan,2,Doa Setelah Shalat,1,Doa Wudhu,1,Dosen UIN Walisongo,1,Download,1,Dr. Amin Haedari,1,DR. KH. M. A. SAHAL MAHFUDH,1,Dr. Nadirsyah Hosen,10,Dubes,1,Dzikir dan Doa,2,Dzikir Setelah Shalat,1,Editor's Choice,10,Effendi Choirie,1,Ekologi,3,Ekonomi,3,Eksekusi Mati Al-Nimr,1,English Edition,1,Esensi Syariah,1,Fadhila Haifa’ Afifah,1,Fadilah,1,Falak,1,Fardhu Wudhu,1,Fatayat NU,2,Fathoni Muhammad,1,Fatwa MUI,1,FDS,11,featured,133,Featured Arrahmah,44,Fikih,2,Fikih dan Muamalah,3,Fikih Ibadah,10,Fiqh,8,Fiqh Ibadah,1,Fiqh Qurban,6,Fiqh Shalat,3,Fiqih Lingkungan,2,Firqaf,1,Firqah,1,Firqoh,1,Fokus Khusus,1,FSN,2,Fulldayschool,4,Fundamentalis akan Habis,1,Gafatar,1,Galeri,4,Gay,1,Geluntung Agel Wafi,1,Gerakan Nasional AyoMondok,1,Gerhana,1,Gerhana Bulan,1,Gerhana Matahari,3,Gerhana Matahari Total,1,GIYE,1,Good Muslim,13,GP Ansor,8,Grand Syaikh Al-Azhar,1,Grants,1,Griya Gus Dur,1,GTK Madrasah,2,Guru Inspiratif,2,Guru Madrasah,2,Guru MAN,1,Guru Mughni,1,Guru PAI,1,Gus Ahmad Muwaffiq,1,Gus Aqib,1,Gus Dur,23,Gus Miek,1,Gus Mus,9,Gus Muwafiq,1,Gus Rizal Mumaziq,1,Gus Sholah,1,Gus Ubaidillah Achmad,1,Gus Yaqut,1,GusDur.net,1,Gusdurian,2,Habib Abu Bakar,1,Habib Lutfi,1,Habib Luthfi bin Yahya,1,Habib Novel,10,Habib Novel Alaydrus,7,Habib Salim Bin Jindan,1,Habib Sholeh Al-Hamid Tanggul,1,Habib Syech,1,Habib Umar bin Hafidz,3,Hadist,1,Hadist Jibril,1,Hadits,1,Hadits 72 Bidadari,1,Hadits Diskriminatif,1,Hafidzoh,1,Haji,7,Haji 2015,1,Haji 2017,1,Haji 2018,1,Hajj,1,Halal bi Halal,3,Halaqah,1,Hamid Ahmad Masduki Baidlawi,1,Har Santri,1,Hari Arafah,2,Hari Batik Nasional,1,Hari Natal,1,Hari Pahlawan,2,Hari Santri,32,Harlah,2,Harlah NU,3,Hasan al-Bashri,1,Haul,4,Haul Gus Dur,9,Haul Kiai Sholeh Darat,2,Haul Sunan Ampel,1,Haul Sunan Bonang,1,Haul Syekh Nawawi Al-Bantani,1,Headlines,20,Hikam Zain,15,Hikmah,83,Hikmah Islam,45,Hipsi,3,Hisab,1,Hizb,1,Hizbut Tahrir,2,Hizbut Tahrir Indonesia,2,Hoax,2,Hong Kong,1,HTI,2,HTIBubar,6,Hubbul Wathan minal Iman,1,Hukum Islam mengenai LGBT,1,Hukum Melangkahi Kuburan,1,Hukum Membunuh,1,Hukum Membunuh dalam Islam,1,Hukum Ucapan Natal,1,Humor,3,HUT TNI,1,Hymne,1,I-Banking,1,Ibadah,4,Ibn Muljam,1,Ibn Yaqzan,1,Ibu Nabi Muhammad,1,Ibunda Nabi Muhammad,1,IDC,1,Ideologi,1,Idhul Adha,1,Idul Adha,14,Idul Fitri,7,IIEE,1,IISRO,1,Ijazah,6,Ijtihad,1,Ikhbar,42,Ilmu Kalam,1,Image,1,Imam al-Syafi’i,1,Imam Ghazali,1,Imam Malik,1,Imam Muslim,1,Imam Nawawi,1,Imlek,1,INC,2,Indonesia Darurat Narkoba,1,Info Haji,2,Inspirasi,11,Inspirasi Pesantren,2,Interfaith,3,Internasional,98,International,3,International Islamic School Robot Olympiad,1,International Peace Day,1,Internet Banking,1,IPNU,1,IPPNU,1,Iqbal Khalidi,3,Iqbal Kholidi,1,Iran,1,ISIS,11,Islah Gusmian,1,Islam,16,Islam dan Perdamaian,1,Islam Di China,3,Islam di Papua,1,Islam Indonesia,3,Islam Nusantara,28,Islam Nusantara Center,1,Islam Papua,1,Islam Radikal,1,Islamic Event,1,Islamic State,1,Isra' Mi'raj,1,Istighosah Kubro,1,Istikharah,1,Ito Surmardi,1,JAD,1,Jakarta,4,Jamiyatun Nasihin,1,Jasad Utuh,1,Jawa Barat,3,Jawa Tengah,7,Jawa Timur,4,Jazirah Arab,1,JIhad,3,Jihad fi Sabilillah,1,Jokowi,5,Jonru,1,Jurnalistik,1,K.H. Ahmad Umar Abdul Manan,1,Kabar Duka,1,Kabar Pesantren,5,Kabar Pesantrens,1,Kajian Islam,18,Kajian Ramadhan,1,Kalam Ulama,4,Kalender,2,Kalender Islam,2,Kalimah Syahadat,1,Kalis Mardiasih,1,Kampung Damai,1,Kampus,1,Kekerasan,1,Kemenag,3,Kementerian Agama,1,Kementerian Agama RI,3,Keraton Sumenep,1,Kesehatan,4,Ketua PBNU,1,Ketum PBNU,1,Ketupat,1,Keutamaan Bulan Rajab,1,Keutamaan Shalat Tarawih,16,Keutamaan Shalawat Nabi,2,Keutamaan Tarawih,1,KH A Ghazalie Masroeri,1,KH Abdurrahman Wahid,5,KH MA Sahal Mahfudh,2,KH Maemon Zubair,1,KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh,1,KH Sahal Mahfudh,3,KH Said Aqil Siraj,1,KH Wahab Hasbullah,1,KH. Abdul Aziz Manshuri,1,KH. Abdul Ghoffar Rozien,1,KH. Abdul Karim,1,KH. Abdul Muhaimin,1,KH. Abdurrahman Wahid,1,KH. Ali M. Abdillah,1,KH. Bisri Mustofa,1,KH. Cep Herry Syarifuddin,3,KH. Hasyim Asy'ari,1,KH. Hasyim Asyari,3,KH. Husein Muhammad,2,KH. Iftah Sidiq,1,KH. Lukman Harits Dimyati,1,KH. Ma'ruf Amin,2,KH. Maimoen Zubair,11,KH. Marzuqi Dahlan,1,KH. Masdar F. Mas'udi,2,KH. Mustofa Bisri,2,KH. Said Aqil Siraj,5,KH. Sholeh Darat,8,KH. Thobary Syadzily,1,KH. Tubagus Muhammad Falak,1,KH. Yahya Cholil Staquf,3,KH. Zainal Mustafa,2,KH. Zakky Mubarok,2,KH.Shalih Darat,1,Khanza Iliyina Syafa,1,Khawarij,1,Khazanah,3,Khazanah Isam,7,Khazanah Islam,379,Khilafah Islamiyah,5,Khofifah Indar Parawansa,1,Khoirul Anam,2,Khulafaur Rasyidin,1,Khutbah,4,Khutbah Idul Fitri,2,Khutbah Jumat,1,Kiai Abdul Hamid,1,Kiai Hasan Genggong,1,Kiat Menulis,1,Kiddle,1,Kilas,1,Kirab Santri,1,Kisah Hikmah,16,Kisah Nabi,1,Kisah Rasulullah,1,Kisah Teladan,1,Kita Tidak takut,1,Kitab Durrotun Nasihin,1,Kitab Jawahirul Bukhori,1,Kitab Kuning,5,Kitab Pegon,1,Kitab Suci,1,Kokam,1,Kolom,96,Komedi Religi,1,Kominfo,1,Konferwil NU Jabar,1,Konflik Sunni-Syiah,1,Kongkow Sufi,3,Konsultasi Agama,1,Konsultasi Islam,1,Kontra Radikal-Terorisme,1,KPAI,1,KPK,1,Kreatif Indonesia,1,Kriminal,1,Krisis Jerusalem,2,Krisis Rohingya,7,KUPI,1,Kurban,7,Kyai Maimoen Zubair,1,Kyai Masdar,1,Kyai Pahlawanku,1,Kyai Pesantren,1,Lailatul Qadr,1,Lambang NU,1,Lapan-A2,1,Laporan,1,Lazisnu,1,Le Petit Prince,1,Lebaran,1,Lebaran Ketupat,1,Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama,2,Lesbian,1,Letter of Acceptance,1,LFNU,1,LGBT,2,Liberalisme,1,Life of Mohammed,3,Life of Muhammad,2,Liga Santri,2,Liga Santri Nusantara,3,Lingkungan,1,LIPI,1,Litbang Kemenag,1,Literasi,7,Literasi Digital,3,LoA,1,Logo Muktamar NU ke-33,1,Logo NU,1,Love Peace,1,LPDP,1,LSN,5,LSN 2017,3,LTN NU,3,Lukman Hakim Saifuddin,3,Lunar System,1,M. Kholid Syeirazi,1,M. Nur Kholis Setiawan,1,M. Rikza Chamami,13,M. Rikza Khamami,1,Ma'arif NU,2,Madrasah,24,Madrasah Diniyah,5,Madrasah Lebih Baik,2,Madrasah TBS,1,Mahasiswa,2,Mahbub Ma'afi,2,Mainstream Media,1,Majelis Dzikir,1,Majelis Shalawat,1,Makalah,3,Makam Gus Dur,1,Makam Nabi,1,Makam Nabi Muhammad SAW,1,Makam Rasulullah,1,Makam Sunan Bonang,1,Makkah,1,Maklumat,3,Makna Bismillah,1,Makna Logo Muktamar NU ke-33,1,Malik bin Anas,1,Mama Falak,1,MAN IC,1,Manhaj Salafi Imam Syafi’i,1,Manhaji,1,Manusia Robot Bali,1,Mars,1,Masjid,1,Masjid Zhenjiao,1,Masjidid Haram,1,Masjidil Haram,1,Maturidiyyah,1,Maulid,4,Maulid Burdah,1,Maulid dalam Islam,1,Maulid Nabi,7,Maulid Nabi Muhammad SAW,3,Mbah Maimoen Zubair,2,Mbah Moen Sarang,2,Mbah Mun,1,Mbah Sahal,1,Mbah Sholeh Darat,1,MCA,1,Media,2,Media Sosial,1,Media Watch,1,Mehmet Gormez,1,Melangkahi Kuburan,1,Meme,1,Meme Islami,1,Menag,2,Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia,1,Mengenal Jejak Mengenal Watak,1,Menristek,1,Menulis,1,Merayakan Maulid,1,Milad,1,Minal Aidin Wal Faizin,1,Minhajul 'Abidin,5,Moment,1,MTs Surya Buana Malang,1,MTsN 2 Pamulang,1,MTT,1,Mualaf,2,Mudik Lebaran,1,Muhammad,2,Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab,2,Muhammad Nasir,1,Muhammad Niam,1,Muhammad PBUH,1,Muhammad SAW,3,Muhammad Tijany,1,Muharram,2,MUI,1,Mujaheeden,1,Mujahidin Palestina,1,Mukiyah,1,Mukjizat,2,Muktamar NU,1,Muktamar NU ke 33,2,Munas-Konbes NU,20,Munawir Aziz,1,Muntaha Azhari,1,Museum Keraton Sumenep,1,Muslim Hong Kong,1,Muslim Kagetan,1,Muslim Papua,1,Muslimat NU,2,Nabi dan Rasul,1,Nabi Ibrahim,1,Nabi Muhammad,2,Nabi Muhammad SAW,6,Nadirsyah Hosen,6,Nadlatul Ulama,2,Nahdatul Ulama,18,Nahdlatul Ulama,157,Nahdlatul Ulamata,1,Name of Allah,1,Narkoba,3,Nasehat,8,Nasihat,1,Nasional,412,Nasionalisme,1,Natal,1,Natal 2015,1,Natal dan Maulid,1,Netizen Jurnalistik,1,New,1,News,677,News Ikhbar,2,News IPPNU,1,News Pictures,17,Ngaji Live,1,Ngaji Puasa,27,Ngaji Ramadan,8,Ngaji Ramadhan,20,Ngaji Video,1,Niat Puasa,1,Nishfu Sya'ban,1,NKRI,1,NKRI Harga Mati,3,NU,7,NU ANZ,1,NU Batang,1,NU Bogor,13,NU Care,2,NU Care LazisNU,2,NU Garis Lurus,1,NU Jabar,2,NU Jatim,1,NU Klaten,1,NU Semarang,1,NUCare,4,NUPeduli,1,Nur Kholik Ridwan,1,Nur Rofiah,1,Olimpiade Kedokteran,1,Opini,283,Opinion,1,Opnion,1,Orbituari,2,Pagar Nusa,13,PAI,2,Palestina,2,Palestine,1,Palestine Mujaheeden,1,Papua,1,Parenting,1,PBNU,8,PBSB,3,PBSB 2016,1,Peace,1,Peduli Bencana,2,Pelajar NU,1,Pendaftaran PBSB 2016,1,Pendididkan Islam,18,Pendidika Islam,1,Pendidika Islam,1,Pendidikan,171,Pendidikan Agama,1,Pendidikan Islam,158,Pendidikan Karakter,2,Pendidikan Madrasah,5,Pendidikan Politik,3,Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam,1,Pendidikn Karakter,1,Pendis Kemenag,2,Penggrebekan di Jepara,1,Pengobatan Islami,1,Penjajahan,1,Pentas PAI,1,Penulis,1,Perang,1,Perang Badar,1,Perang Uhud,1,Perguruan Tinggi NU,1,Perkemahan Rohis,1,Perppu Ormas,2,Perpres,1,Perpu Ormas,1,Perwimanas,2,Pesan Kiai,1,Pesantren,70,Pesantren Assalafiyah Cirebon. Assalafiyah,1,Pesantren Ibnu Mas'ud,1,Pesantren Lirboyo,2,Pesantren Mahasiswa,1,Pesantren Salaf,1,Photo,1,Pilihan Editor,105,Pilkada,1,Pilkada 2017,1,Pilkada DKI,1,Pilkada Jatim,1,Ploso,1,PMII,3,Polemik Sejarah Tere Liye,1,Politik,13,Ponorogo,1,Ponpes Al-Anwar,1,Pontianak,1,PPMN III,1,Pra Munas,4,Pramuka,1,Prof. Dr. Ahmad Tayyeb,1,Prof. Dr. Quraish Shihab,3,Profil,3,PTKI,1,Puasa Arafah,1,Puasa Ramadhan,1,Puisi,12,Pustaka,10,Pustaka Pesantren,8,Qawli,1,Qunut Nazilah,1,Quote,1,Qurban,5,Radicalism,1,Radikalisme,10,Rajab,1,Ramadan,2,Ramadhab,1,Ramadhan,72,Ramadhan 2015,12,Ramadhan 2016,2,Ramadhan di Hong Kong,1,Ramadhan Video,25,Rasis,1,Rasullah,1,Rasulullah SAW,6,Recommended,2,Refleksi Akhir Tahun,1,Release,2,Release PBNU,1,Religion,2,Remaja Islam,1,Resolusi Jihad,2,Resolusi Jihad NU,1,Rezeki Halal,1,Rijal Mumazziq Z,1,Risalah NU,1,RMI NU,4,Robikin Emhas,1,Robot,1,Rohingya,11,Rokok,2,Rubbubiyah,1,Ruchman Basori,2,Rukun Islam,1,Sahabat,1,Sahabat Nabi,2,Sahih Muslim,1,Said Budairy,1,Saifuddin Zuhri,1,Saifullah Ma'shum,1,Sajak,2,Salafi,2,Salam,1,Sanad Keilmuan,1,Santri,6,Santri Goes To Papua,3,Santri Menulis,1,Santri Urban,1,Sarkub Papua,1,Sastra Islam,11,Satelit,1,Satelit Indonesia,1,Save Rohingya,6,Sayembara Logo Muktamar NU ke-33,1,Science,5,Sedekah,3,Sejarah,5,Sejarah Al-Qur'an,1,Sejarah Indonesia,2,Sejarah Islam,1,Sejarah NU,2,Sekolah Lima Hari,1,Seni dan Sastra Islam,12,Seri Belajar Islam,8,Seri KH. Said Aqil Siraj,1,Seri Tokoh,1,SGTP,1,Shahih Muslim,1,Shaikh Nimr Baqir al-Nimr,1,Shalat,18,Shalat Gerhana,3,Shalat Idul Adha,1,Shalat Istiqa,1,Shalat Jum'at,6,Shalat Sunah,1,Shalat Sunnah,3,Shalat Tarawih,15,Shalawa Nabi,1,Shalawat,2,Shalawat Nabi,4,Shalawat Nabi Muhammad SAW,2,Shalawat Nariyah,3,Sholat Tarawih,1,Sholawat,1,Sholeh Darat,1,Short Course,1,Sifat Mulia Rasulullah SAW,1,Silsilah Nabi Muhammad SAW,1,Silsilah Rasulullah,1,Sindikasi Damai,15,Sindikasi Media,1,Singaparna,1,Sinopsis,1,Sirah Nabawiyah,2,Sirah Nabi,2,Siswa Berprestasi,1,Slamet Basyid,1,solar system,1,Solidaritas,1,Sponsored,2,Suara NU,1,Sudut Pandang,1,Sudut Taman Ramadhan,7,Sufistik,1,Sumanto Al Qurtuby,9,Sumenep,1,Sunnah,2,Sunnah Rasulullah,1,Sunnah Shalat,1,SUNNI,1,Sunni-Shia,1,Sunni-Syiah,1,Suraji,6,Surat Edaran Gubernur Jateng,1,Surat Terbuka,3,Suriah,2,Syafa'at Rasulullah,1,Syafaat Nabi,1,Syahid,1,Syahrozad Zalfa Nadia,1,Syaikhona Kholil Bangkalan,1,Syarat Wajib Zakat,1,Syariah,2,Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani,1,Syeikh Abdul Qodir Al-Jailany,1,Syekh Abdul Qadir Al-Jailani,1,Syekh Dr. Muhammad Fadhil,1,SYIAH,3,Tafsir,1,Tafsir Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani,1,Tahlilan,2,Tahun Baru 2016,1,Tahun Baru Islam,2,Tahun Baru Masehi,1,Tanah Suci,1,Tarawih,21,Tasawuf,3,Tawan,1,Tawariq,1,Tayyip Erdogan,1,Tebuireng,6,Tekno,20,Teladan,1,Teladan Nabi,3,Teologi Teror,1,Teraweeh,1,Tere Liye,1,Teror,1,Teror 2016,1,Teror Jakarta,1,Teror Sarinah,1,Teror Thamrin,1,Teroris,4,Terorism,10,Terorisme,25,Tionghoa,1,Tips and Trick,2,Tokoh,86,Tokoh Betawi,1,Tokoh Bogor,1,Tokoh Dunia,3,Tokoh Indonesia,19,Tokoh Islam,114,Tokoh Kemerdekaan,2,Tokoh Muda Islam,25,Tokoh NU,17,Tokoh NU Bogor,1,Tokoh NU Jabar,1,Tokoh Perempuan,1,Tokoh PMII,1,Tokoh Rembang,1,Tokoh Syiah,1,Tolak FDS,12,Toleransi,5,Tradisi,2,Tragedi Crane di Masjidil Haram,1,Trend Sosial,2,Tuah Pesantren,1,Tulisan Arab,1,Tuntunan Islam,1,Turats,1,Turki,1,TurnBackHoax,4,Tutorial,1,TV9,1,Ubaidillah Achmad,23,Ubaidillah Ahmad,1,Ucapan Minal Aidin Wal Faizin,1,Ucapat Selamat Natal,1,Udhiyah,1,Uhud,1,Ulama,11,Ulama Bogor,1,Ulama Indonesia,1,Ulama NU,3,Ulama Nusantara,1,Ulama Perempuan,1,Ulama Salaf,1,Uluhiyah,1,UNU,2,Ustad Ahmad Ikrom,1,Ustadz,1,Ustadz Ahmad Ali MD,2,Ustadz Ali MD,1,Ustadz Fathuri,24,Ustadz Fatoni Muhammad,1,Ustadz Lc,1,Ustadz Ma'ruf Khozin,3,Ustadz Menjawab,5,Ustadz Yusuf Mukhtar Sidayu,1,Ustadz Yusuf Suharto,1,Uswah,3,Uswatuna,3,UU Ormas,1,Video,5,Vinanda Febriani,7,VoA-Islam,1,Wahabi,4,Wahabism,2,Wahabisme,2,Wahid Foundation,6,Wali Pasemone,1,Wali Songo,2,Walisongo,5,Waliyullah,1,Wardi Taufik,1,Wawasan,79,Wawasan Islam,54,Wawasan Kebangsaan,12,Wawasan Nusantara,43,Website Islam Indonesia,1,Website Islam Nusantara,1,Wirid dan Doa,2,Wirid dan Doa Setelah Shalat,1,Women and Jihad,1,Women Fighter,1,World Peace,1,Wudhu,3,Yahya Staquf,1,Yasin,1,Yayasan Saifuddin Zuhri,1,Yenny Wahid,3,Yogyakarta,8,Z-Featured,3,Zainal Mustafa,1,Zakat,4,Zakat Fitrah,2,Zakir Naik,1,Zakky Zulhazmi,2,ZIarah,4,Ziarah Kubur,2,Zikir,1,Zuhairi Misrawi,1,Zulkilfi Hasan,1,خطبة كسوف الشمس,1,
ltr
item
Arrahmah.co.id - Portal Dunia Islam: Jaringan Ulama Nusantara di Masjidil Haram Abad 17 menuju 18
Jaringan Ulama Nusantara di Masjidil Haram Abad 17 menuju 18
https://2.bp.blogspot.com/-B5lCWreW1YM/WwY0j4NI5HI/AAAAAAAACgE/aavrLD1vAnIe39tIeEimHvkI-gSOMqxggCEwYBhgL/w640-h370/IMG_20170612_134417.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-B5lCWreW1YM/WwY0j4NI5HI/AAAAAAAACgE/aavrLD1vAnIe39tIeEimHvkI-gSOMqxggCEwYBhgL/s72-w640-c-h370/IMG_20170612_134417.jpg
Arrahmah.co.id - Portal Dunia Islam
https://www.arrahmah.co.id/2018/05/jaringan-ulama-nusantara-di-masjidil.html
https://www.arrahmah.co.id/
https://www.arrahmah.co.id/
https://www.arrahmah.co.id/2018/05/jaringan-ulama-nusantara-di-masjidil.html
true
766049156261097024
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content