Diduga Terpapar Paham Radikal, Sekolah Dasar ini ‘Haramkan’ Hormat Bendera dan Indonesia Raya Karena Syirik

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

ARRAHMAH.CO.ID – Indikasi ada sekolah yang tidak mewajibkan hormat bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya saat upacara setiap Senin, diduga benar.

Sekolah setingkat Sekolah Dasar (SD) tersebut diketahui berada di Batam. Dilansir Batamnews, seorang warga mengaku pernah melihat ada upacara di sekolah tersebut dengan ritual janggal tersebut.

Para peserta upacara tidak hormat terhadap bendera merah putih, dan tidak pula menyayikan lagu Indonesia Raya saat upacara berlangsung.

“Saya pernah lihat, bulan 11, tahun lalu,” ujar seorang pria yang pernah melihat hal tersebut, Sabtu, (19/05/2018).

Pria itu pun menceritakan bagaimana hal itu terjadi. Bukannya sekali, namun kejadian itu beberapa kali ia temui.

Bahkan ia sempat mempertanyakan kepada pihak sekolah mengenai hal tersebut. Namun pihak sekolah menganggap hormat terhadap bendera itu termasuk perbuatan syirik.

“Saya pernah debat juga, ya mereka menyamakan hormat bendera itu sama dengan menghormati Tuhan. Pandangan saya bagi mereka (pihak sekolah) menghormati itu sama dengan menyembah,” katanya.

Ia juga heran, padahal hormat terhadap bendera merah putih itu adalah bentuk menghargai perjuangan pahlawan yang telah gugur dalam memerdekakan Indonesia.

“Kita bukan menghormat bendera tapi menghargai perjuangan pahlawan,” katanya.

Tidak hanya soal hormat bendera. Ia juga menceritakan kalau nyanyian di sekolah tersebut tidak dibolehkan. Bahkan nyanyian doa yang dibuat seperti nyayian biasa juga dilarang.

“Nyayian apa aja nggak boleh. Salawat dibikin nyanyian juga tidak boleh, tapi kalau irama biasa boleh,” katanya.

Namun, warga lain yang jualan di sekitar sekolah mengaku tidak mengetahui atau melihat kejadian itu. “Tidak tahu, anak saya nggak sekolah di sini,” kata.

Menurutnya, sekolah tersebut terkenal bagus. “Bagus, tapi mahal,” ujarnya.

Sebuah Sekolah Dasar memasang sebuah spanduk tentang penolakan terhadap aksi terorisme

Ketika dikonfirmasi, ke sekolah swasta yang dicurigai tersebut, kepala sekolah SD itu membantah sekolahnya mengenai kejanggalan dalam hal upacara bendera. Ia mengatakan, sekolah tetap melakukan upacara sesuai ketentuan dari Dinas Pendidikan Kota Batam.

“Kita ikuti aturan Dinas Pendidikan, ada susunan upacara seperti sekolah lain,” ujarnya.

Ia mengatakan, sekolahnya hanya fokus kepada membentuk murid yang religius. “Kita di sini, Pancasila nomor satu yang ditekankan,” ujarnya.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Batam, Aman, sebelumnya menduga ada sekolah yang tak melaksanakan upacara bendera dan sudah disusupi paham radikal.

Selain itu ia juga sudah menemukan adanya siswa SMP di Batam yang juga menjadi kader organisasi yang dilarang pemerintah.

“Tapi hal ini juga sudah dilaporkan ke Dinas Pendidikan Batam,” ujar Aman saat berbincang dengan batamnews.co.id pada Rabu.

Menurut Aman, sekolah yang diduga disusupi paham radikalisme itu berada di kawasan Bengkong dan Nongsa bahkan hingga sekolah negeri.

Dari laporan warga sekitar sekolah menyebutkan, ada hal yang tidak wajar. Pelaksanaan upacara misalnya, siswa tidak memberi hormat pada bendera. Selain itu juga tidak diperbolehkan menyanyikan lagu Indonesia raya.

“Hal ini harus menjadi perhatian yang serius kepada Pemerintah Kota (Pemko) Batam. Agar bibit-bibit radikalisme itu tidak menyusup lebih jauh ke dunia pendidikan,” katanya.

Pemko Batam dan aparat terkait menurutnya masih lemah untuk mengawasi paham radikalisme di sekolah, termasuk mengawasi aliran-aliran menyimpang lainnya.

1. Kepala BIN Kepri: Masyarakat Tak Perlu Risau

Pihak Badan Intelijen Negara (BIN) bereaksi terkait informasi mengenai adanya sekolah yang tidak hormat terhadap bendera merah putih saat upacara di setiap hari Senin di Batam.

Kepala BIN Provinsi Kepri Suharyono mengatakan isu tersebut tak perlu ditanggapi.

“Hanya buat onar saja dan pastinya Badan Intelijen Negara dapat informasi tersebut kalau benar,” ujar Kepala Badan Intelijen Negara Provinsi Kepri Brigjen Suharyono, Sabtu (19/5/2018).

Suharyono membantah kecolongan akan hal tersebut. Ia mengatakan, masyarakat tidak usah resah serta gelisah selama Badan Intelijen Negara dan beberapa unsur unsur instansi keamanan negara ada di wilayah hukum Provinsi Kepri.

Suharyono menegaskan, paham radikalisme harus tetap diwaspadai namun tidak harus ditelan mentah-mentah dan langsung disebarluaskan kepada masyarakat tanpa sesuatu dikaji mendalam soal sesuatu informasi. “Jangan ditelan mentah,” ucapnya.

Source Batamnews
Loading...