Beranda Khazanah Islam Pangeran Sambernyawa dan Merapi: Kualitas Seorang Bangsawan Jawa

Pangeran Sambernyawa dan Merapi: Kualitas Seorang Bangsawan Jawa

67
0

ARRAHMAH.CO.ID – Ini satu episode saja dari sejarah hidupnya. Sebagai pimpinan perlawanan, sejak umur 16 tahun, hidupnya lbh banyak di belantara dan pegunungan.

Dalam sebuah pertempuran, setelah ia dan pasukannya lolos dari kepungan VOC, PB III, dan HB I, ia terus berjalan ke utara,ke arah Merapi.

Sampai pada ketinggian di mana kuda yg ditungganginya tdk sanggup menapaki ketinggian lagi. Sementarq pasukan koalisi yg mengejarnya semakin dekat. Pasukannya sudah lunglai.

Sampai tiba-tiba dari arah puncak merapi terlihat pasukan berkuda putih-putih turun,sprt meluncur, ke arahnya. Mereka turun dan memberi hormat,kemudian mempersilahkannya beserta sekalian pasukannya menaiki kuda ke puncak merapi.

Ini bukan kisah penunggang kuda dalam kegelapan seperti judul buku Mas Sobary.

loading...

Ini pasukan berkuda yang datang dari balik awan. Kemudian muspra ke belakang kabut gunung.

Ya susah dipahami. Tapi soal begini hal biasa saja dalam kitab kitab tasauf Islam. Dan pada masa itu, kejadian itu hal yang biasa juga.

Seorang Pangeran yang Sederhana

Apa ada cukup ungkapan untuk menegaskan keteguhan, kesederhanaan, kemandirian,dan keberanian (sajaah)?

Bahasa tdk akan cukup utk menggambarkan tindak kesejatian manusia. Tindakan hidup itu akan lbh mudah dipahami jika tertubuhkan pada diri seseorang. Itulah sebabnya orang lebih mudah belajar dari teladan daripada baca atau olah intelektual semata.

Maka dalam tradisi suluk,bertemu langsung dgn para kekasih Allah adalah amar yg wajib.

Keteguhan,kesederhanaan, keberanian dan kemandirian jika dikaitkan dengan Sayyidinaa Ali misalnya, akan mudah bagi benak umum memahaminya. Itu tanpa perlu harus ngember menjelaskannya.

Atau dalam porsi yg lebih rendah, kita meneladani Pangeran Sambernyawa, pendiri puri Mangkunegaran.

Ketika sepupunya, PB III, berhasil meyakinkannya utk menghentikan perang dan mau berdamai, maka dirancanglah pertemuan dua pangeran di suatu tempat di Wonogiri.

Pada hari yg disepakati,PB III datang ke tempat pertemuan dengan pakaian kebesaran seorang raja.

Betapa tersentaknya PB III ketika melihat Pangeran Sambernyawa datang dengan pakain jelata. Dan bertanya, kenapa seorang pangeran memakai pakaian jelata,kanda?

Dengan tenang Pangeran Sambernyawa menjawab :

Kulo inggih kudu lurik# tan kudu becik becik# wong alasan patutitpun inggih lurik kerala#
( Bagi saya patutnya hanya pakai lurik saja# tidak perlu pakaian bagus# bukan kah saya orang yang terkenal lama hidup dalam hutan).

Jawaban itu menunjukkan kualitas kebangsawanan di antara dua pangeran Jawa tersebut. Dan itu menjelang akhir abad 18 M di Jawa.

Entahlah dengan kualitas bangsawan Jawa hari ini.

 

Oleh: Hasan Basri

Pengurus Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) Nahdlatul Ulama (NU)

 

#WIKIPEDIA

Mangkunegara I, also known as Pangeran Sambernyawa, was the first ruler of Mangkunegaran in Java in the eighteenth century.
Born: April 7, 1725, Kartosuro
Died: December 23, 1795, Surakarta
Full name: Raden Mas Said
Children: Prince Hario Prabuwijaya
Parents: Raden Ayu Wulan, Prince Mangkunegara Kartasura
Siblings: R Ayu Kusumo Patahan, Raden Mas Sabar, Raden Mas Ambia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.