Pribumisasi Islam: Menjawab Mimpi Siang Bolong Islamisasi Ilmu

    26
    0

    ARRAHMAH.CO.ID – Dalam pemaparan berikut ini merupakan catatan dari diskusi kegiatan salah satu organisasi anak muda NU Rembang di PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah, tgl 22 Februari 2018. Selaku tuan rumah, ada beberapa senior aktivisnya yang menengok para kader baru yang sedang ikut pengkaderan, bersamaan dengan menengok ini, ada yang sengaja menemui penulis dan mendiskusikan judul di atas.

    Secara spesifik, sebenarnya bermula dari kegelisahan akademik kader muda NU di Perguruan Tinggi. Mereka ini, mengajukan dua pertanyaan kepada penulis: apa perbedaan antara pribumisasi Islam dan Islamisasi Ilmu? bagaimana relasi pribumisasi Islam dengan budaya masyarakat lokal?

    Penulis tertarik menjawab dua pertanyaan ini, karena menemukan problem keberagamaan sebagian umat Islam yang justru bermula dari ketidaktahuannya mengenai makna pribumisasi Islam yang dikatakan bid’ah, kurafat, dan sesat, namun Islamisasi Ilmu itu simbolisasi Islam yang harus ditegakkan. Jadi, semua bidang studi dan jurusan itu harus mendapatkan label Islam.

    Efek adanya Islamisasi Ilmu ini, banyak yang bersikap eksklusif, keras terhadap pihak beda Islam dan beda agama, sangat simbolik dan mementingkan kulit luar agama. Jika dilihat dari aspek pemahaman, makna mereka tidak menerima toleransi, yang dalam banyak hal menjadi mengabaikan keragaman di tengah masyarakat. Fenomena ini menunjukkan menjadikan Islam secara keseluruhan pandangan hidup masih bersifat setengah hati.

    Selain itu, sekarang ini masih mudah ditemukan pandangan mengkhawatirkan, bahwa toleransi terhadap keragaman akan berdampak pada kekacauan makna Islam dengan toleransi. Karena ada toleransi, maka praktek ritual keagamaan dikhawatirkan akan rusak dan Islam akan hilang dari permukaan bumi, Akhirnya, mereka ini lebih bersikap diskriminatif terhadap seseorang yang berbeda agama. mereka ini memahani Islam terbatas hanya untuk umat Islam, bukan untuk membela kebenaran dan keadilan untuk semua umat manusua.

    loading...

    Jika sikap fanatisme sebagian umat Islam seperti di atas dibiarkan berkembang di tengah ragam kebhinnekaan bangsa Indonesia, maka bukan tidak mungkin agama akan menjadi sumber konflik dan kebencian kepada pihak yang berbeda budaya, suku, dan agama.

    Dalam rangka menghindari agama yang dibelokkan untuk kepentingan anti kemanusiaan dan keadilan, maka penulis merasa berkewajiban untuk menyampaikan tulisan ini. Dengan demikian, semua umat manusia merasakan Islam rahmat bagi semesta, Islam melawan segala bentuk gerakan anti kemanusiaan, Islam sebagai nilai pembebasan dan pencerahan setiap fase sejarah untuk umat manusia.

    Ilusi Islamisasi Ilmu Dan Khazanah Pribumisasi Islam

    Mengapa ada istilah ilusi islamisasi ilmu? karena Islam bukan agama untuk kepentingan simbolis pada ilmu pengetahuan. Islam, adalah agama yang mengajarkan kepasrahan, kecondongan dan ketundukan kepada Allah relevansinya dengan upaya menumbuhkan pembebasan dan pencerahan kepada umat manusia. Dengan demikian, semua manusia bebas dan merdeka dari cengkraman kehendak kuasa dan kehendak yang mengilusikan simbolisme ilmu.

    Jika sekarang ini barat mengigau, ilmu pengetahuan sebagai sebuah kekuasaan yang harus dikuasai untuk menguasai dunia, maka umat Islam tidak boleh latah ikut memainkannya dengan membuat islamisasi ilmu pengetahuan. Tugas umat Islam, menguatkan iman, islam dan ihsan dan mengingatkan bagaimana membangun kesadaran dan pengertian umat untuk bersama sama saling membebaskan dan mencerahkan dari kuasa pengetahuan dan relasi kuasa yang tidak seimbang.

    Agama Islam, adalah agama yang mengajarkan, agar para pengikut jejak kenabian mengeluarkan umat manysia dari kepentingan kelompok dan mengeluarkannya dari mereka yang berupaya mengelompokkan atau mensekat sekat ilmu, seperti Islamisasi ilmu. Islam, adalah agama yang menghamparkan jalan dan altar bagi kemanusiaan, keadilan, dan persamaan. Jika demikian, maka haruskah di simboliskan pada “papan nama” dan tema tema besar bidang keilmuan dan lembaga lembaga kemanusiaan. Misalnya, rumah sakit Islam, sekolah Islam, rumah Islam, bank Islam, Pesantren Islam, biologi Islam, fisika Islam, atlas Islam.

    Sehubungan dengan adanya pembahasan ini, tulisan ini bertujuan untuk memahami pengaruh kehendak kuasa kaum intelektual muslim yang telah menjadikan Islamisasi ilmu di satu sisi, namun telah mengabaikan akar perkembangan agama bagi individu dan masyarakat. Model islamisasi bermula dari sejarah para intelektual muslim merespons perkembangan pengetahuan modern perspekif Barat non-Islam.

    Kaum intelektual muslim ini mengkhawatirkan perkembangan ilmu pengetahuan yang menjauh dari simbol simbol Islam. Mereka ini berupaya membela Islam dari sisi ilmu pengetahuan, yang tanpa disadari telah mencerabut nilai nilai kebudayaan. Selain itu, mereka ingin meletakkan Islam pada ranah partikular dan menarik universalitas ilmu pengetahuan pada simbol islam yang terbatas pada dua hal: pertama, kulit luar ilmu pengetahuan. Kedua, mengislamkan ilmu pengetahuan.

    Jadi, gerakan yang ingin dibangun kaum intelektual muslim, berupa ilmu pengetahuan modern versus ilmu ilmu keislaman. Secara psikologis, kaum intelektual muslim ini menganggap sekularisasi akan membahayakan bangunan ilmu keislaman yang pernah menjadi kampiun pertumbuhan peradaban dan ilmu pengetahuan.

    Traumatik psikologis ini, telah diperkuat fenomena yang nyata terjadi dihadapan kaum intelektual muslim, yaitu kemunduruan ilmu keislaman di tengah perkembangan ilmu modern di Barat. Cara penyembuhan luka dan duka kaum intelektual muslim ini, yaitu dengan membatasi ruang kesadaran ketauhidan dan kemanusiaan pada Islamisasi ilmu pengetahuan modern —–yang dianggap sebagai proyek Barat menghancurkan Islam.

    Pola kegelisahan kaum intelektual muslim ini memunculkan analisis dari Huntington, yang meramalkan akan terjadi  konflik umat Islam dengan Barat. Tentu saja, analisis ini seperti mimpi di siang bolong. Artinya, hingga kini tidak ada konflik peradaban Islam dan Barat. Hal ini menunjukkan jihad Islamisasi kaum intelektual muslim dan remalan akan terjadi konflik peradaban (silahkan baca tulisan Huntington), adalah sama sama mimpi di siang bolong.

    Yang mengherankan, tidak adanya bukti kedua mimpi ini dianggap oleh sebagian akademisi penggemar Islamisasi ilmu sebagai keberhasilan kegelisahan kaum inteleketual muslim. Mereka ini kurang kritis terhadap fenomena di depan mata, ternyata islamisasi ilmu tahun 1970 an, telah melahirkan simbolisasi Islam Al Faruqi. melalui program ilmu pengetahuan memasuki fase 1980 an.

    Jadi, proses Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan ilusi pemikiran yang ingin melabelisasi semua bidang ilmu pengetahuan. Meskipun demikian, jika ada keberhasilan gerakan Islamisasi Ilmu tidak akan berpengaruh pada kemajuan Islam dan perolehan hidayah umat manusia. Islamisasi ilmu merupakan kulit luar yang tidak berarti bagi kesadaran kemanusiaan dan peradaban dunia. Terbukti, adanya cita cita holistik dalam proyek integrasi wahyu dan alam (Islamisasi ilmu), tidak akan berpengaruh pada kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan.

    Ilmu pengetahuan dan teknologi sebuah perkembangan yang akan bergerak lurus, yang tidak akan mampu mementek kesadaran keberagamaan atau keislaman. Sekarang ini, mimpi kaum intelektual muslum belum bisa mengeluarkan manusia dari krisis nestapa manusia modern. Kenyataan membuktikan, keislaman seseorang masih dipengaruhi dari hasil pelaksanaan ajaran Islam dan sistem keberagamaan masyarakat. Sementara itu, gerakan Islamisasi Ilmu selain masih “ngopi” di kampus, juga tidak berpengaruh kepada masyarakat.

    Jika mengamati di lingkungan dunia pendidikan, bukankah yang terjadi sekarang ini, adalah studi Islam melalui lintas disiplin ilmu, termasuk ilmu kebudayaan. Bukan sebaliknya, lintas disiplin ilmu yang berhasil dibungkus dengan islamisasi Ilmu. Dalam konteks konflik keberagamaan, Islamisasi Ilmu telah melahirkan gerakan formalisme Islam, yang justru memisahkan umat Islam dari akar budaya dan ilmu pengetahuan. Jika ini tidak segera diselesaikan kaum intelektual muslim peduli kemanusiaan dan peradaban, maka Islamisasi ilmu akan memperpanjang kemarau dan kekeringan keberagamaan yang ramah terhadap lingkungan hidup.

    Bagaimana dengan pribumisasi Islam? Dari pelaksanaannya, istilah pribumisasi Islam sudah berlangsung sejak Walisongo, namun sebagai rumusan teoritik baru mengemuka dan dipahami publik sejak kali pertama dikenal secara khusus melalui artikel Gus Dur, tahun 1980 atau lewat konsepsi pemikirannya mengenai Pribumisasi Islam.

    Rumusan Gus Dur ini, bertujuan menjawab model islamisasi ilmu pengetahuan di tengah masyarakat modern yang tetap saja masih melahirkan nestapa manusia modern. Gagasan Islamisasi hanya melahirkan bentuk teoritisasi ilmu pengetahuan yang tidak kunjung tumbuh besar dan mengakar di tengah masyarakat. Gagasan Islamisasi hanya besar dan ramai pada acara diskusi para akademisi bersamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan Barat yang gelisah, ahistoris, dan paradog.

    Pelaku Dan Perumus Pribumisasi Islam

    Sehubungan dengan pembahasan di atas, Islamisasi Ilmu pengetahuan merupakan pembahasan yang bersifat imajinatif dari sebagian akademisi muslim, namun tidak dikenal dan berpengaruh bagi masyarakat secara luas. Masyarakat luas tidak mau tahu teori islamisasi ilmu pengetahuan, namun mereka ingin lebih mendalam memasuki kawasan fitrah dan potensi ruhaniyah dalam keberagamaan.

    Sedangkan, hal yang paling formal dalam ajaran Islam bagi masyarakat awam, adalah bagaimana melaksanakan tata aturan ibadah formal sesuai dengan ajaran ilmu fiqh dan ilmu kalam, Dari sini akan melahirkan kesadaran manusia menjaga relasi suci kosmologi antara dirinya, Tuhan dan Alam. Karenanya, pertanyaannya akan menjadi lebih sederhana: apa arti islamisasi ilmu pengetahuan jika tanpa bisa dirasakan dalam perkembangan kebudayaan manusia? Karenanya, Islam harus dapat memasuki fase membentuk buddhi dan daya individu di tengah budaya masyarakat.

    Keutamaan pribumisasi Islam menjadi lebih dapat dirasakan bagi budhi dan daya masyarakat luas, baik dikalangan umat Islam maupun di luar Islam. Karenanya, hingga sekarang pelaku pribumisasi Islam dan perumusnya masih dikenang dan dapat dirasakan bagi kehiduoan individu dan masyarakat luas secara lebih beragam. Hal ini menunjukkan lokalisasi Islam lebih realistis menjadikan Islam sebagai agama yang menebarkan kasih sayang untuk seisi alam, termasuk manusia yang memiliki pemahaman dan keyakinan secara beragam.

    Berbeda dengan pribumisasi Islam, konsep islamisasi ilmu pengetahuan justru telah membatasi keutamaan Islam segagai agama fitrah dan rahmat bagi alam semesta. Islamisasi ilmu pengetahuan hanya sebuah permainan bahasa dan model  artikulasi dari keislaman yang serba seragam. Dalam beberapa kasus konflik keberagamaan, sebagaimana yang pernah disampaikan Gus Dur, bahwa Islamisasi Ilmu pengetahuan, telah melahirkan arabisasi atau arabisme.

    Secara sederhana, sebenarnya sudah menunjukkan, bahwa Islam bukan asesoris pengetahuan, namun sebagai agama yang mencondongkan dan meluruskan diri kepada Allah Jalla Jalaluhu dengan sepenuh cipta, rasa, dan karsa para pemeluknya. Kondisi keberagamaan seperti ini, akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan penghayatan keberlangsungan budaya masyarakat.

    Dari konsep pribumisasi Islam menunjukkan kebesaran pandangan dan sikap kebudayaan Walisongo di zamannya hingga menembus batas zaman yang berbeda dengan masa Walisongo. Hal ini, juga menunjukkan kebesaran pandangan dan sikap Gus Dur yang secara indah dan elok telah mampu merumuskan konsep pribumisasi Islam. Bukankah, Walisongo dan Gus Dur menjadi percontohan yang terus menyirami keberagamaan pada fase sejarah keragaman bangsa Indonesia.

    Ubaidillah Achmad, Penulis Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek, Khadim PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah Sidorejo Pamotan Rembang.

    Loading...

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.