Beranda Fikih Cara Memandikan Mayit (Bagian 2)

Cara Memandikan Mayit (Bagian 2)

594
0
Hosting Unlimited Indonesia

Baca: Cara Memandikan Mayit (Bagian 1)

ARRAHMAH.CO.ID – Jangan lupa, sebelum mulai memandikan, dipersiapkan segala peralatan mandi yang diperlukan seperti daun bidara (kalau ada /diperlukan), sabun, shampoo, tong/drum/bak air, beberapa timba (besar dan kecil), gayung, selang air (bila air dipancurkan), dipan/bangku atau sejenisnya,  kapas, handuk, sarung tangan, masker, jarit (untuk menutup jasad mayat), sisir, alat cukur, sikat gigi atau siwak, kaporit (bila diperlukan) dan lain-lain.

Untuk airnya juga sudah disiapkan. Tong atau drum diisi air dan menempatkannya di tempat agak tinggi yang sekiranya dapat terhindar dari percikan benda najis atau yang menjadikannya musta’mal. Cara yang lebih aman adalah melengkapinya dengan kran dan selang air.

Air yang akan dipersiapkan sebaiknya air dingin, bukan air hangat atau panas. Memang di sini ada ikhtilaf, di antara madzhab Hanafi menganjurkan memakai air hangat. Madzhab Maliki menganggap sama saja, baik air dingin atau air hangat. Tetapi Imam Syafi’i dan Hambali lebih menganjurkan air dingin, dan ini yang terbaik. Karena air hangat/panas akan mempercepat pembusukan jenazah. (Al-Fiqh ‘ala Madzahibil Arba’ah, juz 1, hal. 393)

Dianjurkan juga (jika ada) menggunakan air asin asli (yakni air laut, bukan air tawar yang dicampuri garam) karena bermanfaat dapat menghambat pembusukan.

Untuk keharuman, sebaiknya diletakkan bakaran kayu wangi (kayu dupa, gaharu, cendana) atau disemprot dengan bayfresh dan wewangian, baik didalam kamar mandi maupun di dekatnya. Tujuannya adalah untuk mengusir dan menghilangkan bau tidak enak yang keluar dari tubuh jenazah.

Proses memandikan jenazah

Hosting Unlimited Indonesia

Melanjutkan apa yang sudah dibagian satu, maka berikutnya beberapa langkah saat memandikan mayit.
Pertama, usai membersihkan isi perut mayit, maka dalam posisi jenazah terbaring telentang, petugas membersihkan semua najis dan apa saja yang menghalangi sampainya air ke kulit jenazah.

Dalam hal ini, menuangkan air dengan menggunakan selang atau pancuran lebih baik daripada pakai gayung/ciduk, karena air dapat terus mengalir tanpa putus sehingga semua kotoran yang keluar langsung terbasuh dengan lancar.

Kedua, gigi-gigi perlu disiwaki atau digosok dengan jari telunjuk kiri petugas yang terbalut kain, atau dengan sikat gigi, kayu arak, dan sejenisnya.

Demikian pula lubang hidung dan telinga juga perlu dibersihkan dari kotoran yang menempel, dengan menggunakan jari kelingking kiri yang terbalut kain, atau dengan alat pembersih lainnya. (Al-Iqna, hal. 284)

Selain itu, bagian kepala dan jenggotnya dikeramasi, boleh dengan shampo atau dengan air yang dicampur dengan daun bidara, kemudian disisir secara halus dan perlahan agar rambut tidak rontok.

Jika ditemukan ada rambut yang rontok atau jatuh, hendaklah diambil dan dikumpulkan untuk diikutsertakan didalam kain kafan.

Ketiga, sebelum dimandikan, jenazah sunnah diwudhui terlebih dahulu. Ini disepakati oleh semua imam madzhab.

Niat wudhunya :
نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ الْمَسْنُوْنَ لِهَـذَا الْمَيِّتِ  /   لِهَذِهِ الْمَيِّتَةِ  لِلَّهِ تَعَالَى
“Aku niat melakukan wudhu’ sunnah untuk jenazah ini karena Alloh Ta’ala

(Al-Fiqh ‘ala Madzahibil Arba’ah, juz 1, hal. 394, Al-Iqna, hal. 284)

Keempat, mengguyurkan air yang sudah dicampur dengan daun bidara ke tubuh jenazah dan sunnah disertai dengan niat memandikan jenazah.

Lafazh niatnya :

نَوَيْتُ آدَاءَ الْغُسْلِ عَنْ هَذَا الْمَيِّتِ  / عَنْ هَذِهِ الْمَيِّتَةِ   لِلَّهِ تَعَالَى
“Aku sengaja (niat) memandikan mayit ini karena Alloh Ta’ala “

Kemudian menggosok-gosok anggota badannya dengan menggunakan air sabun, mulai dari bagian leher sampai telapak kaki sebalah kanan, disusul anggota badan bagian depan sebelah kiri. Kemudian jenazah dimiringkan dengan posisi menghadap petugas yang memandikan (lambung kiri berada di bawah), dan jangan sampai tengkurap.

Selanjutnya mengguyurkan air dicampur daun bidara atau sabun pada anggota badan bagian belakang sebelah kanan, mulai dari tengkuk sampai telapak kaki, sambil menggosok-gosok dan menyabuninya, kemudian disusul anggota badan sebelah kiri.

Kelima, mengguyurkan air jernih (tanpa campuran daun bidara/sabun) untuk membilas basuhan pertama, dimulai dari arah kepala sampai telapak kaki dengan cara seperti basuhan pertama di atas.

Keenam, mengguyur lagi seluruh tubuh jenazah dengan air yang dicampur sedikit kapur barus (yang sekiranya tidak sampai merubah status kemutlakan air).

Dengan tiga basuhan / guyuran ait tersebut, maka proses memandikan jenazah dipandang sudah cukup, dan untuk selanjutnya jenazah dikeringkan dengan handuk, lalu ditutup kain kering.

Namun jika ingin yang lebih sempurna, jenazah bisa dimandikan dengan 5 kali, 7 kali atau 9 kali basuhan, kecuali pada bagian kepalanya. Jadi yang diulang pembasuhannya adalah anggota mulai dari leher sampai telapak kaki. Sedangkan bagian kepala tidak disunnahkan untuk diulang-ulang.

Bila  dibasuh atau diguyur 5 kali, urut-urutan basuhannya bisa menggunakan cara berikut :
1) pakai air dicampur daun bidara/sabun
2) air pembilas
3) air dicampur sedikit kapur barus atau daun bidara
4) air pembilas
5) air jernih dicampur sedikit kapur barus

Bila  dibasuh atau diguyur 7 kali, urut-urutan basuhannya bisa menggunakan cara berikut :
1) pakai air sabun/daun bidara
2) air pembilas
3) air sabun/daun bidara
4) air pembilas
5) air pembilas
6) air pembilas
7) air jernih dicampur sedikit kapur barus

Terakhir, tubuh mayit dilap dengan lain dan diletakkan di atas kain kafan yang telah dipersiapkan.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.