Beranda Fikih Cara Memandikan, Mengkafani, dan Menshalati Jenazah

Cara Memandikan, Mengkafani, dan Menshalati Jenazah

140
0
Hosting Unlimited Indonesia

ARRAHMAH.CO.ID – Di sini (AT-Tadzhib) disebutkan keterangan singkat terkait memandikan mayit. Yaitu bahwa dimandikan mayit dengan witir (ganjil), diawali dengan air bercampur dedaunan yang digiling (sidir), diakhiri dengan air bercampur kapur barus.

Dalil yang menjelaskan demikian adalah hadits riwayat Bukhari (165) dan Muslim (939), dari Ummi Athiyah al Anshorie ai berkata: Rasulullah saw. masuk ke rumah akmi ketika akmi memandikan jenazah puteri beliau, maka beliau bersabda: “Mandikanlah sebanyak tiga kali, atau lima kali, atau lebih dari itu, apabila kamu memandang itu baik, menggunakan air bercampur dengan sidir (dedaunan yang digiling). Dan akhirilah menggunakan air bercamapur kapur (kamper), atau sedikit kapur, mulailah dari anggota bagian kanan dan anggota wudlunya”

Kemudian mayit dikafani sebanyak tiga lapis dengan kain putih, tanpa baju dan surban (boeh juga dibuatkan baju dan surban dari kain kafan). Hadits riwayat al Bukhary (1214) dan Muslim (941), dari A’isyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. dikafani dengan tiga lapis kain putih suhuliyah (dari bahan katun murni), tanpa baju dan surban di dalamnya.

Cara Menshalati Mayit

Sebagaimana kita ketahui, dalam menyolati mayit terdiri dari empat kali (dalam sholat). Hal ini didasarkan Hadits riwayat Bukhari (1188) dan Muslim (951), dari Abi Hurairoh ra. bahwasanya Rasulullah saw. mengumumkan kematian raja Najasyie pada hari kematiannya, beliau keluar ke musholla, kemudian orang membentuk shof untuk sholat dengan empat kali takbir.

Pertama, membaca al Fatihah sesudah takbir pertama. Hadits riwayat al Bukahry (1270), dari Tholhah bin Abdullah bin Auf, ia berkata: Saya sholat jenazah di belakang Ibnu Abbas ra. , ia membaca al Fatihah, ia berkata: agar diketaui, bahwa itu adalah sunnah Rasul.

Hosting Unlimited Indonesia

Kedua, membaca sholawat kepada Nabi saw. sesudah takbir kedua. Diriwayatkan oleh as Syafi’ie di dalam kitab Musnad an Nasaie (IV/75) dengan sanad shohih, dari Abi Umamah bin Sahal ra. bahwa dia diberitahu leh seorang lalaki dari kalangan sahabat Nabi saw., bahwa menurut sunnah sholat jenazah adalah: imam bertakbir, lalu membaca al Fatihah, sesudah takbir pertama, secara sir dalam dirinya sendiri, lalu membaca sholawat kepada Nabi saw., dan dengan ikhlas berdo’a untuk jenazah di setiap takbir, dan tidak membaca bacaan apapun (dari al Qur’an), lalu salam secara sir pula.

Ketiga, berdoa’ untuk mayit sesudah takbir ketiga dengan ucapan:

“اللهم هذا عبدك وابن عبديك, خرج من رَوْحِ الدنيا وسعتها, ومحبوبه وأحبّاؤه فيها, الى ظلمة القبر وما هو لاقيه. كان يشهد أن لا إله إلا أنت وحدك لا شريك لك, وأن محمدا عبدك ورسولك, وأنت أعلم به منّا. اللهم إنه نزل بك وأنت خير منـزولٍ به.وأصبح فقيرا إلى رحمتك وأنت غني عن عذابه, وقد جئناك راغبين إليك شفعاءَ له. أللهم إن كان محسنا فزد فى إحسانه, وإن كان مسيئا فتجاوز عنه. ولقه برحمتك رضاك, وقه فتنة القبر وعذابه, وافسح له فى قبره, وجافِ الأرض عن جنبيه. ولقه برحمتك الأمن من عذابك, حتى تبعثه آمنا إلى جنتك, برحمتك يا أرحم الراحمين.

Ya Allah, inilah hamba-Mu putera  dua hamba-Mu, dia keluar dari kenikmatan dunia dengan segala keluasannya, dan segala yang dicintai dan yang mencintainya, menuju ke kegelapan kubur dengan segala apa yang ia temui.

Ia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau satu-satunya tanpa sekutu bagi-Mu, dan Muhammad adalah hamba-Mu dan utusan-Mu. Engkau Maha Mengetahui tentang dia dari pada kami. Ya Allah, sesungguhnya dia turun karena-Mu dan Engkau yang terbaik sebagai tempat turun.

Maka ia sangat membutuhkan rahmat-Mu, dan Engkaulah yang Maha kaya (mampu) untuk menghidarkan dari siksa. Dan sungguh kami datang kepada-Mu penuh harap kepada-Mu agar diberikan syafa’at baginya. Ya Allah, bila dia orang yang baik, maka tambahlah kebaikannya, dan apabila dia jahat, maka bebaskanlah dari kejahatan itu. Dan pertemukanlah dia dengan rahmat dan ridlo-Mu.

Selamatkanlah dia dari fitnah kubur dan siksanya. Luaskanlah kuburnya, jauhkanlah himpitan bumi dari tubuhnya, dan pertemukanlah  dengan rahmat-mu keamanan dari siksa-Mu, sampai Engkau bangkitkan nati, selamat sampai masuk surga-Mu, berkat rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha Pemurah lagi Penyayang).

Do’a ini ditemukan oleh as Syafi’ie di dalam kitab Majmuk al Akhbar, mungkin periwayatannya belmakna. Kemudian diperindah oleh para pengikutnya. Yang sah dari hadits adalah riwayat Muslim (963) dari Auf bin Malik ra. ia berkata: Rasulullah saw. sholat jenazah, saya dengar beliau membaca:

“اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه, وأكرم نزله ووسع مدخله, واغسله بماء وثلج وبرد. ونقه من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس. وابدله دارا خيرا من داره وأهلا خيرا من أهله. وزوجا خيرا من زوجه, وقه فتنة القبر وعذاب النار”

Yaa Allah,ampunilah dosanya dan rahmatilah dia, dan sehatkan dan maafkan dia, mulyakanlah turunnya, lapangkanlah tempat masuknya. Mandikanlah dengan air, dan salju. Dan bersihkanlah dia dari dosa sebagaimana Engkau membersihkan pakain putih dari noda.

Gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, isteri yang lebih baik dari isterinya, dan jauhkanlah dia dari  fitnah/siksa kubur dan siksa api neraka)

Keempat, sesudah takbir keempat mengucapkan:

“اللهم لا تحرمنا أجره ولا تفتنا بعده, واغفر لنا وله

(Ya Allah, janganlah Engkau haramkan kami untuk menrima pahala dia, dan janganlah Engkau timpakan fitnah kepada kami sesudah di tiada, ampunilah kami dan dia), salam sesudah berdo’a pada takbir ke empat.

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.