Ilustrasi Cara Memandikan Jenazah Bagian 1
Ilustrasi Cara Memandikan Jenazah Bagian 1
Loading...

ARRAHMAH.CO.ID – Di dalam memandikan mayit, ada beberapa hal yang perlu dipahami.

Di antaranya syarat seorang mayit dimandikan:

1. Mayit itu seorang muslim. Maka hukum bagi mayit kafir tidak wajib dimandikan, hanya boleh saja. (Al-Fiqh ‘ala Madzahibil Arba’ah, juz 1, h. 457)

2. Dilarang melihat aurat besar (qubul/dubur) mayit. Karena itu dalam proses memandikan, maka aurat ini harus ditutup dengan kain atau sejenisnya. (Al-Fiqh ‘ala Madzahibil Arba’ah, juz 1, h. 457, Hasyiah Al-Bajuri, juz 1, hal. 321)

Loading...

3. Yang memandikan adalah sesame jenis. Misalnya yang meninggal perempuan, maka yang memandikan adalah perempuan, atau sebaliknya. Kecuali orang itu adalah suami atau istrinya, maka dibolehkan. Atau orang yang dimandikan anak-anak, belum mumayyiz, maka boleh lawan jenis.

Di sini ada pengecualian yang perlu diperhatikan:

Satu, status suami atau istri yang sedang talak, termasuk talak raj’I, maka tidak diperbolehkan untuk turut memandikan.

Kedua, bagi khuntsa musykil (banci yang sulit dikenali jenis kelaminnya, laki-laki atau perempuan). Maka di dalam hal ini, jika tidak ada dari mahram, misalnya ayah atau ibu, atau adik/kakaknya, maka dibolehkan bagi laki-laki atau perempuan lain untuk memandikannya. Dengan syarat menundukkan pandangan dan tidak dibolehkan menyentuh langsung (artinya menggunakan kain atau semacamnya)

Tiga, jika ada perempuan meninggal jauh dari mahramnya (keluarga/suami) di tempat yang semuanya laki-laki, tidak ada perempuan. Maka laki-laki di tempat itu tidak boleh memandikan, tetapi dipilih salah satu laki-laki yang bisa dipercaya untuk mentayamumi mayit perempuan itu, sampai batas siku-siku, dengan menundukkan pandangan dan tanpa persentuhan langsung. Hal yang sama juga jika ada laki-laki meninggal, tidak ada mahram dan istri. Yang ada perempuan saja, maka cukup salah seorang perempuan mentayamuminya, dengan menjaga pandangan dan tanpa persentuhan langsung. (Al-Fiqh ‘ala Madzahibil Arba’ah, juz 1, hal. 459 dan Hasyiah Al-Bajuri, juz 1, hal. 321)

4. Orang yang memandikan bisa dipercaya. Artinya dapat menjaga jika ditemukan aib pada mayit. Hal ini didasarkan hadist riwayat Muslim, ‘Barang siapa yang menutupi aib sesame muslim di dunia, maka Allah akan menutupi aibnya di akhirat. (Hasyiah Al-Bajuri, juz 1, hal. 320).

Oleh: Ustadz Fathuri Ahza Mumtaza

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.