Headlines
Loading...
Sungguh Keji! Anak-anak Palestina Ditangkap Tentara Israel Lalu Diminta.....

Sungguh Keji! Anak-anak Palestina Ditangkap Tentara Israel Lalu Diminta.....

13-year-old #Palestinian child brutally being kidnapped by Israeli Occupiers in Hebron, Occupied West Bank today.
13-year-old #Palestinian child brutally being kidnapped by Israeli Occupiers in Hebron, Occupied West Bank today. Photo: Reuters

ARRAHMAH.CO.ID - Anak-anak Palestina menjadi sasaran penangkapan Israel. Mereka disiksa, diminta mengaku bersalah, mendekam di penjara, dan dijauhkan dari orang tua.

Setiap tahun jumlah yang ditangkap tidak hanya puluhan, tapi sudah mencapai ribuan. Berdasar data lembaga HAM Addameer, sepanjang 2017 ada 1.467 bocah Palestina yang dicokok tentara Israel.

Fawzi al Junaidi dan Ahed Tamimi yang fotonya saat ditangkap menjadi viral di dunia maya hanyalah sebagian kecil di antara mereka.

Anak-anak tersebut maupun orang tua mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sejak 1967, wilayah pendudukan Tepi Barat masuk dalam undang-undang militer Israel.

Di dalamnya dinyatakan bahwa anak berusia 12 tahun sudah bisa ditangkap. Mayoritas kejahatan yang dilakukan adalah melempari tentara Israel dengan batu.

Tentara Israel menggolongkan kejahatan itu sebagai pelanggaran keamanan dan bisa dihukum hingga 20 tahun penjara.

Undang-undang tersebut hanya berlaku bagi warga Palestina. Sebab, warga Israel yang tinggal di permukiman ilegal di Tepi Barat hanya diproses dengan undang-undang sipil jika melakukan kesalahan.

Biasanya, penangkapan dilakukan pada dini hari saat penduduk tengah tidur pulas. Pukul 02.00–03.00. Tentara juga tidak memberikan peringatan apa pun sebelumnya.

Kantor Urusan Kerja Sama Bidang Kemanusiaan PBB menyebutkan, sepanjang Januari tahun ini sudah ada 336 penggerebekan tengah malam. Addameer menyebut itu sebagai metode untuk meneror remaja Palestina.

’’Mereka langsung masuk ke rumah, mengumpulkan semua orang jadi satu, dan bertanya tentang anak yang menjadi sasaran,’’ terang pengacara Defense for Children International-Palestine (DCIP) Farah Bayadsi seperti dilansir Al Jazeera. Berdasar data DCIP, setiap tahun ada 500–700 anak Palestina yang diadili.

Mereka dipaksa mengaku bersalah dan kerap ditempatkan di penjara di wilayah Israel. Lokasi penjara membuat orang tua mereka yang merupakan penduduk Tepi Barat sulit mengunjungi.

Untuk masuk wilayah Israel, mereka harus mengajukan surat dan baru disetujui sekitar sebulan kemudian.

Anak-anak yang ditangkap tersebut disiksa secara verbal maupun fisik sejak dibawa dari rumah mereka, di tahanan ketika menunggu proses peradilan, dan setelah putusan hukuman diberikan.

Siksaan itu begitu membekas hingga saat mereka bebas tanda-tanda depresi akut terlihat begitu jelas. Anak-anak yang keluar penjara biasanya menjadi lebih agresif, kerap mengompol, mimpi buruk, panik, insomnia, kehilangan nafsu makan, dan sulit berkonsentrasi saat belajar.

Editor: Taufik
Sumber: Jawa Pos Via JPNN

0 Comments:

Cloud Hosting Indonesia