Mengenang KH. A. Tamamuddin Munji: Kewajiban Menjaga Kemuliaan Hak Asasi Manusia

Mengenang KH. A. Tamamuddin Munji: Kewajiban Menjaga Kemuliaan Hak Asasi Manusia

Mengenang KH. A. Tamamuddin Munji: Kewajiban Menjaga Kemuliaan Hak Asasi Manusia

Oleh: Ubaidillah Achmad

ARRAHMAH.CO.ID - Hak Asasi Manusia (HAM) memiliki ruang penting dalam ajaran Islam. Kajian HAM mulai menguat sejak dikampanyekan dunia Barat melalui gerakan HAM. Bersamaan dengan fenomena menguatnya respon masyarakat terhadap HAM, penulis menemukan dua model respon, yang pertama, timbul dari umat beragama yang beranggapan, bahwa HAM merupakan produk Barat dan merusak prinsip ajaran agama. Kedua, adanya sikap sebagian masyarakat yang mengabaikan ajaran agama dan bersama aktivis gerakan menjadikan HAM sebagai agama baru.

Kedua kelompok responden ini, justru telah menjadikan gerakannya sebagai penyokong ekstrimesme sistem kapitalis. Karenanya, jika tidak ada perbaikan bukan tidak mungkin akan membuka peluang masuknya ekstrimis dari kaum kapitalis yang menggunakan simbol agama (dari agama mana pun) dan memanfaatkan isu HAM. Dalam tulisan ini, penulis akan memaparkan beberapa catatan dari PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah, menyambut haul yang pertama, KH. A. Tamamuddin Munji, tanggal 29 Maret 2018. Catatan ini dari lingkar pengajian dan diskusi PP. Bait As Syuffah An Nahdliyyah, yang beralamat di Njumput-Sidorejo Pamotan Rembang.

Sebelum membahas sub pembahasan berikut, perlu penulis sampaikan dari catatan pertama, yaitu arti penting hak asasi manusia secara universal tidak berbeda dengan apa yang ditemukan dalam ajaran agama, seperti Islam. Adapun perbedaannya, hanya terletak pada tindakan pembelaannya. Tindakan aktivis kemanusiaan, telah semangat membela HAM, namun lemah mencegah terjadinya pelanggaran terhadap HAM, baik yang merugikan diri sendiri maupun yang merugikan pihak lain.

Sebaliknya, ada oknum agamawan yang selalu melakukan pendampingan dan perbaikan atas kesalahan orang, namun mengabaikan sikap kritis kepada mereka yang memberikan pembenaran dan bermain dibalik isu HAM. Harusnya, para tokoh agama, misalnya, dari kalangan umat Islam juga berbicara mengkritisi adanya oknum aktivis HAM yang sebenarnya hanya bekerja untuk kaum kapitalisme global.

Tentu saja, penulis tidak akan membahas keseluruhan problem yang mengungkap pembahasan tentang relasi Hak Asasi Manusia (HAM) dan Kewajiban Asasi Manausia (KAM). Dalam tulisan ini, penulis hanya akan membahas catatan yang relevan dengan arti penting bagaimana memahami Kewajiban dan Hak untuk kelangsungan hidup umat manusia. Pembahasan ini, dapat dijadikan bagian dari khazanah dari perspektif agama untuk pelaksanaan Hak Asasi manusia (HAM).
HAM Dan Masalah Keberagamaan NU

Jika pembelaan terhadap HAM berhenti pada kata pembelaan dan tidak dilihat dari aspek pencegahan tehadap hal yang dilarang dalam ajaran Islam, maka pelaksanaan gerakan HAM tidak akan efektif. Sebaliknya, akan terjadi paradok pembelaan HAM yang memberikan pembenaran terhadap sikap yang merugikan diri sendiri dan pihak yang lain.

Jadi, adanya sikap pencegahan terhadap perbuatan yang mengingkari kemanusiaan ini, relevan dengan teks "haram". Mengapa perlu ada pencegahan terhadap perbuatan yang tidak manusiawi dan merugikan (diri dan orang lain) ? karena jika perbuatan yang keji dan mungkar itu tidak dicegah akan merusak atau berakibat buruk pada diri sendiri maupun kepada orang lain. Sebaliknya, adanya perintah Allah kepada manusia, agar manusia melaksanakan tugas yang mulia dan yang utama. Setiap perintah, bertujuan untuk mendorong manusia agar mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dalam lingkungan masyarakat Nahdliyyin (masyarakat yang berbasis pada nilai keislaman yang menjadi prinsip Nahdlatul Ulama), terdapat tradisi keilmuan yang masih dipertahankan hingga sekarang. Salah satu tradisi itu, adalah kajian tentang masalah masalah keagamaan yang merujuk pada khazanah klasik Ulama abad pertengahan (masail diniyah). Tradisi ini didasarkan pada pemahaman mendalam para Ulama NU. Alasan mempertahankan tradisi ini, karena tidak mudah memahami secara langsung  terhadap teks kewahyuan dan kenabian tanpa merujuk kepada para Ulama yang memiliki sandaran keilmuan secara mutawatir hingga Nabi Muhammad.

Sehubungan dengan persoalan HAM dan tradisi keberagamaan NU, penulis kembali diingatkan kesibukan Kiai Tamam yang sejak kecil tumbuh di lingkungan pesantren Abahnya, KH. Abdullah Munji dari Kajen Pati, telah aktif mengikuti rangkaian masail diniyah di tingkat kabupaten Rembang. Di rembang, Kiai Tamam selalu aktif dalam pembahasan masail tingkat kabupaten yang akan di bahas lebih lanjut pada forum Ulama seluruh Indonesia. Hal ini, sebagai konsekuensi komitmen beliau menjaga marwah tradisi keilmuan NU dan amanah yang di embannya sebagai Rais Syuriyah NU Cabang Kab. Rembang. periode 1998 - 2003 dan 2003 - 2008.

Saya teringat, pernah diskusi sama Kiai Tamam seputar Hak Asasi Manusia (HAM). Kesempatan mendiskusikan tema ini, setelah pergantian dari rezim Orde Baru ke era baru pemerintahan Orde Reformasi, yang marak diperbincangkan di lingkungan Masyarakat NU tentang HAM. Dua hal berikut ini, yang pernah beliau sampaikan kepada penulis:

Pertama, masyarakat dan negara sama sama memiliki kewajiban menjaga HAM. Kewajiban menjaga HAM, justru bertujuan untuk menghindari pembelokan terhadap isu hak asasi sebagai alat yang digunakan untuk merusak hakikat kemanusiaan untuk semua. HAM bukan hanya milik segelinter orang atau mereka yang punya kepentingan kekuasaan dan sistem permodalan. HAM bukan hanya milik satu orang yang direbut dari kelemahan seseorang atau kekuatan seseorang.

Kedua, pelaksanaan HAM harus dimulai dari kewajiban asasi setiap orang menjaga lima keutamaan hukum Islam, supaya tidak banyak memakan korban. Hal ini dapat dibaca dari pengalaman menegakkan HAM. Dari catatan kedua ini, penulis diingatkan tentang arti penting membela kasus masyarakat Tegaldowo, yaitu masyarakat yang berbicara tentang hak atas tanah dan kekhawatiran akan kehilangan lingkungan yang lestari karena industri ekstraktif.

Dari kedua catatan ini dapat disimpulkan, bahwa Kewajiban asasi merupakan perintah yang harus dilaksanakan seseoang terkait dengan perintah yang sangat mendasar dari Allah yang disampaikan melalui utusan-Nya. Kewajiban ini untuk mencapai tujuan sesuai dengan proses pelaksanaan yang menjadi kewajiban seseorang. Adanya kewajiban ini untuk membangun kesadaran umat manusia, bahwa setiap manusia memiliki hak yang wajib dijaga bersama, jangan saling merugikan antara sesama umat manusia.

Berbeda dengan kewajiban asasi, hak asasi bersifat personal belum terikat dengan relasi antar hak hak yang lain, yang bersifat umum. Karenanya, ada hak asasi seseorang yang justru jika dilakukan akan merugikan diri sendiri dan merugikan yang lain. Dalam konteks ini, kewajiban asasi menjadi sangat penting untuk menjaga hak yang bersifat subjektif menjadi ramah terhadap hak hak yang lain.

Sehubungan dengan arti penting bagi setiap individu untuk  menjaga Hak Dan Kewajiban Asasi Manusia (HKAM), maka perlu dipahami bagaimana jika harus memilih di antara keduanya? Tentu saja, saat seseorang menuntut hak yang asasi, dia secara langsung harus menjalankan kewajiban asasi manusia. Karenanya, dalam ajaran agama Islam, bagi seseorang yang sudah terbebani pelaksanaan ajaran Islam, maka wajib melakasanakannya.

Karenanya, ancaman terhadap hak kemanusiaan harus segera dibendung dan dicegah secara bersama sama sebagai bentuk menjalankan kewajiban asasi manusia. Dengan pelaksanaan kewajiban asasi manusia diharapkan tidak memakan korban yang lebih besar lagi. Berikut ini, beberapa contoh kewajiban asasi manusia: mewujudkan hak atas kesehatan universal (Universal Health Coverage), menyediakan ruang dan sumber daya manusua dan Alam, mengakui dan melindungi hak-hak masyarakat adat dan untuk memberikan perlindungan yang diperlukan oleh para korban kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender.

Yang termasuk kewajiban asasi manusia, yaitu memberikan akses untuk barang dan jasa fundamental yang akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas, memastikan agar kegiatan bisnis tidak dilakukan dengan melanggar hak-hak masyarakat, memastikan perlindungan bagi para pejuang HAM, menjaga ekstremis yang dimainkan di arena politik yang mengkhawatirkan pihak yang terdiskriminasi di berbagai wilayah di Indonesia.

Sumber Hukum Kewajiban Asasi

Yang perlu dipahami, adanya perintah wajib dan keharusan melakukan pencegahan terhadap perbuatan yang dilarang, adalah bukan sebagai penanda ketidaktegasan ajaran Islam  terhadap HAM. Islam menjaga dan melindungi HAM, namun bukan berarti boleh melakukan secara bebas tanpa kendali sikap, yang akan merugikan diri sendiri dan pihak yang lain.

Konsep HAM sama dengan pandangan, yang selama ini merujuk pada kaidah pemahaman terhadap teks kewahyuan. Adanya penekanan pandangan dan gerakan tentang HAM, seperti pada catatan diskusi ini, adalah bentuk dari dominasi perspektif lima prinsip tujuan hukum Islam. Kelima prinsip ini, bertujuan untuk menandai kemuliaan anak cucu Adam. Kemuliaan anak cucu Adam ini, sudah di nash dalam Al Quran, yang dikutip dari penegasan teks wahyu, berbunyi "walaqad karramna bani adama".

Sehubungan adanya lima prinsip ajaran Islam ini, bersumber dari konsep Imam Al Juweni dalam kitab Al-Burhan dan Al-Waraqat dan prinsip Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Mustashfa fi Ilmi al-Ushul. Konsep ini dikenal dengan lima prinsip jalan yang lurus sesuai dengan pedoman tujuan pokok pembuat syariah Islam: memelihara agama (حفظ الدين), menjaga individu (حفظ النفس), memelihara akal (حفظ العقل), memelihara keturunan (حفظ النسل) dan menjaga harta (حفظ المال). Selain tujuan ini, yang perlu diperhatikan dalam implementasi pelaksanaan HAM, adalah menarik manfaat untuk menolak keburukan yang akan terjadi bagi kelangsungan hidup manusia.

Konsep Imam Al Juweni dan Imam Al Ghazzali ini, telah masyhur di kalangan pesantren dan sudah melahirkan banyak karya tentang pelaksanaan ajaran Islam relevansinya dengan kehidupan sosial, politik, budaya dan perkembangan modernitas. Selain itu, konsep Imam Juweni dan Imam Al Ghazzali ini, juga melahirkan banyak analisis tentang pelaksanaan HAM yang merujuk pada konsep ini.

Dalam hal ini, Kiai Tamam pernah menyampaikan pembelajaran kepada penulis, agar melakukan kajian dan aktif terlibat dalam gerakan HAM, namun jangan melupakan kewajiban asasi manusia, sebagaimana dijelaskan dalam konsep Imam Al Juweni dan Imam Al Ghazzali. Konsep ini, telah memudahkan para pengkaji hukum Islam terhadap teks kewahyuan tentang pelaksanaan ajaran Islam. Misalnya, QS Al Baqarah 2:185, QS Al-Hadid :23, QS An Nisa 4:160, QS An Nisa 4:105,

Selain itu, dalam pandangan penulis, arti penting penggunaan lima tujuan pembentukan tata aturan dalam ajaran Islam ini, dapat menjadi dasar pemahamam terhadap isu HAM yang menguat di tengah gerakan aktivis HAM. Misalnya, terkait dengan kerangka “Faith for Rights” atau "Iman untuk Hak Asasi Manusia " untuk menetapkan peran "Agama dan Keyakinan" dalam membela "Hak". Isu ini, sekarang ini telah menjadi komitmen bersama dalam semua agama dan kepercayaan untuk "menegakkan martabat dan nilai yang setara untuk semua manusia".

Hal ini, juga sesuai dengan Pasal 1 dalam Deklarasi Universal untuk Hak Asasi Manusia, yang menetapkan tanggung jawab bagi komunitas keagamaan, pemimpin dan pengikut mereka untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengalami diskriminasi dalam keberagamaan. Dengan kata lain, semua orang berhak mendapatkan proses peradilan yang adil.

Sebagai catatan akhir, sudah menjadi kewajiban sebagai umat Islam melindungi Hak Asasi Manusia, namun bukan berarti memberikan pembenaran terhadap sikap dan perbuatan yang dilarang dalam ajaran Islam. Jika melakukan pendekatan kepada mereka yang berbuat salah supaya kembali kepada ajaran, maka boleh dilakukan. Semua pendekatan, harus berupaya untuk perbaikan dan pendampingan dengan tujuan supaya menjadi sikap dan perbuatan yang sesuai prinsip ajaran Islam.

Sebaliknya, jika ada perbuatan seseorang yang berbahaya dan mengancam kelangsungan lima kinsep di atas, maka negara berhak mengambil tindakan sesuai dengan UU yang berlaku dalam sistem pemerintahan NKRI.

Ubaidillah Achmad, Penulis Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek, Khadim PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah Sidorejo Pamotan Rembang.

Editor: Ibn Yaqzan
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: