Atas Nama HAM

Atas Nama HAM

ARRAHMAH.CO.ID - Samia Belcacemi dan Yamina Ousar datang ke salah satu pengadilan di Belgia dan bicara di muka hakim.

“Aye bedue kagak demen dah ama aturan di mari soal larangan cadar. Aturan entu melanggar hak beragama aye berdua, juga perempuan muslim yang mengenakan cadar di negara ini. Aye terpakse kagak pakai cadar gare-gare takut didende,” kata dua perempuan itu.

Tentu saja mereka bukan orang Betawi. Itu bisa-bisanya saya saja menulis dialog. Samia orang Belgia dan Yamina keturunan Maroko dan menjado warga negara di sana.

Di Belgia, perempuan muslim tak boleh bercadar di ruang publik. Alasan aturan yang dipalu pada 2011 ini diperlukan demi menjaga  masyarakat yang demokratis. “...to protect ‘the rights and freedoms of others’ and sought to guarantee the conditions of ‘living together’”.

“Buat ngelindungin hak dan kebebasan orang lain dan ngejamin kondisi hidup bersama”. Kira-kira begitu alasannya.

Langkah hukum dua perempuan itu kandas. Pengadilan HAM Eropa, organisasi beranggotakan lebih dari 40-an negara, menilai larangan tersebut tak melanggar HAM.

Di Prancis, larangan burkini, pakaian tertutup perempuan untuk berenang, di salah satu kota dinyatakan tidak sah. Alasannya melanggar HAM. Alasan demi melindungi ketertiban publik yang dapat ditimbulkan dari burkini di pantai tak terbukti. Pihak pengaju, sebuah lembaga HAM dan gerakan anti islamophobia.

Mendengar ribut-ribut soal larangan cadar di UIN Yogyakarta, saya jadi makin yakin jika mereka yang seringkali kritis, sinis, bahkan menolak konsep HAM, apalagi bagi para pendukungnya, justru menggunakannya demi melindungi hak dasar.

Bukankah ini satu kemajuan bagi perdebatan HAM di Indonesia? Itulah gunanya HAM. Melindungi hak dasar manusia, meski bagi mereka yang menolaknya.

Minggu, Pondok Kopi.
Alamsyah M Djafar

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: