Lebih Mudah Jadi Van Der Plas (Tukang Adu Domba dan Pemecah Belah NKRI) Daripada Menjadi Soekarno

Lebih Mudah Jadi Van Der Plas (Tukang Adu Domba dan Pemecah Belah NKRI) Daripada Menjadi Soekarno

Lebih Mudah Jadi Van Der Plas (Tukang Adu Domba dan Pemecah Belah NKRI) Daripada Menjadi Soekarno

ARRAHMAH.CO.ID - Ini adalah dua foto dimana Van der Plas (berjenggot ala muslim puritan hafal Quran fasih bahasa Arab) tampil mendeklarasikan berdirinya NEGARA MADURA di tahun 1947 dan NEGARA JAWA TIMUR di tahun 1948 untuk merusak NKRI dari dalam.....

Van der Plas dikenal sebagai tukang adu domba antar agama dan suku di jawa, antara santri dan abangan; adu domba antara muslim puritan Wahabi dan muslim NU. Sementara Sukarno mengajarkan persatuan...

Kalau Van der plas punya duit, dia akan bayar kiai untuk ikut Kompeni; Sukarno bawa duit ke kiai untuk dirikan madrasah dan perbaiki pesantren... 

Van der plas suka menyebar berita fitnah dan hoax, misalnya kiai A sudah ikut NICa, dst (mirip kerjaan para bani micin kini); sementara Sukarno menanamkan semangat juang para pemuda dan kiai untuk bersatu bela Aswaja dan NKRI...

Van der plas kalau punya percetakan, akan cetak kitab al Quran palsu, yg ayat ayatnya sudah ditahrif dan diotak-atik, lalu disebar ke pesantren (mirip kerjaan wahabi kini); sementara Sukarno cetak buku-buku pengajaran kebangsaan dan buku-buku patriotisme kiai...

Van der Plas fasih bahasa Arab, tapi ilmunya dipakai untuk membujuk kiai-kiai bahwa dirinya adalah penganut muslim sejati, bisa baca kitab, tapi untuk tujuan menipu kiai agar pro kompeni. Sementara Sukarno belajar bahasa Belanda untuk tahu tipu daya kompeni...

Van der Plas pernah mendatangi Hadlratusysyekh KH Hasyim Asy'ari ke Tebuireng, membawa award atau hadiah duit dolar segepok untuk bujuk pendiri NU ini agar ikut kompeni.. Sementara Sukarno mendatangi KH Hasyim Asy'ari untuk minta fatwa jihad bela Aswaja dan NKRI...

Kini, banyak yang melakonin kerjaan Van der Plas, karena banyak proyeknya dan duitnya... 

Sementara yang ngikutin Sukarno sudah jarang, karena modalnya cuma semangat teriak "NKRI harga mati" doang ...

Oleh: Ahmad Baso
Penulis Buku Islam Nusantara

Editor: Ibn Yaqzan

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: