Billboard Ads

Tolak Yerusalem Jadi Ibukota Israel, Indonesia Masuk Daftar Negara Musuh Donald Trump

ARRAHMAH.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyatakan bahwa 128 negara yang menentang langkah AS untuk mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota Israel sebagai 'musuh' negaranya.

Hal itu diutarakan oleh Donald Trump saat menyampaikan pidato State of the Union di hadapan Kongres AS di The Capitol, Washington DC pada Selasa 30 Januari 2018.

Indonesia termasuk satu dari 128 negara yang menentang langkah unilateral AS pada sidang Majelis Umum PBB pada Desember 2017.

Merespons hal tersebut, Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan bahwa sikap dan komitmen RI terhadap situasi seputar Yerusalem tetap konsisten, yakni membela Palestina.

"Posisi Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina sudah jelas dan tidak akan berubah," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir kepada Liputan6.com melalui pesan singkat (2/2/2018).

"Seperti yang disampaikan Ibu Menlu Retno Marsudi, Palestina ada di jantung politik luar negeri RI. Posisi ini sudah diketahui oleh seluruh negara anggota PBB sejak lama, termasuk AS, karena Indonesia secara konsisten terus mendukung Palestina pada berbagai forum, apakah itu dalam konteks bilateral, regional dan multilateral," tambah sang jubir.


Hubungan RI - AS Tetap Baik

Terlepas dari hal itu, Arrmanatha tetap menegaskan bahwa hubungan bilateral Indonesia dan AS selama ini tetap dalam kondisi yang baik.

Hubungan yang baik itu, papar Arrmanatha, dibuktikan dengan sejumlah communique resmi yang hangat antara Menlu Retno dengan Menlu AS Rex Tillerson pada Tahun Baru 2018.

Selain itu, pada pertengahan Januari 2018, delegasi senior Kemlu AS juga telah melawat ke Indonesia untuk membahas berbagai upaya untuk memperkuat mekanisme bilateral RI-AS.

Menjelang akhir Januari 2018, Menhan AS juga telah melakukan kunjungan kehormatan ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo, Menlu dan Menhan.

Semua hal itu, lanjut Arrmanatha, menunjukkan bahwa Indonesia dan Amerika Serikat, "Masih berjalan sesuai kerangka kerja sama mitra strategis yang menjadi dasar hubungan kedua negara", terlepas dari komentar Donald Trump.

Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan resmi "State of the Union" pertamanya sebagai Presiden Amerika Serikat pada Selasa 30 Januari 2018 lalu.

Sang Presiden AS yang diharapkan akan tampil sebagai sosok pemersatu, justru mengeluarkan kalimat permusuhan. Ia menyebut, 128 negara yang melawan langkahnya untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel adalah "musuh Amerika Serikat".

Seperti dikutip dari media Inggris, Independent, Kamis 1 Februari 2018, Donald Trump mengatakan, negara-negara yang tak berada di pihaknya telah melawan hak dan kedaulatan Amerika Serikat.

"Puluhan negara memberikan suara di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa melawan hak kedaulatan Amerika untuk membuat keputusan ini (mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel)," kata dia dalam pidatonya.

"Pada 2016, pembayar pajak AS dengan murah hati mengirimkan bantuan ke negara-negara itu, yang jumlahnya lebih dari US$ 20 miliar dalam setahun."

Donald Trump menambahkan, ia meminta Kongres untuk mengeluarkan undang-undang yang memastikan setiap dolar yang dikeluarkan AS akan mendukung kepentingan Negeri Paman Sam. "Agar uang tersebut diberikan pada teman-teman, bukan musuh-musuh AS."

Tak lama kemudian, dalam tarikan napas yang sama, Donald Trump menyatakan hal yang bertolak belakang. Dia mengatakan, AS akan terus memperkuat "persahabatan di seluruh dunia."

Editor: Muhammad Iqbal
Sumber: Liputan6.com