Billboard Ads

Terungkap! Suliono Sangat Anti Amaliah Nahdlatul Ulama, Semua Serba Bid'ah dan Sesat, Sempat Tantang Debat Terbuka Soal Aqidah Gus Barok...

ARRAHMAH.CO.ID - Orang tua Suliono, Mistaji, 57, dan Edi Susiyah, 53, yang tinggal di Dusun Krajan, RT 2, RW 1, Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, kini shock berat mendengar anaknya ditembak.

Mistaji mengaku diberitahu anaknya melakukan penganiyaan di gereja Jogjakarta itu sekitar pukul 10.00. Saat itu, dia didatangi oleh salah satu tokoh masyarakat yang juga mantan Kepala Desa Kandangan, Mubarok.

“Saya kaget saat diberitahu pak Barok (Mubarok),” terang bapak yang kesehariannya hanya sebagai buruh tani itu.

Saat didatangi rombongan Forpimka Pesanggaran, Kapolsek AKP Hery Purnomo, Danramil Kapten (arm) Sutoyo, dan Camat Hardiono, Mistaji menceritakan kalau Suliono itu selama berada di rumah pendiam dan anak yang baik.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMPN 1 Pesanggaran, Suliono sempat belajar di Pondok Pesantren Ibnu Sina, Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, asuhan ketua PCNU Banyuwangi KH. Masykur Ali. “Di Pak Masykur hanya enam bulan,” terangnya.

Usai dari Pesantren Ibnu Sina, terang dia, anaknya itu pindah ke tempat kakaknya di Sulawesi, tepatnya di Desa Lantula Jaya, Kecamatan Witaponda, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Di tempat kakaknya itu, Suliono juga tidak kerasan. “Perubahan pada Suliono saat di Sulawesi itu,” katanya.

Di rumah kakaknya yang menjadi basis NU, Suliono merasa tidak cocok dan sering berdebat dengan kakaknya. Suliono tidak akur dengan dua kakaknya karena mereka berpaham NU.

Dia kemudian meninggalkan tempat kakaknya itu dan pindah ke Morowali, Palu, Sulawesi Tengah. “Pengaruhnya ya di Sulawesi itu,” ucapnya.

Perubahan tersebut begitu mencolok saat Suliono pulang ke rumah, cara berpakaian menjadi serba panjang seperti jubbah.

Selain itu, dia menentang kebiasaan di musala dan masjid kampung yang mengadakan pujian sebelum salat berjamaah.

“Pulang dari Sulawesi sering jubahan, pujian dianggap teriak-teriak dan menganggu orang tidur,” ujarnya menirukan ucapan anaknya.

Meski demikian, Mistaji mengaku sudah berupaya menyadarkan anaknya tersebut, namun tidak mampu mengajaknya seperti dulu. “Saya sudah berusaha menyadarkan, tapi tidak bisa,” terangnya.

Kabar terakhir tentang keberadaan Suliono, Mistaji mengaku hanya mengetahui kalau anaknya itu menuntut ilmu di salah satu pesantren yang ada di Magelang, Jawa Tengah.

Di pesantren itu, lembaga pendidikan tersedia lengkap. Hanya saja, dia tidak mnegetahui lokasi dan nama pesantren itu. “Saya belum pernah datang ke pesantren itu, tapi katanya ada sekolah umum juga,” ungkapnya.

Senada dengan penjelasan orang tua Suliono, Ustadz Mubarok, tokoh agama dan juga tetangga korban bercerita pelaku penyerangan gereja St. Lidwina ini memang sangat anti NU.

"Setelah ini SMP, mulai ada perubahan, ini cerita kakak-kakaknya, tidak ke tetangganya, (ia) sangat anti dengan faham NU. Sejak SMP kelas tiga." terang pria yang akrab disapa Gus Barok ini.

Gus Barok juga bercerita tentang pertemuannya dengan Suliono di Palu pada tahun 2013.

"Ngertinya saya tahun 2013 ke Palu. Ketemu dengan Suliono di Palu. Hanya menyalahkan saya, bahwa paham yang saya ikuti salah." ungkapnya.

Suliono sempat pulang ke kampung halaman saat lebaran. Dalam momen itu, ia sempat berbicara dengan Gus Barok, mengingatkan pertemuannya dulu saat di Palu, dan kemudian mengajak debat agama di hadapan warga.

"Gus Barok saya sudah datang. Janji saya di Palu, ayo kita debat terbuka. Biar dilihat masyarakat. Aqidah saya atau aqidah sampean yang benar." terang Gus Barok mengulang ucapan Suliono.

Video Gus Barok Ungkap Sosok Suliono:



(JPNN)

Editor: Muhammad Iqbal