Billboard Ads

KH. A. Tamamuddin Munji: Pribadi Santri, Ilmu Pengetahuan, dan Aktualisasi Diri di Era Kekinian
Ilustrasi Kehidupan Belajar Santri. Image: fibana.id
Mengapa Para Ilmuwan Banyak yang Tidak Sejalan dengan Prinsip Ilmu Pengetahuannya? ~ KH. A. Tamamuddin Munji
Oleh: Ubaidillah Achmad

ARRAHMAH.CO.ID - Bersamaan dengan perkembangan teknologi ini, telah berkembang ilmu pengetahuan. Namun demikian, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan pula, justru ada banyak upaya ketidakpercayaan terhadap ilmu pengetahuan. Konteks ketidakpercayaan ini terletak pada saat ilmu pengetahuan akan dijadikan dasar pengembangan sistem pembangunan dan kebijakan para penguasa. Selain itu, banyak simpulan ilmu pengetahuan yang terdistorsi oleh kepentingan laten, yaitu kepentingan yang terkait dengan kaum kapital yang selalu menghitung keuntungan materi (materialisme).

Dengan kata lain, masih banyak generasi now yang memiliki semangat menuntut ilmu dan ingin menguasai ilmu dan menguasai penggunaan teknologi, namun bertujuan bukan pada perilaku yang sesuai dengan prinsip ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan hanya menjadi pembuka pengetahuan seseorang. Ilmu pengetahuan telah beralih fungsi untuk melindungi kehendak kuasa di tengah kehidupan sosial politik. Karenanya, ilmu pengetahuan tidah ubahnya sebagai pembuka wacana dan legitemasi kepentingan sesaat (dunia).

Sehubungan dengan latar belakang di atas, penulis teringat pernah diskusi dengan Kiai Tamam. Berikut ini pertanyaan dari beliau yang dilanjutkan dengan jawaban beliau. Hal ini dapat menjadi bahan perenungan bagi para santri dan pendamping anak didik. Berikut pertanyaan dimaksud: mengapa para ilmuwan banyak yang tidak sejalan dengan prinsip ilmu pengetahuannya?

Tentu saja, tidak mudah menjawab pertanyaan ini, sehingga saya lebih memilih mendengarkan jawaban langsung dari beliau.

Dari jawaban dan harapan beliau, masing masing diungkapkan dengan kalimat pendek, namun kemudian penulis kembangkan dengan teori dan pendekatan akademik, sehingga bisa lebih membantu bagaimana kontekstualisasi pesan dan harapan beliau.

Di tengah perkembangan teori dan pendekatan ilmiah, telah banyak yang sudah memahami aspek psikologis, namun masih belum bisa berbuat bagaimana mensikapi problem psikologis, banyak yang memahami makna politik, namun banyak kalangan politisi yang tidak menerapkan tujuan berpolitik yang bermartabat. Selain itu, masih banyak kepribadian yang tidak relevan dengan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Hal ini, tidak terlepas dari kekosongan jiwa dari nilai nilai keutamaan hidup atau kosong dari sikap hidup yang berarti bagi kemanusiaan.

Hidup Tanpa Daya Ilmu Pengetahuan

Sebelum memaparkan jawaban Kiai Tamam pada sub bab berikutnya, penulis akan memulai dengan sebuah pertanyaan, apa yang bisa diharapkan dari hidup ini?

Secara umum, kebanyakan santri akan menjawab dengan dua pertanyaan berikut: pertama, yang bisa diharapkan dari hidup ini, adalah mengikuti ajaran Allah dan RasulNya serta mengikuti pesan dan hikmah dari para Kiai dari tradisi NU. Kedua, untuk mencapai kehidupan dunia dan akhirat membutuhkan Ilmu pengetahuan. Jika disatukan dari kedua jawaban ini, maka akan disimpulkan menjadi arti penting ilmu pengetahuan yang didasarkan pada kesadaran ketauhidan dan kenabian, sebagaimana yang dipahami para santri, sesuai bidang ilmu kalam, fiqh dan ilmu tasawuf.

Ketiga bidang ilmu perspektif santri ini, dapat diringkas menjadi inti ilmu agama Islam, yaitu aqidah, ibadah dan mu'amalah. Dalam perspektif umum, dapat disatukan dengan ilmu ketuhanan, kemanusiaan dan lingkungan. Ketiga ilmu inilah, yang sebenarnya menjadi fundasi ilmu pengetahuan. Karenanya, tidak berlebihan, jika ilmu pengetahuan tanpa ketiga fundasi ini, maka akan menjadi sebuah pandangan ilmiah yang tanpa daya ilmu pengetahuan.

Gambaran ilmu pengetahuan yang kehilangan daya, dapat dilihat dari model ketidakberdayaannya di tengah perkembangan kesadaran hak hak kemanusiaan. Hal ini, telah digambarkan Kiai Tamam, sebagai bentuk ilmu pengetahuan yang tanpa daya di tengah kesadaran kemanusiaan. Hal ini pula akan menggambarkan kondisi ilmu pengetahuan yang tanpa arti dan makna di tengah pendampingan peserta didik.

Setidaknya, sekarang ini, orang tua akan semakin memahami arti penting bagaimana memasukkan putra putri mereka ke lingkungan pesantren atau lembaga pendidikan yang berbasis agama. Hal ini dapat dipahami dari gambaran real atau fenomena yang sekarang ini merusak ilmu pengetahuan.
Berikut ini, beberapa hal yang menyebabkan bangunan ilmu pengetahuan menjadi tidak berdaya: pertama, adanya proses kerja kaum kapital yang ingin menguasai narasi modernitas abad ke-19. Kaum kapital ini, selalu berspekulasi menimbulkan problem yang dianggapnya sah sebagai pengetahuan. Kedua, ilmu Pengetahuan hanya berfungsi spekulatif, yaitu suatu pengandaian (presupposition) sebagai penyebaban (the Life of spirit).

Fungsi spekulasi ini, yang akan menjadi erosi internal dalam prinsip legitimasi sains, karena sains tidak dapat melegitimasi dirinya sendiri sebagaimana diandaikan oleh narasi spekulatif.

Narasi spekulasi ini, yang telah dimainkan oleh mereka yang memiliki kehendak kuasa. Mereka yang memiliki kehendak kuasa ini, juga telah memainkan: antara yang rasional dan yang real dan memainkan lembaga pendidikan seperti sistem sosial dan lembaga pendidikan, yang dimainkan oleh penguasa. Ketiga, konsensus yang bertujuan memanipulasi sistem kekuasaan untuk mempertahankan atau meningkatkan kinerja kekuasaan.

Sehubungan dengan konsensus ini, ada paralogi dan invention. Invention menrupakan bentuk penemuan kehendak sistem kekuasaan untuk meningkatkan efisiensi kuasa. Berbeda dengan invention, paralogi bekerja untuk menciptakan kehendak kuasa melalui ilmu pengetahuan.
Mengawal Relativitas Ilmu Pengetahuan

Sehubungan dengan sub bab di atas, adalah problem yang memunjukkan, bahwa kehendak kuasa itu semakin memprihatinkan dan membahayakan bagi ilmu pengetahuan. Kondisi ini memiliki relevansi seperti yang dikehendaki oleh Kiai Tamam, berupa harapan beliau terhadap kepribadian santri ---era ilmu pengetahuan, agar mampu "mengawal relativitas ilmu pengetahuan."

Harapan ini, yang sebenarnya juga menjadi visi PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah. Penulis, yang juga khadim Pesantren ini, semula memahami, bahwa relativitas ilmu pengetahuan, karena perbedaan hasil temuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang terus silih berganti. Ternyata, setelah mengkaji pandangan beliau ini, ada sistem kekuasaan yang lebih menentukan terjadinya relativitas ilmu pengetahuan. Sistem kuasa ini, yang selalu menjadi sumber analisis teori sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Termasuk, sistem kuasa penggunaan teknologi modern.

Harapan Kiai Tamam terhadap kepribadian santri era ilmu pengetahuan ini, karena adanya relativitas tidak hanya terjadi pada ilmu pengetahuan, namun juga ada relativitas moral. Artinya, adanya kedua relativitas ini, jika tidak membentuk kepribadian yang kokoh pada santri, maka akan membuat santri tidak berkarakter dan mudah di gilas roda relativitas ilmu pengetahuan dan moral setiap masyarakat yang berbeda beda. Belum lagi, yang dikhawatirkan Kiai Tamam, jika para santri sudah mengabaikan prinsip yang harus di sepakati dan dipertahankan dalam tradisi pesantren, yaitu prinsip as'arian, madhabian arba'ah, dan Junaidian-Ghazzalian. Karenanya, beliau berharap kepada para pengelola pesantren, agar gigih membentuk kepribadian santri sesuai dengan prinsip keutamaan yang disepakati para Ulama NU.

Jika pesantren tidak mendidik kepribadian santri dengan konsep yang memiliki tolok ukur moral dan kemanusiaan yang berlaku global ----seperti tiga prinsip di atas, maka akan muncul banyak konflik pemahaman yang berkembang di lingkungan umat Islam dan warga negara. Mengapa? karena warga NU adalah mayoritas, maka akan berpengaruh pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, tanpa prinsip yang berlaku global, maka akan sering terjadi konflik atas nama agama, yang pada gilirannya akan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas yang berlaku universal.

Nilai yang berlaku universal ini pun, sebenarnya sangat diperlukan di kalangan tradisi pemikiran modern, karena semua memerlukan prinsip yang berlaku umum, meskipun dianggap sebagai nilai yang kolot dan perlu dicurigai. Konsep yang mengakar ini pada gilirannya akan memudahkan warga negara memahami prinsip keutamaan yang benar yang sesuai dengan koredor yang benar. Dengan demikian, akan dapat membendung konflik agama dan budaya, sehingga tidak berdampak pada konteks kemanusiaan.

Ubaidillah Achmad, penulis Buku Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng, sekarang ini berkhidmah di PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah.