Billboard Ads

Oleh: Ubaidillah Achmad

Dinamika sosial dan era globalisasi berkembang sangat cepat. Hal ini dapat mempengaruhi kondisi budaya lokal masyarakat dan menjadikan semua budaya terintegrasi dengan budaya global. Integrasi kebudayaan menjadi budaya global ini merupakan realitas yang tidak dapat dihindari dan akan saling menguatkan antara satu budaya dengan yang lain. Budaya global akan berdampak positif dan negatif. Dampak positif budaya global, yaitu adanya upaya masyarakat yang masih mempertahankan nilai kemanusiaan dan lingkungan hidup. Sedangkan, dampak negatif dari budaya global, adalah adanya dorongan teknologi post industri era ini.

Teknologi post industri menandai kehadiran masyarakat atau masyarakat modern (MM). Masyarakat modern merupakan masyarakat yang mengubah kehidupannya melampaui zaman sebelumnya. Dalam pandangan Giddens (1990), seperti dikutip oleh Ritzer, tipologi masyarakat yang seperti ini, seperti mesin yang berlari dengan tenaga yang sangat besar dan akan menggilas siapapun yang menahannya.

Ibarat sebuah mesin, jika manusia tidak dapat mengendalikan dengan baik, maka kita tidak akan aman dari resiko penggunaan mesin. Karenanya, jika mesin sudah menjadi alat kaum kapitalistik, maka akan muncul hasrat penggunaan mesin untuk pemanfaatan sosial, politik, teknologi, dan media komunikasi. Yang dimaksud hasrat, adalah selera yang menggebu dan mrnekan rasa kagum, dan idealis yang terkait dengan keinginan untuk memiliki (to have) dan memenuhi kepuasan diri.

Hasrat sudah mengisi sejarah umat manusia. Para Nabi, Walisongo dan Kiai Cebolek, telah hadir untuk menata hasrat manusia zamannya. Hasrat menjadi dasar berkehendak, berfikir, dan merefleksikan kasih sayang, antar manusia dan Allah, dan manusia dengan lingkungan hidup. Hasrat, juga dapat menjadi dasar sikap negatif manusia. Hasrat dapat merubah keinginan menjadi kebutuhan (need) dan mendasari keberlanjutan produksi libidonomics ----pangkal kegairahan, kepuasan, citra diri, pengorbanan yang merusak lingkungan lestari, dan mendorong berbuat tidak baik (nafs al amarah bissu').

Kondisi hasrat di atas akan melahirkan perilaku yang tidak mau mengerti dan menyadari apa yang menjadi tanggung jawab manusia terhadap alam semesta. Bermula dari hasrat, akan terjadi banyak penyimpangan moral, situasi paradok, sikap kegilaan masyarakat modern. Bagaimana kehadiran KH. A. Tamamuddin Munji menjawab persoalan hasrat dan budaya global?

Mbah Tamam Membumikan Khazanah "Ghazzalian"

Dalam sub ini, penulis akan memaparkan kisah pendek waktu masih bersama beliau. Pernah suatu ketika, saya mendapat tugas dari beliau untuk mewakili mengajar kitab Kifayatul Atqiya'. Sepontan penulis menolak, karena terlalu berat bagi penulis, namun karena sudah mendapatkan kunci pemahaman dari beliau, akhirnya penulis memberanikan diri menyampaikan kajian kitab ini kepada siswa/i Madrasah Aliyah MMF Njumput-Sidorejo Pamotan, bersebelahan dengan PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah.

Sebelum penulis mengajar, penulis dipesan muara dari karya sufi dikalangan Sunni, adalah bagaimana membumikan khazanah Ghazzalian. Imam Ghazzali berhasil menghadirkan modeling sufistik yang bersumber dari pesan para sufi agung pasca wafat Nabi Muhammad, agar santri dan pengikut beliau tidak menjadi santri yang berhasrat rendah, bersifat al-ammarah bi al-su’),

Beberapa contoh hasrat rendah: jatuh pada ‘ilusi’, realitas ‘palsu’, membanggakan diri (the culture of narcissism), selalu mencari ketenaran diri, ingin dimuliakan, sikap dan tindakan jahat, tidak pernah terpuaskan, cepat merasa bosan, selalu mencari kepuasan.

Dalam upaya menghindarkan diri dari sifat rendah di atas, pesan Mbah Tamam merujuk kitab kifayatul atqiya', agar setiap manusia melakukan transformasi diri, dari hasrat yang rendah menuju hasrat yang lebih tinggi. Hasrat yang lebih tinggi akan ditandai dengan kehendak yang tenang (nafs al muthmainnah), kehendak yang penuh kerelaan (nafs al radliyyah), kehendak sesuai dengan kejernihan berfikir dan terbuka terhadap setiap intrik dan gesekan sosial-budaya (nafs shafiyah), memasukkan kehendak yang bersifat manusiawi pada arus besar kehendak Allah Jalla Jalaluhu.

Model model hasrat yang tinggi ini, adalah pengertian yang bersifat normatif, yang dapat ditemukan dalam kitab kifayatul at qiya', yang dapat dikatakan sebagai karya yang menguatkan pengaruh sufistik sunni. Jika dipahami secara kontekstual, model hasrat yang tinggi ini akan bertentangan dengan berbagai paradok masyarakat postmodern, yang bersifat dualistik, ekstrimitas. Hal ini, yang menjadi alasan, mengapa justru di tengah masyarakat modern dan postmodern banyak yang mengalami kegelisahan? jawabannya sangat sederhana, karena mereka ini kurang memahami bagaimana mengendalikan pertumbuhan hasrat itu sendiri.

Kegelisahan masyarakat tanpa melakukan upaya transformasi ini, akan menemukan banyak masalah dan nestap kemanusiaan, seperti teror, konflik, kekerasan, penculikan, pembunuhan yang menghiasi keseharian hidup. Dalam kondisi nestapa manusia ini,  akan ada masalah baru yang tidak relevan dengan peran agama, namun justru menyalahkan atau menuduh agama sebagai ajaran eksklusif dan dogmatik. Meski demikian, penulis diingatkan melalui pesan beliau, "pada zaman akhir, justru akan terjadi kebangkitan spiritual yang mendamaikan hati di tengah keragamaan dan keragaman," Pesan ini dapat ditemukan pada kitab Kifayatul Atqiya' dan pandangan sufistik Ghazzalian, yang dekat dengan ajaran Al Muhasibi dan Al Ghazzali.

Sebagaimana pesan yang disampaikan oleh Mbah Tamam, pendidikan akhlak meliputi akhlak al karimah yang dapat dikaji melalui pendekatan vertikal dan akhlak karimah yang dikaji melalui pendekatan horizontal. Secara vertikal, manusia dapat melakukan keberlangsungan ibadah kepada Allah dengan semangat istiqamah, melalui jalan taubat, zuhud, istighfar, ibadah sunnah dan wajib, bersedekah, membaca aurat dan shalawat. Selain itu, beberapa manusia akan mengalami ahwal sebagai bentuk puncak kesadaran yang dibangun melalui maqamat. Dalam pandangan Al Ghazzali, ahwal ini bisa diterima melalui hidayah atau cahaya kenabian yang sudah direstui Allah Jalla Jalaluhu.

Secara horizontal, berupa sikap yang baik dan ramah dengan lingkungan hidup. Misalnya, berpegang pada etika hidup yang harmoni antar sesama umat manusia dan lingkungan hidup yang lestari. Aspek horizontal dipengaruhi oleh aspek vertikal. Artinya, jika aspek vertikal terjaga dengan baik, maka secara otomatis akan mempengaruhi aspek horizontal untuk berjalan secara baik. Sebaliknya, jika seseorang belum mendapatkan anugrah dari Allah yang dapat dikaji secara vertikal, maka seseorang akan kebingungan melaksanakan relasi yang bersifat horizontal.

Ubaidillah Achmad, penulis Buku Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng, khadim PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah.