Billboard Ads


Oleh: Ubaidillah Achmad

ARRAHMAH.CO.ID - Para santri dan Masyarakat Rembang, sebentar lagi akan mengukir lebih mendalam lagi pengalaman sufistik Mbah Syahid melalui haul beliau, yaitu pada tanggal 4 april 2018/ 17 rojab 1439. 

Tentu saja, kesempatan merenungkan kematangan pengalaman sufistik beliau bisa dilakukan santri kapan pun, termasuk di "Sarean Beliau". Yang menarik dari haul ini, akan ada kegiatan silarrahim para santri yang akan mengisi acara haul ini dan pengajian akbar, bertujuan untuk mengharapkan rahmat Allah, mengukir dan memetik cakupan makna katauhidan serta makna kehidupan yang diajarkan Mbah Syahid kepada para santri dan masyarakat.

Banyak cakupan makna yang diajarkan oleh Mbah Syahid, baik terkait dengan prinsip ketauhidan dan prinsip kehidupan, namun berikut ini, akan disampaikan secara spesifik ajaran Mbah Syahid yang penulis petik dari kehadiran beliau membawa cahaya Allah dan cahaya kenabian selama masih secara langsung membimbing penulis di Pesantren Kemadu. Spesifikasi judul ini untuk membatasi banyaknya pembahasan tentang ajaran yang disampaikan beliau. Berikut di antara hikmah dan kekhasan yang menarik, yang dapat penulis paparkan dalam tulisan ini:

Mempertanyakan Kuasa Ilmu Pengetahuan

Dalam abad modern ini, ilmu pengetahuan dan teknologi sudah tidak berdaya di hadapan para penguasa dan pemodal. Sekarang ini, ilmu pengetahuan dan teknologi dicari-cari oleh penduduk bumi, namun pada saat kehendak kuasa individu muncul, maka ia menjadi tidak berfungsi dan tidak menggerakkan nilai keutamaan yang terkandung atau tidak menggerakkan psikis para ilmuwan yang mempercayainya. Artinya, ilmu pengetahuan dan teknologi sudah tidak berdaya di hadapan para pemangku kepentingan kehendak kuasa.

Mengapa terjadi demikian? karena ilmu pengetahuan telah bercerai berai dari sumber prinsip kebenaran dan bercerai dari tujuan keberadaan sebuah ilmu pengetahuan yang ditemukan manusia. Dari kondisi ilmu pengetahuan yang seperti ini, saya teringat pesan Mbah Syahid saat pertama diantarkan orang tua untuk belajar kepada Beliau, "tujuan mondok kuwi nyantolke ilmune ono ing ngersane gusti Allah, sehingga kalau mondok kudu ngerti cantolane ilmu lan piye nyantolke ilmu sing pas".

Berikut cakupan makna yang dapat penulis petik dari hikmah pesan Mbah Syahid di atas, "tujuan seseorang menuntut ilmu itu, supaya dapat meletakkan dengan tepat pada dinding di atas fundasi ketauhidan dan ketaqwaan kepada Allah. Karena, jika seseorang ingin menuntut ilmu di pesantren, maka harus mengenal terlebih dahulu prinsip ketauhidan dan ketaqwaan (cantolane ilmu) dan bagaimana cara mengartikulasikan ilmu dan mengamalkan ilmu di tengah setiap zaman yang akan dihadapi para santri."

Lanjut Mbah Syahid, "opo sebabe ana wong pinter keblinger?, ini kerona ora nyantolke ilmune sing bener, malah nguda angkara sing metu sangka nafsune. Mula Sing tenanan yen nyantolke ati  lan nali ilmune, ben ora kocar kacir." Setelah pesan ini, beliau memerinthakan kepada penulis, "kono nyerawung lan kekancan ambek kancane, sing rukung lan sing tekun."

Berikut cakupan makna yang dapat penulis petik dari hikmah pesan Mbah Syahid di atas, "mengapa ada orang pintar yang mengalami ----kesakitan akal dan pikirannya--- kebingungan melihat arah kehidupan ini? hal ini karena, mereka yang "keblinger" tidak mau tahu bagaimana meletakkan ilmu pada dinding di atas fundasi kebenaran Allah untuk kemaslhatan perjalanan hidup yang sementara di dunia ini.

Sebaliknya, mereka yang "keblinger" justru mengikatkan ilmu pengetahuannya dengan nafsu yang mendorong kepada keburukan sikap dan perilakunya. Karenanya, menuntut ilmu harus bersungguh sungguh mengikatkan ilmunya pada sumber kebenaran dan prinsip keutamaan. Dengan demikian, ilmu yang dimiliki seseorang tidak tercerai berai, tumpah rata di jalanan. Hal yang tidak boleh diabaikan, adalah bagaimana manusia tetap menjalani kehidupan selalu bersahabat dengan mereka yang bersabar mengarungi bahtera kehidupan untuk mendapatkan rahmat Allah.

Merenungkan Hikmah Pesan Mbah Syahid

Apa yang terjadi, sekarang ini, di tengah perkembangan ilmu pengetahuan? pertanyaan bukan sebuah pertanyaan yang mengada ada, karena secara real banyak yang merasakan hidup bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Apakah pertanyaan ini merupakan bentuk sikap psimis? saya kira, sudah banyak kita temukan kondisi perkembangan ilmu pengetahuan yang bercerai dengan prinsip kebenaran.

Ilmu pengetahuan menjadi tempat berteduh manusia modern, namun banyak terik panas dan deras hujan yang menjadi pilihan musim, yang sama sama ditakutkan manusia. Manusia tidak puas terhadap musim hujan dan menolak pemanasan global. Ironisnya, ilmu pengetahuan dan teknologi justru menambah sedih umat manusia dan meninggalkan ketauhidan dan kemanusiaan. Ilmu pengetahuan menjamin kebenaran yang berlaku universal, namun tidak mampu menjamin kepercayaan hidup yang lestari.

Dari pesan Mbah Syahid di atas, penulis telah mendapatkan pemahaman, berupa prinsip keutamaan berikut:

Pertama, dalam menuntul ilmu jangan mengabaikan sumber kebenaran yang mendasari semua ilmu pengetahuan, yaitu Allah. Prinsip ketauhidan ini, sudah mengisi ruang sejarah kesemestaan dan umat manusia, sehingga sudah tidak bisa dielakkan lagi, bersifat universal. Namun demikian, seseorang yang menuntut ilmu perlu memberikan apresiasi terhadap pandangan teman sezaman, baik di lingkungan pesantren maupun di luar pesantren.

Dengan kata, pencari ilmu pngetahuan perlu belajar dan memahami aneka macam pengetahuan yang didapatkan di tengah lingkungan pembelajaran dan di luarnya. Selain itu, perlu memahami sistem pemikiran yang plural yang berkembang di tengah pemikiran manusia.

Kedua, sesungguhnya pengetahuan itu dapat dipetik dari sebuah fenomena dan gejala alam yang muncul serta mengiringi mereka yang mau belajar ilmu pengetahuan.

Ketiga, di zaman sekarang ini, banyak manusia yang "keblinger", yaitu yang menjadikan ilmu pengetahuan sudah tidak lagi menjadi tujuan pada dirinya sendiri dan sekarang menjadi komoditas untuk diperdagangkan. Hal ini, karena banyak yang mengabaikan cara para Ulama untuk memperoleh pengetahuan, yakni dengan mengharap rahmat Allah dan melatih riyadlah, telah menjadi usang. Relasi antara guru dan mereka yang akan berjalan sesuai dengan prinsip keilmuan, sudah mirip seperti relasi antara produsen dan konsumen terhadap komoditas.

Keempat, pengetahuan menjadi barang rebutan para pemodal, penguasa dan kelompok kepentingan. kebenaran ilmu pengetahuan sudah dimainkan oleh kepentingan politik. Hal ini, sudah sulit dikontrol lagi, karena para ilmuwan pun berbondong bondong menjadi "tukang" ilmu, yang akan membangun rumah ilmu untuk diperdagangkan kepada konsumen. Akhirnya, ilmu pengetahuan seperti sirkulasi uang. Distingsi yang relevan bukan lagi antara “pengetahuan” dan “ketidaktahuan”, namun  berubah menjadi penjual ilmu pengetahuan dan investasi ilmu pengetahuan.

Dalam hal ini, yang lebih membahayakan, adalah apabila para ilmuwan bidang ilmu pengetauan menentukan sejumlah persyaratan dan yang bertindak sebagai penimbang kebenaran ilmiah, adalah lingkaran yang diakui kelompok yang berkuasa (power). Akhirnya, dapat dirasakan kegelisahan mereka yang menjaga marwah ilmu pengetahuan untuk kepentingan kemanusiaan dan peradaban.

Ubaidillah Achmad, penulis Buku Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng, sekarang ini berkhidmah di PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah.